Skip to content

Justice League: The Snyder Cut

Film Justice League adalah sebuah film yang memiliki sejarah panjang.

Ketika Christopher Nolan menyelesaikan visinya menggarap trilogi Batman melalui The Dark Knight Rises, DC sudah menyiapkan sebuah universe guna menghadapi MCU, yang kala itu baru selesai dengan kulminasi Phase 1: The Avengers.

DC mendapuk Zack Snyder sebagai orang yang akan menjadi nahkoda bagi DCEU (DC Extended Universe). Pelan tapi pasti para aktor pun dicasting. Setelah Henry Cavill menjadi Superman di Man of Steel, Gal Gadot dan Ben Affleck pun dicasting menjadi Wonder Woman dan Batman, ditambah kemudian nantinya Ezra Miller, Jason Momoa, serta Ray Fisher pun masuk dalam deretan casting. Harapannya adalah, DC bisa mempersatukan semua karakter ini dalam film ala The Avengers: Justice League.

Akan tetapi misi dari DC ini menjadi berantakan karena timeline yang mereka acak-acak sendiri. Setelah Man of Steel dirilis di tahun 2013, mendadak saja ada jeda sepanjang nyaris 3 tahun sebelum film berikutnya: Batman v Superman dirilis. Proyek Man of Steel 2 dan film solo Batman kemudian hilang dari radar dan digantikan langsung pertemuan kedua sosok ikonik DC ini (ditambah dengan bonus cameo Wonder Woman).

Timeline makin kacau setelah kurang suksesnya Man of Steel dan Batman v Superman. Film Justice League yang seharusnya dibagi menjadi dua bagian dipangkas menjadi satu bagian saja. Lebih tragis lagi adalah kematian dari anak Zack Snyder karena bunuh diri saat syuting Justice League tengah dilakukan, Snyder pun mundur dan film Justice League diselesaikan oleh Joss Whedon. Hasilnya divisif. Beberapa orang bilang lumayan, lebih banyak lagi yang tidak suka. Akhirnya film itu pun gagal di pasaran.

Beberapa fans vokal dari Zack Snyder bagaimanapun juga, tidak menyerah dan menyatakan ingin visi dari Snyder tersampaikan. Mereka ingin Justice League: The Snyder Cut. Sesuatu yang serupa pernah diciptakan oleh DC melalui Batman v Superman di versi Home Theater yang membuat filmnya konon lebih baik.

Selama beberapa tahun proyek ini dianggap tidak serius, sebelum dengungnya makin menguat. And behold, di tahun 2020 lalu Warner Bros menyatakan akan menggelontori Justice League dana 70 Juta USD untuk membuat sebuah Justice League: The Snyder Cut yang berdurasi EMPAT jam. Itu DUA jam lebih panjang dari durasi versi Joss Whedon! Warner Bros juga menyatakan film ini akan muncul di HBO Max, layanan streaming milik mereka yang diposisikan menghadapi Disney+ dan Netflix.

So how is it?

Jalan cerita dari Justice League: The Snyder Cut praktis masih sama dengan versi Joss Whedon. Tiga Mother Box bangkit memanggil Steppenwolf untuk datang ke dunia. Para superhero dunia ini (tanpa Superman yang sudah mati) harus menghentikannya – sebab bila tidak dunia akan dikuasai oleh sang penguasa Apokolips: Darkseid.

Satu hal yang langsung terasa di film ini adalah waktu untuk bernafas. Karena durasi film ini empat jam, Snyder bisa dengan santai (agak terlalu santai) memperkenalkan karakter-karakter di dalam film ini terutama Aquaman, The Flash, dan Cyborg yang pertama kali keluar. Mengingat Aquaman sudah muncul via film stand-alone-nya di tahun 2018 lalu, saya sudah cukup familiar dengan dirinya dan tingkah laku antik Jason Momoa.

Jadi mari kita pusatkan perhatian kepada The Flash dan Cyborg. Saya pribadi merasa bahwa akting dari Ezra Miller dan Ray Fisher masih agak kaku untuk keduanya. Ezra Miller berusaha terlalu keras tampil lucu dan melawak begini begitu sehingga penampilannya terasa cringey. Ada momen di mana kelucuannya memang sukses lucu – tetapi di sisi lain ada juga momen di mana ia tak kelihatan lucu. Saya pribadi masih lebih suka Grant Gustin – but I’m willing to give Ezra Miller a chance. Satu hal yang menarik adalah bagaimana Snyder memoles sebuah momen The Flash yang sangat – sangat keren di dalam film ini. Orang kerap menyangka The Flash itu padanan dari Quicksilver di MCU. Oh boy, how wrong they are. The Flash jauh lebih dahsyat daripada seorang Quicksilver – dan film ini menunjukkan kenapa.

Dan karakter yang paling banyak terlibat kontroversi dengan DC: Cyborg alias Victor Stone juga banyak mendapatkan kisahnya di sini. Sekali lagi bagi saya Ray Fisher di sini tampil terlalu kaku (mayoritas emosi yang dia tampilkan di sini adalah marah) tetapi emotional arc dalam ceritanya jauh lebih mengena ketimbang apa yang ditawarkan oleh Joss Whedon melalui Justice League versi-nya.

Mereka yang mengatakan kalau film DC karya Snyder itu dark perlu menonton film ini. Because… it isn’t. Komplain terbesar penonton melalui Man of Steel dan Batman v Superman adalah kenapa Superman membunuh dan kenapa semua humor di Batman v Superman begitu garing dan semuanya begitu serius ingin bunuh-bunuhan. Setelah dua kali menyutradarai film DC seperti itu di dalam film ini Snyder actually… tried to lighten up a lot of the movie. Film DC kali ini tak terasa terlalu gelap karena Ezra Miller yang konstan melawak (yes it’s cringey – tapi juga sukses membuat keadaan lebih santai). Dan di sini para karakter superhero DC are actually doing heroic things. Tidak ada lagi Wonder Woman yang menunggu sampai detik-detik terakhir baru datang membantu melawan Doomsday. Semua para superhero (dengan pengecualian seorang Cameo) turun tangan habis-habisan. And I’m happy with that.

Snyder selalu merupakan Master dari adegan-adegan Aksi dan kepiawaiannya itu dia tunjukkan di sini. Saya menghitung ada tiga Highlight aksi di film ini: pertama adalah saat para petarung Themyscira berusaha menghentikan Steppenwolf, kedua saat Superman berhadapan dengan Justice League, dan yang ketiga adalah pertarungan terakhir di klimaks film. Those are all great fights, dan saya bersyukur Snyder punya kesempatan mewujudkan visi nya di layar lebar.

Pada akhirnya, Justice League: The Snyder Cut bukan film sempurna tapi merupakan huge improvement ketimbang versi dari Joss Whedon. Selamat.

Score: 8.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: