Game

Life is Strange

Developer mana yang terlintas di benakmu kalau mendengar kata “Episodic Content“? Jawabannya pasti Telltale Games. Setelah game The Walking Dead mendapatkan pujian kritikus di mana-mana, Telltale lantas melahirkan banyak game dalam genre ini mulai dari The Wolf Among Us, Minecraft: Story Mode, Game of Thrones, dan lainnya. Akan tetapi Life is Strange tidak berasal dari mereka melainkan dari sebuah developer indie di bawah naungan Square Enix: Dontnod Entertainment.

Dalam game yang dibagi menjadi lima episode, kamu adalah Max, seorang gadis yang memiliki sebuah kekuatan khusus memutar balik waktu. Kekuatanmu untuk memutar balik waktu ini membuat Max bisa melakukan hal-hal yang mungkin diimpikan oleh semua remaja di usianya. Siapa di saat remaja yang tak pernah melakukan kesalahan sama sekali? Mungkin kamu pernah mengatakan kata-kata yang salah karena emosi dan menyakiti hati sahabatmu, mungkin kamu pernah terlambat bangun dan telat masuk sekolah. Semua kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan Max ini bisa hilang karena Max punya kemampuan untuk memutar balik waktu dan memperbaiki kesalahannya.

3

Tentunya kalau kalian pernah menonton film bertemakan time travel seperti The Butterfly Effect dan A Sound of Thunder (keduanya direferensikan dengan pintar dalam film ini) bermain dengan waktu memiliki implikasi yang terkadang fatal. Dalam game ini Max akan bertemu dengan sahabat lamanya: Chloe, yang sudah berubah total setelah ayahnya tewas dalam kecelakaan. Chloe menjadi seorang gadis yang ‘nakal’ dan hipster, berbeda dengan Max yang cenderung lebih alim dan penurut. Oleh bujukan Chloe dan keinginan Max memperbaiki persahabatan keduanya yang merenggang, perlahan-lahan Max menggunakan kekuatannya untuk hal-hal yang lebih besar…

Salah satu kelemahan dalam game Telltale adalah bagaimana game tersebut semakin lama semakin terbatas. Harus diakui bahwa semua game yang diciptakan Telltale setelah The Walking Dead season pertama praktis memakai sistem gameplay yang sama. Ya terkadang ada sedikit perubahan seperti sistem detektif dalam game Batman tetapi tidak ada perubahan yang signifikan. Akui saja: kita membeli dan memainkan game Telltale karena ceritanya, bukan karena gameplaynya. Itulah mengapa memainkan Life is Strange terasa berbeda dan menyenangkan. Selain pilihan-pilihan dialog yang diberikan pada Max mempengaruhi bagaimana ia berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, Dontnod Entertainment dengan cerdas mengintegrasikan kemampuan Max mempermainkan waktu untuk memecahkan puzzle-puzzle yang bertebaran sepanjang petualangannya.

Satu hal lagi yang membedakan Life is Strange dengan game Telltale adalah jalan ceritanya yang… membumi. Ini mungkin aneh apabila kalian membaca konsep dalam Life is Strange adalah time travel tetapi karakter Max adalah salah satu karakter paling relatable yang pernah saya mainkan. Ini adalah seorang gadis remaja yang berusaha berbuat benar walaupun terkadang karena kenaifannya ia melakukan hal yang salah. Dan berbeda dengan kebanyakan skenario game Telltale yang bertema post-apocalyptic (The Walking Dead, Tales from the Borderlands), fantasi (Game of Thrones, The Wolf Among Us, Minecraft) ataupun superhero (Batman, Guardians of the Galaxy), Life is Strange adalah sebuah cerita sederhana mengenai Max dan Chloe berusaha mengungkap misteri hilangnya seorang gadis misterius tanpa membuat nilai-nilainya di sekolah anjlok. Seperti yang saya katakan: relatable.

1

Life is Strange bukannya game sempurna. Apabila kamu berkaca lebih dalam pada poin-poin sci-fi dalam game ini akan mudah mencari kelemahannya (karena game tentang time travel memang sangat mudah dicari plot hole-nya), akan tetapi kisah Max di sini adalah sebuah kisah mengenai coming to age yang paling manis yang pernah saya mainkan dalam sebuah video game. Ada manis, ada pahit: bittersweet. Seperti halnya kenangan akan masa muda kita semua bukan?

Score: 8.5

Dennis memainkan lima episode Life is Strange selama hampir 10 jam di laptopnya. Dari game ini ia belajar banyak mengenai Chaos Theory dan teknik-teknik fotografi yang sayangnya tak akan bisa ia praktekkan di kehidupan nyata.

Advertisements

3 comments

      1. Haha… gue mah orangnya lebay. Sekali bagus dikit ya 10/10. Hiperbol aja tidak benar2 10/10. Tidak-tidak, Uncharted dan Persona gk bisa disejajarkan ama game ini. 🙂 haha.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s