Skip to content

Police Academy 3: Back in Training

Rata-rata Franchise film terkenal selalu ditutup dengan entri ketiganya. Itulah kenapa franchise di tahun 1980an kerap dikenal dengan triloginya. Ada trilogi Indiana Jones, Back to the Future, sampai The Karate Kid yang merupakan ikon-ikon trilogi di era tersebut… walaupun beberapa sekarang sudah bukan trilogi lagi (I’m looking at you Die Hard and Indiana Jones). Akan tetapi, ini juga menunjukkan bahwa Police Academy 3 ini awalnya sudah direncanakan untuk ditutup secara trilogi – paling tidak di mata saya. Kok bisa? Baca lebih lanjut.

Setelah kesuksesan dari Mahoney dan kawan-kawan menyelesaikan kasus Kriminal, mereka kembali ke Akademi Polisi… dan sebuah tahun ajaran baru dimulai. Itu artinya akan ada anggota-anggota baru yang masuk ke dalam Police Academy mereka. Yang lucu adalah, kebanyakan dari anggota-anggota baru yang masuk merupakan karakter lama dari Police Academy sebelumnya. Contohnya adalah Violet Fackler yang adalah istri Douglas Fackler, Zed yang tadinya jadi kriminal di seri sebelumnya, dan Bud Kirkland adik ipar dari Tackleberry. Para anggota cadet polisi yang baru ini tentu saja super kacau juga, tetapi mereka mau belajar menjadi polisi yang baik. Adalah tugas dari angkatan 1984 untuk melatih mereka menjadi polisi, supaya akademi kepolisian mereka tidak ditutup oleh pemerintah!

Sekali lagi menjadi ‘antagonis’ untuk kisah ini adalah Art Metrano yang berperan sebagai Ernie Mauser, pesaing bagi Lassard Academy yang dikepalai Eric Lassard. Saya cukup kehilangan sosok Eric yang diperankan secara ngocol oleh George Gaynes karena perannya direduksi di film kedua. Saya senang melihat ia kembali muncul secara signifikan di dalam film ketiga ini.

Untuk casting barunya yang paling mencuri perhatian adalah Brian Tochi sebagai Tomoko Nogata dan Shawn Weatherly (si mantan Miss Universe) sebagai Karen Adams. Let’s be honest here, Karen muncul sebagai sex appeal dalam film ini bagi kaum adam, mengisi posisi yang sama dengan Kim Catrall di film pertamanya. Di sisi lain Brian Tochi adalah tambahan yang menarik karena dia adalah casting dengan latar belakang Asia yang memegang peranan supporting cukup dominan di sini. Saya sangat senang dengan kemunculannya, sebab saya percaya bahwa diversity itu adalah hal yang penting, tetapi lebih penting lagi, Police Academy tak lupa bersenang-senang dengan beberapa joke stereotipe mengenainya. No, saya tidak tersinggung sama sekali. In fact, saya bisa tertawa renyah bersamanya, sebab this is a movie that’s not afraid to play into stereotypes!

Film ini bisa dibilang memiliki klimaks yang paling seru di antara ketiga film dengan sebuah high speed chase di atas air di seperempat akhir film. Untung sebuah film komedi, saya merasa kejar-kejaran itu sudah super seru sekali bak klimaks dari episode TV yang mahal di era 1980an. Tentunya sangat terlihat bahwa adegan-adegan ini menggunakan stuntman, but hey, everybody is having fun and that’s the point!

Film ini bisa dibilang memperbaiki banyak kekurangan dari karakter-karakter di film sebelumnya, terutama pada sosok Zed dan Carl. Duet ini kadang terasa terlalu over (bahkan untuk standar Police Academy) dalam film kedua, dan saya senang aktor Tim Kazurinsky dan Bobcat Goldthwait mampu menemukan balance yang pas bagi mereka tampak lucu tanpa menyebalkan di layar.

Saya juga cukup terharu dengan ending film ini yang membawanya full circle. Mereka yang merupakan para underdog cadet dua tahun lampau sekarang sudah menjadi instruktur dan sukses membawa para polisi-polisi baru mengikuti jejak mereka. Sebuah trilogi yang sebenarnya pas bukan? Dari Cadet, Polisi, dan sekarang menjadi Instruktur? Tapi tentu saja kita bahkan belum masuk setengah dari franchise Police Academy… so let the fun continue!

Score: 8.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: