Skip to content

Dynasty Warriors

Saya ingat sekali ketika PS2 dirilis lebih dari 20 tahun yang lampau (WOW! SUDAH SELAMA ITU YA?!) bahwa sebuah game bernama Dynasty Warriors 2 menjadi game andalan untuk menunjukkan betapa kerennya PS2.

Nama Dynasty Warriors sendiri tidak asing bagi para gamer Playstation karena entri pertama seri ini dirilis di Playstation sebagai game fighting yang senada dengan Soul Blade / Soul Edge: sebuah game fighting yang menggunakan senjata. Pun begitu Koei selaku pengembang game ini total mengubah gameplay untuk Dynasty Warriors 2: memasukkan kamu sebagai salah satu Jendral di era Romance of Three Kingdoms ke dalam medan pertempuran.

Hebatnya, kamu sebagai para Jendral legendaris (entah Liu Bei, Guan Yu, Zhang Fei, Zhao Yun, atau banyak lagi) memiliki jurus-jurus sakti yang bisa menghancurkan para lawan. Bukan hal yang aneh bagi Jendralmu untuk melibas belasan sampai puluhan lawan di dalam permainan. Di era sekarang pertempuran besar-besaran ini mungkin biasa, tetapi saat PS2 dirilis dulu, gameplay seperti ini sangat revolusioner. Itulah alasan kenapa entri Dynasty Warriors memiliki banyak fans dan sampai hari ini masih bertahan, di mana entri terakhirnya: Dynasty Warriors 10 mau dirilis segera di PS5 nanti!

Anyway, kembali kepada review filmnya sendiri… kesuksesan film ini membuat Koei Tecmo memutuskan untuk menciptakan filmnya. Mengingat film ini memiliki fanbase yang lebih besar di daerah Asia Timur (Cina dan Jepang) ketimbang di Amerika, sang developer tidak menyerahkan pembuatan film ini kepada Hollywood melainkan ke studio Cina. Maka di tahun 2021 ini dirilislah Dynasty Warriors dengan aktor Louis Koo dan Carina Lau di dalamnya.

Mengingat Romance of the Three Kingdoms adalah sebuah epik yang berlangsung selama puluhan tahun, jelas tidak mungkin bagi film ini merangkum semuanya. Maka film ini pun menarik kisah dari awal: dari pemberontakan Yellow Turban. Film mengambil cerita dari sudut pandang tiga kubu. Kubu pertama adalah tiga bersaudara Liu Bei, Zhang Fei, dan Guan Yu. Mereka bertiga adalah ksatria tangguh yang ingin menyumbangkan bakti mereka kepada negara – tetapi selalu dipandang sebelah mata oleh orang sekitar mengingat mereka tidak punya cukup banyak prajurit. Sudut pandang kedua adalah Cao Cao, seorang pemuda ambisius yang ingin menyelamatkan dinasti Han dari pengkhianatan – tetapi juga menyimpan ambisi pribadi menguasai Cina untuk dirinya sendiri. Dan sudut pandang terakhir adalah Lu Bu, seorang ksatria super kuat yang haus perang tetapi juga haus cinta seorang wanita bernama Diao Chan yang disebut sebagai wanita tercantik dunia.

Hal pertama yang perlu saya ingatkan kepada kalian adalah: ini bukan adaptasi dari Romance of Three Kingdoms. Ini adalah adaptasi dari Dynasty Warriors. Kedua hal ini sangat berbeda. Kalau kalian ingin mencari sebuah pertarungan epik yang lengkap dengan strateginya, you really cannot go wrong dengan dwilogi Red Cliff karya John Woo. Bagi saya itu merupakan adaptasi dari Romance of Three Kingdoms yang terbaik. Tetapi kalau kalian ingin menonton sebuah aksi gila-gilaan yang lengkap dengan efek CG di mana para prajurit terpental ke angkasa karena shockwave serangan jagoan kalian – well, you’ll get it in this movie. Jangan bilang kenapa film ini tidak realistis karena dari gamenya sendiri juga tidak realistis! You know what you get!

Sementara design kostum, senjata, sampai gerakan jurus dari karakter-karakternya sudah dilakukan semirip mungkin dengan gamenya saya rasa kelemahan terbesar film ini justru terletak pada castingnya. Saya suka dengan Louis Koo sebagai seorang aktor tetapi untuk dirinya menjadi Lu Bu yang garang kok rasanya kurang cocok? Setali tiga uang dengan Han Geng, sang mantan anggota Super Junior yang menjadi Guan Yu. Ia tak punya karisma (serta tinggi dan aura) yang cukup kuat untuk menjadi sang Dewa Perang itu. Di sisi lain saya benar-benar suka pemilihan Gulnazar sebagai Diao Chan. Dengan kecantikan Gulnazar yang konon adalah salah satu yang tercantik di Cina sekarang ini, pantas kok Lu Bu dibuat tergila-gila olehnya.

Kelemahan lain dari film ini adalah jalan cerita yang kurang ngeflow dari satu adegan ke adegan lainnya. Ini tidak akan menjadi masalah kalau kalian sudah cukup familiar dengan kisah Romance of Three Kingdoms, tetapi siapapun yang tak familiar dijamin akan kebingungan mengikuti jalan cerita serta aliansi-aliansi politik yang ada.

Pada akhirnya, kalau kamu penggemar film Dynasty Warriors sepertinya tidak akan kecewa menonton film ini. It is what it is. Tetapi kalau kalian ingin film yang lebih dalam menggali karakter dari era paling terkenal di Cina ini, sepertinya saya masih tetap harus menyarankan dwilogi Red Cliff. Jelas karya John Woo itu jauh jauh lebih memorable ketimbang film ini.

Score: 5.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: