Hugh Jackman adalah seorang aktor yang memiliki komitmen luar biasa.

Nama Hugh Jackman pertama kali dikenal dunia ketika ia memainkan sosok mutant bercakar Wolverine di film X-Men tahun 2000 lampau.

Tahun 2000. Iya. Di jaman itu saya lulus SMU saja belum. Semenjak saat itu sudah ada dua aktor yang memerankan Batman di layar lebar, dua aktor yang memerankan Superman di layar lebar, tiga aktor yang memerankan Spider-man di layar lebar, tetapi Wolverine masih saja diperankan oleh Hugh Jackman.

Hugh Jackman sudah tampil di sembilan film X-Men universe sebagai Wolverine baik dalam porsi sebagai cameo di beberapa film, memegang peran sentral di beberapa lainnya, sampai menjadi sosok sorotan utama di trilogi film yang berpusat pada dirinya.

Sayangnya X-Men Origins: Wolverine dan The Wolverine tak berhasil membuat kritik memahsyurkan film-film tersebut. X-Men Origins: Wolverine dimaki-maki kebanyakan pecinta komik karena dirasa merusak sosok Deadpool sementara The Wolverine walaupun lebih baik dianggap belum cukup menggambarkan kebuasan seorang Wolverine di layar lebar. Tepat ketika hampir semua orang menyerah akan harapan superhero rating R, muncullah sang penyelamat: Deadpool.

Kesuksesan Deadpool tahun lalu yang meraup lebih dari 350 Juta USD (dan 750 Juta USD di seantero dunia) menunjukkan bahwa ada pasar besar untuk film superhero yang lebih keras, brutal dan kasar. Kesuksesan itu membuat usaha James Mangold (sutradara dari The Wolverine dan Logan) serta Hugh Jackman melobi petinggi 20th Century Fox memberi rating R pada film Logan lebih mudah. Hasilnya terbayarkan dengan pujian para kritikus terhadap film ini. Setelah berulang kali berusaha menggarap Wolverine di layar lebar dengan benar – mereka menangkap esensi dari karakter ini terakhir kalinya.

Hati dari film ini ada keluarga yang dimiliki oleh Logan. Keluarga itu bisa dibilang keluarga disfungsional yang awalnya berisi dirinya, Caliban, dan Professor X. Kehidupan tenang dan terisolasi dari ketiganya berubah total ketika seorang gadis misterius bernama Laura memasuki kehidupan mereka. Mendadak saja agen-agen pemerintah mulai mengejar Laura, membuat ketiganya menjadi terlibat permainan kucing-tikus di sebuah dunia di mana para anggota mutant dan X-Men sudah tidak lagi aktif.

logan

Banyak orang menyamakan film Logan dengan video game The Last of Us dan saya bisa melihat dari mana mereka menarik persamaan itu, film ini sama-sama ada dalam dunia post-apocalyptic di masa depan (walaupun The Last of Us lebih menunjukkan sisi post-apocalyptic seantero dunia manusia sementara Logan hanya pada kaum mutant saja yang nyaris punah). Rating R dimanfaatkan dengan baik oleh James Mangold di sini, tak hanya sekedar untuk memasukkan kata-kata makian kasar (yang sebenarnya membuat dialog film ini terasa lebih riil dan nyata) tetapi juga pada inovasi-inovasi kebrutalan aksi Wolverine yang tak bisa ditunjukkan apabila ratingnya bukan R.

Hugh Jackman seperti biasa tampil sangat bagus sebagai Wolverine tetapi pujian pun perlu disematkan kepada dua aktor utama lain film ini: Patrick Stewart yang telah menjadi wajah lain bagi franchise X-Men sebagai Professor X dan Dafne Keen sebagai Laura. Interaksi keduanya dengan Logan menjadi jangkar emosi penonton sepanjang film ini di mana mereka seperti membentuk hubungan Kakek – Anak – Cucu dalam film ini. Logan bukan sekedar sebuah film superhero semata tetapi juga film keluarga disfungsional yang hanya bisa berhasil karena ikatan emosi penonton dengan franchise ini selama 17 tahun lamanya.

Pada akhirnya Logan adalah sebuah sendoff yang pantas tak hanya untuk Hugh Jackman tetapi juga untuk karakter Patrick Stewart. Sementara sosok Stewart kurang lebih sudah digantikan oleh James McAvoy sebagai Professor X muda, saya masih tak bisa membayangkan siapa yang bisa menggantikan sosok Hugh Jackman yang telah begitu ikonik sebagai sang mutant bercakar.

Score: B+

Leave a Reply