Skip to content

Until Dawn

Di tahun 2015 Supermassive Games merilis sebuah game Horor berjudul Until Dawn. Game ini tak disangka-sangka menjadi sebuah Hit besar bagi Playstation 4 dan mendorong Supermassive Games merilis game dengan tema yang sama, sebuah antologi bernama The Dark Pictures dengan total delapan game. Apa formula dari Until Dawn yang membuatnya begitu sukses?

Apabila kamu pernah bermain game The Walking Dead dari Telltale Games atau Life is Strange dari Dontnod Entertainment maka kamu akan cukup paham mengenai bagaimana memainkan Until Dawn. Ketimbang sebuah game, ia lebih bersifat seperti sebuah interactive movie, yang lebih banyak memberi kendali ke tangan pemain melalui keputusan-keputusan yang bisa mereka ambil.

Kisah dalam Until Dawn berawal bak sebuah kisah klise Horor-Horor kebanyakan. Dalam Prolog dua orang gadis hilang (terbunuh?) saat sedang berlibur ke Pegunungan bersama dengan kawan-kawan mereka – karena mereka adalah korban Prank. Setahun memperingati kematian kedua gadis ini, kedelapan kawan yang tersisa kembali lagi ke Pegunungan yang sama untuk mengenang persahabatan mereka sekaligus setahun perayaan misteri hilangnya kedua gadis.

Tetapi hal-hal yang aneh mulai terjadi dan membuat kedelapan kawan ini bertanya-tanya, bisakah mereka tetap bertahan hidup sampai subuh esok hari?

Game ini terbagi menjadi sepuluh chapter dan awalnya agak membingungkan. Karena delapan karakter secara simultan diperkenalkan sekaligus saya kebingungan mengenai siapa-siapa saja mereka. Baru memasuki Chapter keempat dan kelima saya mulai bisa membedakan siapa-siapa saja mereka. Tidak membantu adalah beberapa karakter nampak sangat mirip satu sama lainnya dan kadang hilang untuk beberapa chapter hanya untuk nongol di chapter-chapter belakangan.

Toh setelah saya mulai familiar dengan karakter-karakter yang ada, the fun does begin. Sebagai gamer kita mulai dibuat bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya tengah terjadi. Ada sebuah plot twist yang – walau sudah tertebak kalau kamu merupakan penggemar film genre horror – tetap merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan yang mampu menutup pertanyaan-pertanyaan di benakku saat bermain di chapter-chapter sebelumnya.

Supermassive Games juga memiliki balance yang baik untuk menyeimbangkan aspek Jump Scare di dalam game ini dan Atmospheric Horror di dalamnya. Terjebak di sebuah Gunung saat musim salju memberi kesan klaustrofobik tersendiri, dan adanya sosok atau entitas yang memburumu di tengah itu semua? Itu semua bahan yang pas untuk diramu menjadi sebuah kisah 10 jam yang intens. Pun begitu tak berarti game ini tak pernah kedodoran, seperti yang saya katakan tadi satu sampai dua jam awal game ini terasa agak pelan dalam pacing-nya sementara ada satu dua segmen di tengah game yang juga terlalu banyak mengulang tempat yang sama untuk dieksplorasi. Toh, pada akhirnya game ini tahu di mana ia harus bergegas mengakhiri cerita, and know not to overstay its welcome.

Turut membantu kualitas game ini adalah casting-nya yang luar biasa. Di tahun 2015 mungkin tiga nama yang paling terkenal di game ini adalah Hayden Panettiere yang dikenal orang sebagai Claire dalam serial Heroes, Peter Stormare dari serial Prison Break, dan Brett Dalton dari Agents of S.H.I.E.L.D. . Well, here’s the crazy thing. Sekarang casting-casting lain dalam game ini turut menjadi populer. Jordan Fisher yang berperan sebagai Matt misalnya makin naik daun setelah membintangi film Netflix To All The Boys serta menjadi Bart Allen dalam serial TV The Flash. Tetapi let’s be serious, the REAL steal of the game adalah Rami Malek yang berperan sebagai Josh. Imagine that! Mendapatkan Rami Malek yang tiga tahun setelah game ini membintangi Freddie Mercury di Bohemian Rhapsody DAN memenangkan Oscar untuk film tersebut… bayangkan itu! Ini adalah Malek di jaman ia bahkan belum berperan di Mr. Robot sehingga tak heran ia masih ditaruh di urutan KEEMPAT dalam list casting film ini. Crazy, eh?

Until Dawn juga memiliki replayability yang mencukupi. Hampir tidak mungkin bagimu untuk ‘menyelamatkan’ kedelapan karakter yang ada dalam game ini dalam permainan pertamamu, sehingga untuk mendapatkan Ending yang terbaik di mana semua delapan karaktermu selamat, kamu harus mencoba memainkan game ini lagi dan mengambil keputusan-keputusan yang tepat serta tidak gagal melakukan even QTE yang ada.

So, overall, kalau kamu adalah fans dari Horror kelas B, memainkan Until Dawn di sebuah weekend bersama dengan kawan-kawanmu merupakan opsi yang tepat. This game does not try to be anything else but a fun scary time.

Score: 8.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: