Peringatan: Review ini membeberkan spoiler bagi cerita trilogi pertama The Mortal Instruments: City of Bones, City of Ashes, dan City of Glass.

Di akhir buku City of Glass, kisah The Mortal Instruments sebenarnya sudah bisa ditutup. Valentine sudah dikalahkan, Jace dan Clary sudah bersama, Jocelyn dan Luke sudah saling menyatakan perasaan mereka masing-masing, bahkan Simon sekalipun sudah menerima nasibnya menjadi seorang vampir. Bagi yang suka shipping pasangan gay, bahkan Magnus dan Alec sudah secara resmi menjadi pasangan. Segalanya sudah ditutup dengan hampir sempurna oleh Cassandra Clare. Bagi mereka yang ingin selesai mengikuti cerita The Mortal Instruments pun bisa berhenti di sana. Toh melihat seri The Mortal Instruments begitu laris manis di pasaran, Cassandra Clare menyisakan beberapa hint-hint yang menunjukkan bahwa kisah ini masih bisa dilanjutkan kembali apabila animo pembaca memang besar. Dan demikianlah, setelah The Infernal Devices: Clockwork Angel dirilis dan sukses besar, Cassandra Clare lanjut merilis trilogi baru The Mortal Instruments yang buku pertamanya berjudul: City of Fallen Angels.

Sesuai ending City of Glass: awal dari City of Fallen Angels terbilang damai tenteram. Momen-momen humor dan light di dalam novel ini diawali dengan bagaimana Simon harus berhadapan dengan fakta bahwa ia sekarang tengah kencan dengan dua gadis cantik: Maia dan Isabelle, dan ia kebingungan siapa di antara keduanya yang harus ia pilih.

images (10)
Book Four

Jauh sekali bukan dengan pembukaan City of Bones di mana Clary harus berhadapan dengan rumahnya yang diserang oleh para iblis dan membuat sang Ibu lenyap diculik Valentine? Toh kedamaian yang dihadapi oleh para Shadowhunters dan Simon dan lain-lainnya perlahan-lahan dikikis oleh kegelapan yang tak mereka sadari. Salah satu masalah pertama muncul saat Jace menyadari bahwa dirinya terus menerus diganggu oleh mimpi buruk di mana dalam mimpinya ia membunuh Clary – orang yang paling ia kasihi. Ketakutan mimpinya menjadi kenyataan membuat sikap buruk Jace kambuh kembali: ia menjauhi Clary dan membuat sang kekasih kebingungan akan sikapnya. Masa-masa damai yang dihadapi oleh Simon juga membuatnya semakin sadar akan keabadian yang ia hadapi. Mendadak hidup selamanya dengan hanya minum darah tidak lagi membuatnya senang – apalagi karena ibu Simon juga semakin lama semakin gelisah dan curiga akan sifat anaknya yang berubah drastis dari dulu sebelum Simon menjadi vampir. Perserikatan antara dunia Downworld dan Shadowhunters pun masih rentan perpecahan disebabkan koalisi ini terjadi hanya karena mereka menghadapi musuh yang sama: Valentine. Begitu musuh yang sama itu telah hilang rasisme antara dua dunia (dan lima spesies) yang sudah berlangsung ratusan tahun sulit mati begitu saja.

Awal dari City of Fallen Angels ini terbilang agak lambat pacing-nya dan saya sepenuhnya bisa memahami hal itu. Setelah menyelesaikan semua konflik yang ada perlu waktu bagi sang penulis untuk kembali menyusun bidak-bidak catur dalam ceritanya. Buku pertama ini sepenuhnya digunakan untuk hal tersebut. Pembaca akan dibawa untuk mengetahui kenapa Jace mengalami mimpi buruk dan dilema-dilema apa saja yang dihadapi oleh Simon dalam kehidupan barunya sebagai seorang vampir. Ada banyak juga karakter baru yang diperkenalkan oleh Clare dalam kisah ini; yang paling favorit bagiku adalah sosok Kyle yang ternyata memiliki hubungan masa lalu yang erat dengan salah satu karakter lain dalam kisah ini. Clare juga menulis beberapa kejadian yang telah disebut di trilogi sebelumnya – hanya kali ini dari perspektif yang berbeda – sehingga pembaca kali ini mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh dari kejadian-kejadian tersebut.

images (7)
Cover City of Fallen Angels

Pun begitu saya merasa kecewa untuk satu hal di novel ini: hubungan antara Jace dan Clary. Alih-alih membiarkan hubungan ini berkembang secara benar, Clare seakan memaksakan drama antara keduanya. Hampir separuh lebih novel berputar-putar dalam sub-plot mimpi buruk Jace dan bagaimana dia merahasiakannya dari Clary sehingga membuat hubungan keduanya terasa kembali maju-mundur. Bagiku ini menjengkelkan sekali karena saya sudah bosan hubungan keduanya maju-mundur semenjak identitas mereka masih tidak jelas kakak-adik atau bukan. Membuat hubungan mereka masih saja maju-mundur hingga di trilogi ini bukannya membuatku simpatik dengan keduanya melainkan malas dengan keduanya. Beruntung di saat saya bosan dengan sang dua lakon utama yang suka galau tanpa sebab ini Simon, yang semakin lama semakin diposisikan sebagai sosok protagonis ketiga, justru merebut hati dengan segala kebingungannya beradaptasi dengan hidup baru. Sebagai sosok protagonis pendukung di trilogi sebelumnya pembaca sempat diberi sedikit ulikan mengenai apa yang ada di benak Simon harus menjalani hidupnya sebagai vampir tetapi fokus itu benar-benar diperjelas di dalam novel pertama trilogi baru ini. Pergulatan batin Simon mengenai dengan siapa ia harus hidup, bagaimana ia menjelaskan siapa dirinya kepada sang Ibu, sambil tetap membantu Clary dan Jace menyelesaikan masalah mereka, langsung melejitkan sosoknya sebagai salah satu karakter favoritku di novel ini.

Di akhir City of Fallen Angels Clare rampung menyusun posisi para karakter di dalam ceritanya. Konflik kali ini sudah terbangun – baik dengan cara yang baik maupun yang dipaksakan, siapa sang villain utama pun telah jelas. Apakah ini bisa dikapitalisasi di buku kedua nanti? Semoga saja begitu, karena kalau tidak sia-sia saya membaca sifat emo tidak jelasnya Jace dan Clary sepanjang buku ini. Oh dan satu lagi: tolong hentikan drama yang dipaksakan antara Jace dan Clary. It’s not cute anymore, it’s just annoying.

images (8)
New Edition Cover

Score: 7.5

Leave a Reply