Skip to content

Godzilla vs Kong

Setelah dua film Godzilla dan satu film Kong, akhirnya kedua raksasa ini bertemu juga dalam film Godzilla vs Kong.

Proyek Monsterverse ini dimulai di tahun 2014 saat Gareth Edwards merilis film Godzilla. Film tersebut tidak sukses-sukses amat di Box Office, tetapi karena pendapatan internasionalnya yang cukup tinggi membuat studio Warner Bros dan Legendary percaya diri dengan niat mereka melanjutkan Monsterverse ini.

Cinematic Universe ini kemudian berlanjut dengan Kong: Skull Island di tahun 2017 yang tak kalah sukses dari Godzilla – menunjukkan kalau animo penonton untuk film ini memang ada. Sayangnya, animo itu seakan menurun saat Godzilla: King of Monsters dirilis pada tahun 2019 kemarin. Film tersebut hanya mampu pas-pasan mengembalikan modal.

Penonton – bagaimanapun – tak perlu takut, sebab Warner Bros sudah kadung memberi lampu hijau untuk crossover Godzilla vs Kong sebagai kulminasi dari Monsterverse ini. Sedianya ditayangkan di tahun 2020, film ini mengalami penundaan hingga Maret 2021 dikarenakan Pandemik COVID-19, sebelum akhirnya diputuskan untuk ditayangkan secara bersamaan di layar lebar dan layanan streaming HBO Max. Dan hasilnya?

Sebelum masuk ke review film ini sekedar sedikit refreshing: di akhir film Godzilla yang kedua, sang Kadal Raksasa sukses menjadi Raja para Monster (Titan). Semua sujud kepadanya dengan pengecualian Kong, yang masih berdiam di Skull Island. Mayat dari King Ghidorah yang dibunuh oleh Godzilla kemudian dibeli di Pasar Gelap – entah oleh siapa.

Film ini pun dibuka dengan sebuah serangan yang mengejutkan dari Godzilla. Serangan brutal sang Kadal Raksasa kepada perusahaan APEX membuat dunia kembali benci kepada Godzilla. APEX selaku perusahaan teknologi terkemuka meminta tolong kepada Kong – satu-satunya Titan yang tak mau menyembah Godzilla – untuk menghantarkan mereka kepada Hollow Earth, tempat di dalam inti yang bumi yang juga merupakan asal dari para Titan.

Tujuan APEX adalah untuk mendapatkan sebuah material misterius yang bisa mereka gunakan untuk melawan Godzilla – andaikata sang Monster memutuskan untuk tak lagi melindungi manusia seperti saat ia menyerang APEX. Perjalanan anggota APEX dan Kong ke Hollow Earth tidak mudah sebab Godzilla merintangi jalan mereka. Tetapi kenapa sebenarnya Godzilla ingin menyerang APEX tanpa sebab? Apakah memang sekarang Godzilla sudah menjadi haus kuasa? Ataukah ada alasan tertentu yang belum diketahui?

Ketika film Godzilla vs Kong diumumkan menjadi kulminasi dari Monsterverse, saya yakin banyak pihak kegirangan. After all, ini adalah dua monster yang paling terkenal di muka bumi. Setelah Godzilla mengalahkan King Ghidorah, praktis musuh yang bisa ia hadapi tinggallah sang Raja Kera saja. Cerita? Siapa yang peduli dengan cerita? Ya kan? At the end, kalau kamu mengharapkan sebuah film tentang dua Beast bengis yang saling hantam, kalian akan mendapatkannya di sini.

Saya melihat Adam Wingard selaku sutradara film ini pintar mengambil sisi protagonis cerita. Ketimbang membagi rata porsi spotlight kepada Kong dan Godzilla, ia lebih banyak berfokus pada cerita Kong. Saya tak menyalahkannya, after all Godzilla sudah punya dua film tunggal untuk mengeksplorasi ceritanya sementara Kong baru punya satu – dan itu pun berasal dari beberapa dekade sebelumnya. And let’s admit it, Kong was always the more sympathetic among the two.

Saya juga suka bagaimana Wingard menggambarkan Kong lebih sebagai underdog dalam pertarungan ini. Tidak percaya? Coba simak shot-shot dalam film ini: Wingard selalu mengambil sebuah sisi shot gambar yang menunjukkan Godzilla sebagai raksasa dengan obyek-obyek di sekelilingnya. Sebaliknya, mayoritas shot Kong dilakukan di mana ia tampak lebih ‘kecil’ ketimbang obyek di sekelilingnya. Hasilnya, ketika kedua musuh ini bertemu secara frontal di layar, Kong terlihat lebih kecil ketimbang Godzilla – walau ukuran keduanya hampir sebanding. Akan tetapi saya tak mau spoiler mengenai siapa yang menang antara Kong melawan Godzilla, saya hanya mau berkata bahwa kalian tak perlu khawatir. Film ini tidak melakukan cop out, there is ONE CLEAR WINNER from the duel.

Menilik kembali empat film Monsterverse yang ada, Godzilla vs Kong bukanlah film yang terbaik di mata saya. Ada beberapa bagian yang terasa terlalu dragging di film ini, terutama pada momen-momen Millie Bobby Brown melakukan investigasi, sementara klimaks film ini terasa agak kurang habis-habisan buatku. Tetapi tenang saja, baik kamu merupakan fans dari Kong ataupun Godzilla, kedua monster favorit kalian itu diperlakukan dengan hormat dan respek oleh Wingard di sini. Kong: Skull Island akan tetap menjadi entri favoritku di Monsterverse, tetapi Godzilla vs Kong layak masuk ke dalam peringkat keduanya. Enjoy the feast, monster lovers!

Score: 7.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: