Buat yang mungkin tidak terlalu mengenal saya, saya suka dengan sejarah. Bagi saya sejarah itu seperti cerita fiksi yang benar-benar terjadi. Kalau orang banyak mengatakan kalau Game of Thrones itu penuh intrik dan Dawson’s Creek itu penuh drama. Guess what? Dalam dunia nyata itu semua benar-benar bisa kejadian, dan bahkan mungkin lebih gila daripada cerita fiksi.

Buku yang ditulis oleh Richard Borsuk dan istrinya Nancy Chng (tanpa vokal) mengupas bagaimana dunia bisnis di Indonesia tidak lepas dari dunia politik: dicerminkan oleh dua sosok yang bisa menjadi ikon kedua dunia tersebut pada era Orde Baru: Suharto dan Sudono Salim (yang lebih dikenal dengan nama aslinya Liem Sioe Liong). Mengingat keduanya adalah orang yang sangat berpengaruh di Indonesia tak mengherankan bahwa kisah dalam buku ini bak sebuah drama serial megah dengan panggung Indonesia dan berlangsung selama puluhan tahun. Tampil sebagai karakter-karakter pendukung dalam kisah ini adalah sosok-sosok ikonik Indonesia dari masa dulu sampai sekarang baik itu Panglima ABRI Benny Murdani, anggota Empat Serangkai kolega Liem (termasuk Sudwikatmono), sampai Prabowo yang sekarang adalah salah seorang Capres Indonesia.

Sang Patron dan Cukong-nya

Pengaruh grup Salim dan Suharto yang jauh lebih luas dari Indonesia berarti cakupan kisah ini pun memiliki banyak tokoh internasional di dalamnya. Ya, bahkan pengusaha cakap Gokongwei dari Filipina sampai Presiden China kini Xi Jinping pun memegang peranan di dalamnya.

Kalau kalian sama sekali tidak mau terkena spoiler membaca kisah ini, maka saran saya lewati saja artikel ini dan langsung membaca bukunya. Saya yakin kalian tak akan kecewa. Di sisi lain kalau kalian ingin tahu terlebih dahulu apa-apa saja yang terjadi di dalam buku ini, anggap saja artikel ini sebagai sebuah sneak preview.

5. Betapa pentingnya Orang Cina jaman dulu di era pemerintahan Sukarno dan Soeharto
Banyak asumsi publik mengatakan bahwa orang Cina menjadi kaya di era Suharto sebab diktator Indonesia itu banyak membangun hubungan dengan grup Salim. Walaupun itu tak sepenuhnya salah ternyata itu juga tak sepenuhnya benar. Rupanya bahkan semenjak era perjuangan kemerdekaan melawan Belanda orang Cina sudah banyak memegang peranan. Kendati tak semuanya turun tangan untuk melawan penjajahan Belanda secara langsung, banyak di antara orang Cina menjadi pemasok supply bahan-bahan pangan bagi tentara.

Book Cover

Faktanya, kepercayaan Suharto kepada Liem dikarenakan dia adalah pemasok bahan pangan yang bisa dipercaya. Apabila Liem mengatakan kepada Suharto bahwa ia bisa memasok bahan sejumlah sekian dengan kualitas sekian – ia membuktikan hal tersebut. Kepercayaan antara keduanya yang terus bertumbuh itulah yang membuahkan hasil ketika Suharto suatu harinya duduk sebagai Presiden RI. Liem adalah sosok yang bisa dipercayainya untuk ‘membantu’ mengatur ekonomi Indonesia yang saat kejatuhan Sukarno sungguh carut marut dan penuh dengan inflasi.

4. Menguasai Negara Seberang
Banyak orang menyangka bahwa gurita Salim ada di Indonesia semata.

Itu asumsi yang salah.

Di bawah kendali Anthoni Salim (putra termuda dari Liem) mereka memutuskan untuk melakukan investasi di mana-mana termasuk di Singapura, Hong Kong, sampai Cina. Akan tetapi ada satu negara di mana Salim praktis menjadi raja ‘tersembunyi’ di tempat tersebut: Filipina. Grup Salim menguasai PLDT (seperti Telkom), Meralco (seperti PLN), Maynilad (seperti PAM), NLEX (seperti jalan tol Jakarta), LRT (jalur kereta subway Manila), sampai bagian dari saham distrik Fort Bonifacio (Senayan-nya Filipina). Dengan kata lain, semua nadi kehidupan di negara Filipina itu dikuasai oleh grup Salim secara diam-diam!

Penguasaan itu tidak datang dengan tiba-tiba tetapi secara perlahan-lahan. Penuh intrik, Anthoni Salim dengan sahabatnya Manny Pangilinan semula menguasai PLDT, kesuksesannya menguasai perusahaan tersebut bersambung dengan pembelian saham-saham dari perusahaan-perusahaan vital di Filipina lainnya. Memang tak seperti Indonesia jaman dulu, Filipina memperbolehkan perusahaan yang mengatur hajat hidup orang banyak dikuasai oleh swasta, termasuk pihak asing. Konon Indonesia pun akan meniru kebijakan ini di kemudian hari.

3. Monopoli Belum Berarti Sukses
Orang mengatakan bahwa monopoli yang diberikan oleh Suharto kepada Grup Salim adalah satu-satunya alasan kenapa mereka sukses. Padahal itu tidak benar seratus persen. Seperti yang saya katakan tadi, kemampuan Anthoni mendiversifikasikan bisnisnya di luar negeri terbukti menjadi sekoci penyelamat saat Krismon 1998 terjadi di Indonesia. Dan sebenarnya tak hanya itu. Banyak pihak yang diberi Suharto keistimewaan-keistimewaan spesial selama ia berdiri. Tak semuanya bisa memiliki kesuksesan seperti Salim.

Bill Clinton belum jadi Presiden

Salah satu contoh adalah anak-anak dari Pak Harto sendiri. Kendati ada banyak proyek mereka yang cukup sukses ada juga proyek-proyek mereka yang gagal. Sempati Air milik Tommy misalnya bangkrut total. Begitu juga proyek mobil nusantara (yang paling terkenal pada masa itu adalah Timor) yang malah memperburuk citra keluarga Cendana di mata masyarakat. Bahkan Grup Salim pun tidak sempurna. Monopoli cengkeh dan semen yang diberikan kepada mereka tidak selalu berjalan mulus dan beberapa kali merugi besar-besaran hingga perlu ditalangi oleh negara. Dengan kata lain, ya perlakuan spesial dari Suharto jelas sangat membantu bisnis mereka maju. Akan tetapi itu bukanlah satu-satunya alasan kenapa Salim masih tegar berdiri hingga sekarang – lebih dari dua dekade setelah digulungkannya sang pemberi monopoli.

2. The Forgotten History
Membaca buku ini mengingatkan saya akan begitu banyaknya komponen yang bergerak di negara ini selama lebih dari tujuh dekade kemerdekaannya. Adalah hal yang menakjubkan untuk sang pengarang bisa merangkum itu semua. Ambil contoh ketegasan Suharto dalam mengatasi kerusuhan Malari dan Tanjung Priuk yang hingga hari ini masih dinilai kontroversial. Atau bagaimana di awal berdirinya grup Salim ada dua orang konglomerat dari negara lain yang membantunya: Robert Kuok dari Malaysia dan Chearavanont dari Thailand.

Atau (dan ini yang jujur saja paling mengejutkanku) betapa besarnya andil seorang Mochtar Riady dalam membangun kekayaan grup Salim. Bagi yang tidak tahu (mungkin karena terlalu muda), Mochtar Riady memutuskan untuk tidak bergabung dengan Panin Bank yang didirikan sepupunya (pada era 1970an adalah bank swasta terbesar di Indonesia) dan memutuskan untuk bergabung dengan Bank BCA yang saat itu adalah bank kecil yang hampir kolaps. Di bawah tangan dingin Mochtar ia mentransformasi BCA menjadi bank terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun. 15 tahun setelah menggawangi BCA, Mochtar mundur dan bersama anak-anaknya mendirikan Bank dan grup baru: Lippo, sekarang pun menjadi salah satu grup konglomerat Indonesia yang terkenal dengan proyek-proyek ambisiusnya (apa kabar Meikarta?) .

Xi Jinping belum jadi Presiden

Terlepas dari suka tidaknya kita akan Presiden Suharto, sosok paling kontroversial dalam sejarah Indonesia, sulit untuk tidak salut kepada dirinya. Ia hampir tak pernah membuat keputusan yang keliru selama dua dekade awal memimpin negara Indonesia dan bisa dibilang kesalahan yang ia buat hanya satu (tetapi juga sekaligus paling fatal): ia terlalu lunak kepada anak-anaknya, membuat budaya korupsi dan nepotisme menjadi semakin menggila terutama di satu dekade terakhir sebelum ia ditumbangkan. Seperti kata beberapa orang pengamat: “suka tidak suka dengan Suharto maupun Sudono Salim, mereka adalah bagian integral dari sejarah Indonesia” . Sulit membayangkan wajah Indonesia saat ini apabila tidak ada BCA, Indocement, Indofood, Indosiar, Bogasari, Indomaret, dan banyak lagi perusahaan yang mereka miliki / dirikan bukan?

1. The Unlikely Protagonist
Satu hal yang tidak saya sangka-sangka dalam membaca buku ini adalah jebakan narasinya. Kendati hampir setengah awal cerita dalam buku ini dihabiskan untuk mengisahkan sosok naiknya Pak Harto menjadi Presiden Indonesia dan kisah masa lalu dari Om Liem di Cina hingga sampai di Indonesia, klimaks dalam cerita ini justru terjadi di tahun-tahun 1990an di mana kendali perusahaan saat itu sudah berada di tangan Anthoni, anak termuda dari Liem.

Bisa dibilang bagian yang paling menarik dari buku ini adalah membaca narasi dari Anthoni mengenai bagaimana ia secara tidak langsung menjadi pewaris tahta Salim Group dan bukannya kedua abangnya yang lebih tua daripada dirinya. Juga sama serunya adalah manuver-manuver bisnis dan politik yang dilakukan oleh Anthoni untuk mempertahankan aset-aset Salim yang pasca-reformasi diserang oleh berbagai pihak. Bak perenang yang terluka di lautan, Salim Grup setelah era 1998 siap disantap ramai-ramai oleh hiu-hiu yang mengelilinginya. Melihat Anthoni beradu otak; mengalah di tempat tertentu dan bertahan di tempat lain, sungguh bacaan yang mengesankan. Bisa dibilang bahwa the unlikely hero dalam kisah ini adalah Anthoni. Kalau diibaratkan video game, sang ayah membangun sebuah dinasti dengan mengaktifkan cheat code tetapi anaknyalah yang meneruskan pembangunan itu ketika cheat code sudah dinon-aktifkan dan setting kesulitan dinaikkan hingga level tertinggi.

Pada akhirnya, terlepas dari apakah kalian pengamat ekonomi / sejarah di Indonesia atau bukan, saya sangat – sangat merekomendasikan buku ini. Richard dan Nancy telah menggarap sebuah kisah yang memikat yang membuatku sulit meletakkannya mulai dari halaman pertama hingga terakhir. Jangan biarkan harganya yang tinggi menyurutkan langkahmu membelinya!

Leave a Reply