Buku pertama dari trilogi Rich Asians Kevin Kwan ini sudah saya dengar sejak tahun 2014 lalu, ketika adik-adikku tergila-gila membaca bukunya. Saya sampai heran dengan kenapa logat mereka mendadak berubah menjadi sedikit keSinglish-Singlishan dengan membubuhkan “lah” setiap kali membuat statement.

Seperti “Don’t be like that lahh”

Tapi selama beberapa tahun juga saya menganggap kalau novel ini lebih ditujukan kepada pembaca wanita daripada pria sehingga saya tidak pernah benar-benar tertarik membacanya. Baru ketika saya tahu kalau triloginya sudah tamat (Crazy Rich Asians memiliki dua sekuel: China Rich Girlfriend dan Rich People Problems) dan ada sebuah adaptasi film akan dibuat saya memutuskan untuk mencoba membaca Crazy Rich Asians. Mampukah memuaskanku?

halo3
Apakah kamu sinting dan kaya?

Rachel Chu mendapatkan kejutan dari sang pacar: Nicholas Young. Nick mengajak dia untuk berlibur ke negara asalnya: Singapura. Bagi Rachel yang adalah seorang ABC (American Born Chinese), Singapura adalah sebuah negara yang asing baginya. Oh dia tentu saja sudah pernah mendengar nama Singapura semenjak negara tersebut adalah salah satu negara termaju dan terkaya dunia tetapi ia belum pernah menginjakkan kaki ke tempat itu… dan Rachel tidak pernah tahu bahwa Nick – walaupun nampak sebagai seorang pria biasa di Amerika sana – sebenarnya adalah putra salah satu keluarga konglomerat paling kaya di Singapura sana.

Kedatangan Rachel ke Singapura (untuk menghadiri pernikahan dari sahabat Nick) berubah dari kunjungan yang santai dan menyenangkan menjadi sebuah petualangan di mana ia harus berhadapan dengan ibu Nick yang sangat protektif terhadap anaknya sampai belasan gadis-gadis sosialita Singapura lain yang semuanya menginginkan Nick menjadi pasangan hidup mereka. Bisakah hubungan Nick dan Rachel selamat dari turbulensi kehidupan sosial yang mendadak saja terbentang begitu jauh antara mereka?

halo4
Sang pengarang

Crazy Rich Asians membuatku tertawa terbahak-bahak hampir di setiap halaman karena Kevin Kwan menunjukkan pengetahuannya yang sangat mendalam tentang kultur Asia Tenggara – terutama etnis Chinese – saat menulis buku ini. Saya tahu beberapa pembaca barat mungkin sulit mempercayai betapa kayanya orang-orang yang ditulis oleh Kevin Kwan di sini tapi bagi mayoritas orang yang tinggal di Indonesia dan Asia Tenggara, hal ini sebenarnya tidak seberapa mengherankan. Saya sendiri kenal beberapa pribadi seperti yang ditulis di dalam buku ini.

Tapi permasalahan yang dihadapi oleh Rachel dan Nick sebenarnya bukan sekedar terletak pada kekayaan mereka saja tetapi culture clash antara Chinese yang dibesarkan di Amerika dan Chinese yang dibesarkan di Singapura. Ada banyak sekali hal yang menyentil tradisi kita orang Chinese. Kevin Kwan secara blak-blakan menulis seorang Singapura meledek pemerintah mereka dengan “Apa yang bisa kita lakukan sebagai negara kecil kalau ratusan juta Muslim di sekeliling kita memutuskan menyerang kita? Paling juga mampus“. Sebuah sentimen yang saya rasa akan diamini etnis Chinese minoritas di Indonesia dan Malaysia diam-diam saat membaca novel ini. Tak hanya itu Eleanor, mama dari Nick yang terang-terangan mengatakan kalau Rachel tak layak menikah dengan anaknya, juga adalah refleksi Asia (kalau ini tak hanya etnis Chinese saja) yang sangat memikirkan Bibit, Bebet, Bobot dalam memilih pasangan hidup bagi anak mereka.

Pun begitu Crazy Rich Asians tak seratus persen sempurna kalau dinilai sebagai buku yang berdiri sendiri. Masalah antara Nick dan Rachel walau memiliki konklusi di novel ini tak sepenuhnya tuntas. Setali tiga uang dengan subplot cerita Astrid (sepupu dari Nick) yang permasalahan dengan suaminya seakan-akan berdiri sendiri dan tak nyambung dengan plot cerita utama. Sepertinya memang Kevin Kwan mendesign buku ini menjadi bagian pertama dari trilogi dan bukannya sebuah buku yang berdiri sendiri. Ia juga cukup cerdas meninggalkan beberapa petunjuk-petunjuk mengenai jalan cerita apa yang akan dirajut olehnya di buku selanjutnya.

halo2
Sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia lo

Membaca sebuah buku yang mengangkat kultur Overseas Chinese dengan begitu kentalnya – walaupun secara satir – adalah kesenangan tersendiri bagiku. Itu sebab tidak ada buku seperti Crazy Rich Asians yang pernah terbit dan meledak di pasar Amerika seperti buku ini. Tak sabar rasanya untuk melahap buku berikutnya sambil menanti versi filmnya hadir di layar lebar bulan Agustus mendatang. (Note: Review ini saya tulis di bulan Mei sebelum film Crazy Rich Asians diputar). Oh, dan tentu saja banyak tempat-tempat yang ditulis Kwan dalam buku ini yang sepertinya perlu saya jelajahi kalau singgah di negara-negara tersebut!

Score: 8.5

Leave a Reply