Skip to content

Police Academy 2: Their First Assignment

Kesuksesan dari Police Academy pertama artinya satu: sebuah sekuel harus dibuat. Jangan kalian pikir sekuel hanya sesuatu yang biasa ada di jaman sekarang saja bung. Ada alasannya franchise dari tahun 1970an dan 1980an semuanya memiliki seabreg sekuel. Dan Police Academy pun bukan pengecualian. Yang agak membedakan franchise ini dari franchise lain adalah bagaimana cepatnya sekuel dari Police Academy diproduksi. Rata-rata film membutuhkan waktu 2 sampai 3 tahun sampai franchise mereka diproduksi. Ada kasus-kasus unik yang bahkan butuh waktu lebih dari 3 tahun sampai film sekuelnya diproduksi (ingat jarak antara Ghostbusters pertama dan kedua? Atau jarak antara The Terminator dengan Terminator 2?). Police Academy langsung membuat lima sekuel secara bertubi-tubi dari 1984 sampai 1989. Dengan kata lain, mereka terus membuat sekuel tiap tahun! This is the Saw of the 1980s!

Police Academy 2 melanjutkan kisah dari film pertamanya. Setelah Mahoney, Jones, Hightower, dan banyak lainnya sudah sukses lulus, kini mereka dihadapkan dengan tugas pertama mereka. Kepala Akademi Eric Lassard menugasi mereka untuk membantu adiknya: Pete Lassard, yang tengah kewalahan menghadapi Kriminal di wilayahnya. Sang Kriminal adalah Zed, seorang yang terus suka berteriak-teriak dan mengancam siapapun yang berani melawannya. Ini jelas merupakan lawan yang tangguh buat para polisi baru ini. Bisakah mereka menjalankan tugas mereka?

Walaupun beberapa karakter dari film pertamanya tak kembali di sini, mayoritas dari mereka yang memorable masih ada, dan keenamnya akan menjadi komponen ikonik dari franchise ini. Ada Mahoney, Hightower, Tackleberry, Jones, Fackler, dan Hooks yang sekarang ditugaskan maju ke tugas. Tentu saja mereka langsung membuat kekacauan di tempat tugas mereka. Kapten Polisi Pete Lassard pun tak bisa banyak membantu mereka sebab ia dijegal oleh tangan kanan-nya yang jahat: Ernie Mauser yang diperankan secara brilian oleh Art Metrano. Jangan lupa juga dengan kaki tangannya: Carl Proctor yang selalu diteriaki namanya secara komedik: “PROOOOCCTOOOORRR!“.

Secara kualitas komedi, saya merasa bahwa Police Academy yang pertama masih lebih baik ketimbang yang kedua. Tapi itu tak berarti yang kedua tak punya momen ikonik mereka. Ada satu momen di film kedua (di dalam toko) yang merupakan setpiece komedi yang sangat lucu dan bisa membuat terkekeh-kekeh. It’s an old-school comedy at its very best.

Kekurangan utama film ini bagiku terletak pada karakter Zed yang diperankan oleh Bobcat Goldthwait. Sebagai sang villain di dalam film ini dia tidak pernah terlihat mengancam, di sisi lain tiap kali ia berteriak-teriak juga tak membuat dia lucu. Overall, saya malahan merasa dia annoying karena selalu berteriak tiap kali muncul. Sang aktor sepertinya belum mampu mendapatkan balance yang pas untuk sosok Zed yang mengancam dan lucu – sesuatu yang sepertinya makin ia perbaiki di film-film berikutnya (more on that on my next Police Academy reviews!).

Police Academy kedua ini pada akhirnya memiliki kualitas yang sepadan dengan film pertamanya. Kalau kalian ingin lebih banyak slapstick komedi dari para anggota kepolisian, kalau kalian tak pusing dengan beberapa humor yang stereotipe (Contoh: orang Hitam suka belajar Kungfu), dan kalian tak terlalu sensitif dengan humor-humor ofensif, saya yakin film ini akan memuaskan kalian. Oh ya, film ini kali ini memiliki rating PG-13, sehingga banyak humor seksual dan wanita telanjang dari film pertamanya dihilangkan di sini. Saya tak pusing sebab toh, humor-humor yang memorable dari film pertamanya pun bukan yang berbau seksual. Have more fun and blast the memorable Theme!

Score: 7.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: