Serial animasi Full Metal Panic adalah serial yang cukup unik pada jamannya dulu. Seorang tentara militer yang tak punya social skill terpaksa masuk dan bersekolah guna melindungi seorang gadis yang memiliki kemampuan spesial dan diincar oleh kelompok kriminal. Pasangan ini: Sousuke Sagara dan Chidori Kaname menjadi pasangan yang sangat disukai oleh banyak penonton anime di era itu dan melahirkan dua sekuel: Full Metal Panic? Fumoffu (yang lebih banyak berisi banyolan parodi semata) dan Full Metal Panic: The Second Raid yang bisa dibilang merupakan season keduanya. Anehnya walaupun dengan kisah yang jelas-jelas menggantung, animasi ini tidak pernah dilanjutkan lagi sampai bertahun-tahun.

Baru pada tahun 2018 ini dirilis season ketiga dari Full Metal Panic yang diberi judul Invisible Victory, hampir 13 tahun setelah The Second Raid dirilis. Bagaimanakah kualitas serial ini? Masihkah orang peduli dengan petualangan dari Sousuke dan Kaname?

Jawabannya: jelas masih. Full Metal Panic merupakan serial animasi yang membangkitkan nostalgia bagi banyak orang. Mengingat sekarang adalah era di mana banyak serial dibangkitkan ulang untuk nilai nostalgianya (sebut saja Digimon sampai Rurouni Kenshin) publik menyambut antusias datangnya Invisible Victory. Beberapa purist bisa dibilang kecewa karena animasi ini tak ditangani oleh Kyoto Animation lagi melainkan oleh Xebec. Xebec sendiri adalah studio animasi yang pernah menghasilkan beberapa serial apik tapi perlu diakui status mereka memang tak seperti Kyoto Animation yang legendaris. Kendati tampil apik di beberapa episode awal kualitas animasi Invisible Victory memang kentara sedikit menurun di episode-episode akhir. Akan tetapi jangan khawatir sebab ini takkan menganggu kenikmatanmu menontonnya.

 

FMP_IV_Art
The Return

Kalau selama ini tone dari Full Metal Panic silih berganti antara light dan dark, dalam Invisible Victory penonton tak lagi diberikan peralihan tone ini. Mulai dari episode pertama saja kehidupan dari Sousuke dan Kaname sebagai seorang high schooler praktis berakhir. Tambahan lagi, serial ini tak ambil pusing untuk merekap season-season sebelumnya. Penonton diharapkan sudah menonton ketiga season sebelumnya, mengerti background kisah dan hubungan antara masing-masing karakter sebab serial ini langsung ngebut dengan kelanjutan ceritanya. Saya harus mengacungkan jempol untuk empat episode awal serial ini di mana perang besar antara Mithril dan Amalgam meledak. Saya menyamakannya dengan empat episode awal dari Daredevil season 2 yang brutal dan tak meninggalkan momen sedikitpun bagi penonton untuk bernafas.

Sayangnya empat episode awal itupun bisa dibilang merupakan highlight dari season ini. Cerita lantas melambat di beberapa episode berikutnya, memberi penonton kesempatan menarik nafas dan menebak-nebak mengenai bagaimana status semua tokoh yang ada setelah perubahan status quo yang besar di empat episode awal. Beberapa karakter baru seperti Lemon dan Nami pun diperkenalkan. Sayangnya karakter-karakter baru ini tidak memiliki kedalaman seperti karakter lama. Design karakternya pun terlalu aneh di mataku. Nami misalnya digambarkan sangat mirip dengan Chidori sementara Lemon mirip sekali dengan Kurz sampai tadinya saya pikir dia adalah agen Mithril tersebut. Setiap kali menghabiskan waktu bersama mereka, saya malah berpikir kenapa tak mengalokasikan waktu tersebut untuk karakter-karakter lama yang saya sudah familiar saja.

images (2)
No more jokes

Jalan cerita memang mulai meningkat lagi intensitasnya di dua episode terakhir tetapi momentumnya terasa tak pernah bisa menyamai empat episode awal serial ini. Toh secara berani Invisible Victory lagi-lagi mengakhiri serial ini dengan cliffhanger – kali ini saya berharap tak perlu menanti 13 tahun lagi untuk mengetahui kelanjutannya. Oke, saya bisa paham kenapa Invisible Victory makan waktu lama untuk dirilis karena light novel-nya pun belum bisa diadaptasi pada tahun 2005 lalu. Dengan light novel Full Metal Panic sudah tamat semenjak 2011 lalu, kini tak ada lagi alasan untuk menunda-nunda rilisnya season keempat dari Full Metal Panic – kali ini semoga bisa menuntaskan kisah Sousuke, Chidori, dan rekan-rekannya dan menjadi series finale.

Ada dua hal yang saya acungi jempol dari serial ini terlepas dari kekurangannya. Pertama adalah kemauan mereka memakai seiyuu yang sama Tomokazu Seki untuk Sousuke Sagara dan Satsuki Yukino untuk Chidori Kaname. Kedua, walaupun mereka tak lagi memakai Mikuni Shimokawa untuk opening dan ending serial ini, paling tidak penggantinya: Tamaru Yamada menyanyikan lagu opening dan ending yang memiliki nafas sama dengan lagu-lagu gubahan Shimokawa. Saya tadinya bahkan sempat tak menyangka bahwa lagunya tak dibawakan oleh Shimokawa (mengingat suara Yamada pun memiliki karakter yang sama dengan suara Shimokawa).

images (3)
See you next season!

Secara keseluruhan, Full Metal Panic: Invisible Victory adalah sekuel yang membangkitkan nostalgia. Kendati secara kualitas masih di bawa serial original dan The Second Raid, Invisible Victory paling tidak memuaskan dahaga dari para penggemar yang ingin tahu kelanjutan kisah Full Metal Panic.

Score: B-

2 Comments

Leave a Reply