Skip to content

Luca

(Review ini ditulis di bulan Juni 2021)

Pixar biasa sinonim dengan film animasi yang bagus. Untuk dekade 2000an, hampir setiap tahun Pixar merilis sebuah film animasi yang menjadi memorable dan klasik. Siapa bisa lupa film-film animasi Finding Nemo, The Incredibles, Wall-E, dan banyak lagi. Akan tetapi sihir Pixar mulai menjadi agak temaram di dekade 2010an. Ada beberapa film Pixar yang masih solid di mataku: seperti Inside Out dan Coco, tetapi ada lagi beberapa film Pixar yang bagiku sama sekali tidak membekas… macam The Good Dinosaur.

Di tahun 2021 ini Pixar menjelajahi sebuah teritori baru saat dunia tengah di dalam Pandemik COVID-19 yang tak berkesudahan. Dua film terakhir mereka: Onwards dan Soul dinikmati mayoritas penonton di saluran streaming Disney+. Onwards hanya sempat tayang sebentar sebelum bioskop ditutup, dan begitu juga dengan Soul yang rilis di bulan Desember lalu. Sekarang sudah bulan Juni 2021 dan walaupun wabah Pandemik tak separah tahun lalu, banyak negara yang belum berani membuka dirinya. Karena itu Disney lagi-lagi memutuskan untuk merilis Luca langsung di saluran streaming Disney+. Apakah ini strategi menaikkan jumlah pelanggan mereka di Disney+? Ataukah mereka menganggap Luca bukan film yang bisa menjual di Bioskop?

Luca adalah film animasi dari sutradara debutan Enciro Casarosa dari Italia, dan terlihat bahwa sang sutradara ingin memberikan nafas Italia yang kental dalam film ini. Setting dari film ini adalah sebuah kota kecil di pesisir pantai Italia yang bernama: Portorosso. Di kota tersebut para penduduknya sangat membenci makhluk Sea Monster (sejenis Merman) dan beberapa penduduknya bahkan berprofesi sebagai pemburu Sea Monster. Luca sendiri adalah salah satu Sea Monster yang hidup dengan tenang dan damai di bawah laut. Tak disangka-sangka, mereka juga takut dengan para manusia di atas. Akan tetapi Luca yang bosan dengan hidupnya akhirnya memutuskan untuk mencoba naik ke permukaan.

Bertemu dengan seorang Sea Monster yang sudah hidup sebagai manusia yaitu Alberto, Luca dan Alberto pun berteman dengan seorang gadis tomboy Giullia yang ingin memenangkan pertandingan Triathlon tahunan di Portorosso. Luca yang tak ingin hidup di bawah laut selamanya memutuskan untuk ikut turnamen dan memenangkan hadiah uangnya – agar ia bisa membeli Vespa dan menjadi benar-benar bebas.

Sebagai sebuah film animasi Luca tidak buruk. Sedikit banyak ia mengingatkanku akan Coco atau Moana, sebuah film Disney yang mengangkat kultur lain ke dalam ceritanya. Dalam hal Luca, ia mengangkat kebudayaan Italia, terutama di kota-kota pesisir pantai. Saya harus mengakui kalau saya tak cukup mengenal kebudayaan Italia sehingga ada banyak Easter Egg yang diselipkan oleh sang sutradara (dan tentunya membuat film ini lebih memorable lagi) terlewat dari pengamatan saya. Still, sebagai sebuah film animasi yang universal, Luca termasuk enjoyable untuk ditonton.

Tidak ada sesuatu kisah yang baru di dalam Luca. Pesan klasik ‘jangan takut menjadi dirimu sendiri’ serta ‘berjuanglah menggapai mimpimu’ adalah sebuah pesan yang universal dan bagus. Dan saya bahagia bahwa dalam hal ini Luca tak berusaha memasukkan pesan-pesan politis ataupun SJW ke dalamnya. This is a safe movie to watch with your children.

Apakah film Luca adalah film yang sempurna? Tidak. Tetapi sebagai sebuah film tentang persahabatan dan dengan pesan universal menggapai mimpi, it’s a solid one. Walau tak bisa dibilang sebagai film Pixar yang terbaik maupun yang paling memorable, ia tetap mampu membekas di ingatan: Bravo, Bello, Fino!

Score: 7.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: