Skip to content

Fear Street – Part 3: 1666

Trilogi Fear Street ditutup dengan perjalanan mereka ke masa lalu: ke masa di mana awal legenda Fear Street bermula: tahun 1666. Di saat itu para anggota koloni yang tinggal di Amerika masih percaya dengan takhayul. Di era itu masih banyak orang Amerika yang tinggal di pedesaan dan hidup dari desa ke desa. Mereka juga masih percaya dengan keberadaan Witch / Penyihir Wanita. Salah satu gadis yang disangka orang adalah Witch adalah Sarah Fier. Ya, sang Hantu legendaris Fear Street yang mengutuk dan selama ini mengirim laskar-laskarnya untuk menyerang para jagoan kita.

Protagonis dari film bagian pertama: Deena, entah bagaimana mendapatkan visi masa lampau yang membuatnya bisa melihat bagaimana sejarah kota Sunnyvale dan Shadyside dimulai. Harapan Deena adalah dia bisa mencari sebuah kelemahan dalam diri Sarah Fier sebelum kutukan sang Penyihir merenggut Sam, kekasihnya, selamanya dari sisinya. Berhasilkah Deena?

Fear Street – Part 3: 1666 masih menyimpan sebuah plot twist lagi bagi para penonton sebelum merangkum semua kisah trilogi ini dalam ending yang memuaskan. Bagi saya, trilogi ini menjadi lebih bagus apabila ditonton secara keseluruhan ketimbang berdiri sendiri-sendiri. In fact, I can even see this movie being split into a TV Series yang jumlahnya 6 – 7 episode. Terlepas dari format penyampaiannya saya mengacungkan jempol kepada sutradara Leigh Janiak yang berhasil tampil true to the spirit of the Novel dalam menggarap versi adaptasinya ini.

Para karakter dari Part 1 yang notabene absen selama Part 2 kembali di dalam film ini: Kiana Madeira dan Olivia Scott Welch lagi-lagi mendapatkan peranan yang terbesar dalam Part ketiga ini di mana mereka harus berakting dalam porsi banyak untuk era dua jaman. Yang saya sayangkan adalah era jaman dahulu kala di 1666 kok terasa kurang budget. Saya tak menyalahkan Netflix sih, this is after all a modestly budgeted trilogy, tetapi mengingat film ini sukses mereplikasikan era 1994 dan 1978 dalam dua film sebelumnya, ada sedikit letdown melihat mereka gagal mengulangi kesuksesan itu untuk 1666. Setali tiga uang dengan aksen karakter-karakter di dalamnya yang kurang mencerminkan bahasa orang Amerika dengan Inggris jaman kuno.

Toh pada akhirnya, terlepas dari semua kelemahan yang saya sebutkan tadi, Fear Street – Part 3: 1666 masih sebuah penutup yang memuaskan dari trilogi ini. Janiak cukup cerdik membiarkan beberapa poin cerita tetap terbuka – supaya ada orang yang bisa melanjutkan franchise ini apabila ia sukses (and I think people WILL continue the story – mengingat trilogi ini terbilang cukup hype), tetapi secara overall kalian yang sudah invested dengan karakter dari Part 1 dan 2 tidak akan kecewa dengan story arc mereka masing-masing. Happy ending? Tonton saja sendiri.

Bila saya harus menilai film ini secara kesatuan, Fear Street Part 3: 1666 sedikit di bawah Part 2 dan setara dengan Part 1. Ini karena Part 1 harus bekerja untuk membuat setup cerita sementara Part 3 harus bekerja untuk membuat penutup cerita. Itu membuat running time mereka tak seberapa optimal membedah kisah mereka secara sendiri. Di sisi lain Part 2 menjadi paling bagus dikarenakan ia bisa mendedikasikan keseluruhan waktu tayangnya untuk mengembangkan kisah di dalamnya. Then again, seperti yang saya bilang di atas, this franchise is greater than its parts. Salut untuk kesuksesan Netflix satu ini.

Score: 8.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: