Skip to content

Legend

Saya pertama kali kenal dengan Marie Lu setelah membaca buku Young Adult yang ia tulis: Batman – Nightwalker. Walaupun bukan merupakan buku favoritku, tulisan Marie Lu tentang sang Bruce Wayne muda cukup menggaet atensiku. Dari sana saya jadi tahu mengenai buku trilogi yang ditulis oleh Marie Lu yang membuat ia dilirik oleh perusahaan DC menulis untuk Batman, dan itu adalah trilogi buku Legend. Saya pun memutuskan untuk membaca trilogi ini mulai dari buku pertamanya. So how good is it?

Buku Legend bersetting di masa depan yang tak terlalu jauh dari realita kita sekarang, di mana dunia sudah mengalami perubahan karena pemanasan global. Gara-gara itu, peta politik kekuatan dunia berubah. Amerika yang tadinya adalah satu negara kini terpecah menjadi dua negara: Republic of America di sisi barat yang berperang dengan Colonies of America di sisi kiri. Buku pertama ini bersetting di Republic of America, melalui sudut pandang dua karakter: Day dan June.

Day adalah kriminal yang paling dibenci oleh Republic of America karena kelakuannya yang badung dan suka menantang otoritas. Ini disebabkan ROA bukan lagi negara demokrat seperti Amerika jaman sekarang, melainkan sudah transformasi menjadi negara diktator, mirip sekali dengan Korea Utara. Day sendiri membenci pemerintahan ROA dikarenakan sistem ROA tidak adil kepada rakyat kecil. Untuk menempatkan para penduduk di dalam kasta masing-masing, ROA selalu mengadakan tes kepada semua penduduknya, mereka yang mendapatkan nilai rendah akan mendapatkan pekerjaan kasar sementara mereka yang nilainya semakin tinggi akan mendapatkan pekerjaan makin bergengsi. Day bukan sekedar mendapat nilai rendah, dia gagal dalam tes, dan itu artinya nasibnya adalah dihabisi oleh pemerintahan. Day sanggup meloloskan diri dan semenjak itu menjadi duri dalam daging ROA.

Sudut pandang satunya adalah dari June, satu-satunya murid jenius yang mampu mendapatkan nilai sempurna dari tes di ROA. Ini membuat June menjadi gadis paling tersohor, seorang Prodigy. June pun cukup bandel dan tak pernah mau tunduk kepada aturan ketat ROA. Tetapi tingkah polah June yang nakal ini semuanya berubah menjadi serius saat kakak dari June terbunuh oleh Day. Ini menempatkan Day dan June dalam konfrontasi langsung. ROA yang sudah muak dengan kelakuan Day menugaskan June selaku sosok terjenius di pemerintah untuk menangkap Day. Bisakah June menangkap Day? Bisakah Day meloloskan diri dari kejaran June? Dan kenapa Day – yang biasanya tak pernah membunuh orang dalam tindak kriminalnya – sampai melakukan hal seserius ini?

Di antara semua buku Young Adult yang belakangan saya baca, Legend dari Marie Lu ini terbilang paling ringan. Saya merasa sangat santai membaca dari satu halaman ke halaman lainnya. Sosok Day dan June tidak merupakan sosok yang terlalu kompleks sehingga mudah untuk memahami apa yang ada di balik mereka dan membayangkan apa yang hendak mereka lakukan di situasi-situasi tertentu. Pilihan kata-kata dari Marie Lu pun terbilang cetek sehingga mereka dengan kemampuan Inggris yang biasa-biasa saja tak harusnya kewalahan memahaminya.

Mudah untuk menebak kenapa Marie Lu bisa menulis kisah seperti Legend mengingat ia lahir di Cina dan meloloskan diri dari negara tersebut bersama orang tuanya dalam tragedi Tian An Men di tahun 1989. Bahwa Marie Lu kemudian menuliskan kisah di mana ROA mirip dengan Cina di masa tirai bambu dulu bukan kebetulan sepertinya, ia pasti kerap diceritai oleh kedua orang tuanya mengenai horor hidup di sebuah negara macam Cina dulu. Unik juga bagiku untuk membaca Legend di tahun 2021 – 9 tahun setelah ia dipublikasikan sebab refleksi politik di dunia sekarang justru sangat mirip dengan Legend. Ketika Legend dirilis di tahun 2012, membayangkan sebuah Amerika yang terpecah menjadi dua sepertinya sulit. Di jaman sekarang, terutama setelah pemilu Amerika yang sangat keras dan brutal? Hal tersebut sepertinya tak menjadi fantasi belaka.

Legend ditutup dengan sebuah cliffhanger yang menggantung di buku kedua, dan menjanjikan perubahan dinamika hubungan dari Day dan June. Kalau kalian suka dengan kisah Dystopian yang ringan tetapi solid, buku ini wajib kalian baca. Tidak ada konsep baru yang sebenarnya diperkenalkan Lu di dalam novel ini, tetapi apa konsep yang ada di dalamnya, semua ia tumpahkan dengan baik. She didn’t invent the wheels, but she didn’t break it either.

Score: 8.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: