Bahwa Video Games adalah sebuah industri hiburan raksasa rasanya merupakan sebuah rahasia umum sekarang. Saat artikel ini ditulis Red Dead Redemption II dari Rockstar Games baru saja memecahkan rekor industri sebagai rilis produk entertainment terbesar sepanjang sejarah. Dengan 725 Juta USD yang diperoleh game ini dalam weekend pertamanya, Red Dead Redemption 2 meraih pendapatan nyaris tiga kali lipat dari opening weekend Avengers: Infinity War yang merupakan pemegang opening weekend film terbesar sepanjang masa. Luar biasa bukan?

Dan cerita sukses dari Rockstar dan Red Dead Redemption II bukan kasus yang terisolir. Setiap tahun banyak sekali titel game mulai dari game blockbuster seperti Call of Duty dan Assassin’s Creed sampai game-game indie macam Super Meat Boy dan Underworld mencatat sukses di pasaran. Belum lagi kalau kita berbicara tentang kesuksesan game-game online maupun mobile. Siapa yang tidak pernah main game seperti Clash of Clans, Mobile Legends, atau Ragnarok M di telepon genggam mereka? Dengan berbagai platform yang bisa dijadikan pilihan sepertinya membuat sebuah video game adalah resep mudah menuju sukses. Begitu?

images
Darah dan Air Mata

Tidak semudah itu ternyata. Buku berjudul Blood, Sweat and Pixels yang ditulis oleh Jason Schreier menunjukkan bagaimana pembuatan video game sarat dengan kesulitan dan patah hati. Bahwa di balik segenggam game sukses yang kamu mainkan, ada lebih banyak lagi yang gagal dirilis di pasaran atau bertransformasi dari ide awalnya menjadi sebuah produk berbeda ketika ia dirilis. Di dalam buku ini Jason Schreier – yang melakukan risetnya dengan wawancara puluhan hingga ratusan orang di berbagai perusahaan developer game yang berbeda – menuliskan kisah penciptaan di balik sepuluh game; baik yang sukses maupun yang tidak sukses di pasaran.

Saya senang dengan bagaimana Schreier berfokus pada beberapa game yang berbeda dalam buku ini sebab pembuatan game blockbuster dan indie tentunya memiliki tantangan yang berbeda. Begitu juga dengan menciptakan genre game berbeda ala FPS dengan 2D Platform atau bahkan sebuah proyek yang di atas permukaan terlihat sederhana: menciptakan sebuah sekuel game. Coba lihat deretan game yang dicover oleh Schreier: Pillars of Eternity, Uncharted 4, Stardew Valley, Diablo III, Halo Wars, Dragon Age: Inquisition, Shovel Knight, Destiny, The Witcher 3, sampai Star Wars 1313… semuanya adalah game yang berbeda, cakupan yang berbeda, genre yang berbeda, dan dengan kasus yang berbeda. Ini membuat penulisan setiap chapter menarik dengan sejarahnya masing-masing. Tidak ada satupun dari pembuatan game ini memiliki tantangan yang sama di dalamnya.

images (1)
Berbagai tipe game dicover di sini

Ada game seperti Uncharted 4 yang kehilangan Amy Hennig, sang penggagas franchise, setelah Naughty Dog dan Hennig memiliki visi berbeda untuk chapter terakhir petualangan Nathan Drake. Di chapter lain ada Stardew Valley yang menggambarkan kesulitan seorang developer game indie yang harus menguras semua tabungannya dan berdoa supaya game yang ia rilis bisa sukses… atau ia bakalan bangkrut seutuhnya. Beberapa game ironisnya bahkan tak memiliki akhir yang manis, saya tidak mau spoiler game mana saja tetapi kalian yang mengikuti perkembangan dalam industri game tentunya tahu mana-mana saja game yang tidak sukses di pasaran, membuat perjuangan orang-orang yang membuat game di dalamnya seakan sia-sia belaka. Terlepas dari sukses tidaknya sebuah game dan seberapa besar cakupan game tersebut, ada satu benang merah yang bisa ditarik dari setiap chapter di buku ini: semua game dalam riset dibuat dengan darah, keringat, dan air mata orang-orang yang terlibat dalam proyeknya. Bekerja hingga 100 jam per minggu bukanlah hal yang mengherankan bagi mereka, membuat judul buku ini sungguh pas.

images (2)
Versi Audiobook pun tersedia

Terlepas dari apakah kalian pengikut industri video game atau tidak saya sangat merekomendasikan Blood, Sweat, and Pixels masuk dalam daftar baca kalian. Bagi kalian yang adalah seorang gamer, sejarah pembuatan tiap-tiap game ini rasanya akan membuat kalian bisa lebih mengapresiasi game-game favorit kalian. Dan bagi kalian yang bukan gamer buku ini ditulis dengan bahasa sehari-hari (sedikit istilah teknis) sehingga kalian dapat memahami bahwa industri game bukan sekedar industri buat ‘anak-anak’ semata. A definite must read, this is.

Score: 9.0

Leave a Reply