Skip to content

Cinderella (2021)

Sebagai kisah fairy tale klasik, Cinderella termasuk sering sekali diadaptasi ke layar lebar, baik dalam format animasi maupun dalam format Live Action. Tak hanya adaptasi langsung, Cinderella pun kerap diadaptasi dengan perubahan-perubahan di sana-sini. Di luar film Live Action Disney yang dibintangi oleh si cantik Lily James, rata-rata film Cinderella selalu memiliki twist tersendiri yang membedakannya dari yang lain. Lihat saja Ever After-nya Drew Barrymore ataupun A Cinderella Story dari Hillary Duff.

Ketika di tahun 2021 saluran streaming Amazon Prime merilis film Cinderella yang baru, saya sudah tidak terkejut lagi. It’s about time. Dan sesuai dengan derap feminisme jaman now, film ini tentu mengedepankan agenda para SJW. Does it make the movie bad? Let’s find out.

Ella adalah seorang gadis yang memiliki mimpi besar: ia ingin menjadi seorang designer baju. Masalahnya, menjadi designer baju di jaman kerajaan tidak mudah. Orang-orang tidak percaya bahwa seorang wanita bisa menjadi pebisnis. Mereka percaya bahwa wanita seharusnya cukup tinggal di rumah dan baik-baik saja menjaga dapur. Ibu tiri dari Ella pun berpikir sama. Alih-alih membiarkan anak tirinya menjadi designer baju, ia justru sibuk menjodoh-jodohkan Ella (dan kedua anaknya yang lain) guna menjadi istri orang kaya, supaya ia bisa hidup mapan.

To be honest, saya merasa bahwa film Cinderella ini tidak seburuk yang saya sangka sebelumnya. Saya cukup enjoy dengan pilihan lagu dari film yang bergenre musical ini. Pilihan lagu-lagunya memang cukup solid, dimulai dari era 1980an sampai 2000an ke atas. Yang sedikit menganggu adalah jumlah lagu yang… kebanyakan. Saya tahu kalau ini film musical, tetapi tidak perlu kan setiap 2 – 3 menit sekali cerita yang ada dipotong dengan lagu?

Untuk castingnya sendiri, saya enjoy dengan performa dari para pemeran yang terlibat. Ironisnya Camila Cabello dan Nicholas Galitzine sebagai dua pemeran utamanya justru memberikan performa yang paling lemah. They are not bad or anything, but they are kinda bland. Yang mampu mencuri perhatian justru adalah Elsa… eh maksud saya Idina Menzel, Pierce Brosnan, serta Minnie Driver, tiga artis senior yang sepertinya bergabung dalam proyek ini dan having fun dengan peran yang diberikan kepada mereka!

Di saat trailer film ini dirilis, hal yang PALING menimbulkan kontroversi adalah sosok Fairy Godmother-nya. Alih-alih memakai sosok wanita seperti normalnya, film ini memakai seorang Drag Queen yang diperankan oleh Billy Porter. Ini menjadi momen paling cringe di dalam film – sekaligus alasan kenapa saya tidak akan mengijinkan anak-anak yang belum dewasa menonton film ini. Billy Porter is actually quite funny… dan saya suka penampilannya yang sassy sebagai Fairy Godmother, maaf di sini dia dinamai Fabulous Godmother, tetapi jujur saja, tidak ada apapun yang sangat spesial dari sini sampai tidak bisa diperankan oleh aktor-aktor artis lain yang konvensional.

I guess we are at that age of wokeism already, eh?

Overall, apa lagi yang perlu dijelaskan mengenai film Cinderella ini? Apabila kalian ingin sebuah tontonan yang menghibur, diiringi lagu yang rancak serta pesan feminisme yang positif (I’m surprised it’s not so obnoxious!) maka beri film ini kesempatan. Tapi jelas ia bukan adaptasi Cinderella yang paling bagus.

Score: 6.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: