Setelah dikecewakan oleh City of Fallen Angels dan City of Lost Souls, saya sudah tidak banyak berharap dengan penutup dari trilogi kedua The Mortal Instruments ini. Saya bahkan merasa bahwa sang penulis Cassandra Clare sudah kehabisan ide dan mencoba memanjang-manjangkan jalan cerita yang sebenarnya tak perlu dibuat sampai tiga buku. Anehnya buku ini malahan jauh lebih tebal ketimbang kedua prekuelnya, apakah memang Clare masih memiliki banyak cerita sehingga memerlukan halaman sebanyak itu? Satu-satunya harapan saya dalam membaca buku ini adalah menyadari bahwa trilogi The Infernal Devices sudah selesai saat buku ini ditulis jadi fokus dari Clare mungkin tak terbagi dalam dua buku lagi.

images (2)
A complete set

Prolog dari buku ini mengambil sudut pandang yang tidak lazim: Emma Carstair dan Julian Blackthorn. Keluarga dari kedua Shadowhunters muda ini mendadak hancur ketika tempat yang mereka tinggali diserang oleh si keji Sebastian. Dari sudut pandang mereka pembaca tahu bahwa Sebastian benar-benar serius dalam mengeksekusi rencananya menghancurkan dunia Shadowhunters. Serangan dari satu tempat ke tempat lain makin banyak mengurangi kekuatan Shadowhunters. Yang mengerikan adalah kekuatan Sebastian sekarang mampu merubah para Shadowhunters tersebut menjadi Dark Shadowhunters yang mengabdi kepadanya secara loyal dan sepenuhnya. Dengan kata lain setiap satu anggota Nephilim yang hilang dan dikonversi oleh Sebastian, kekuatan Sebastian menjadi lebih kuat. Karena khawatir dengan keadaan ini semua Shadowhunters yang tersisa pun dipanggil pulang ke dalam Idris untuk berlindung.

Sebastian tidak tinggal diam begitu saja. Tanpa ada sosok Shadowhunters yang bisa ia buru, ia mengubah pemburuan pasukannya pada golongan lain: para Downworlders yang masih tersisa. Dengan cerdik Sebastian berusaha memecah belah kesatuan antara para Nephilim dan Downworlders. Sepertinya Sebastian sadar bahwa kekalahan sang ayah: Valentine, adalah akibat meremehkan kekuatan gabungan dari Shadowhunters dan Downworlders – dan ia tidak ingin meniru kesalahan yang sama. Dengan nyaris putusnya ikatan persaudaraan antara kedua belah pihak ini kubu Shadowhunters makin terisolasi sendiri harus menghadapi Sebastian tanpa bantuan rekan-rekan Vampir, Werewolf, Fairy, maupun Warlock.

images (3)
Cover

Tentu saja para jagoan utama kita tidak tinggal diam. Satu-satunya orang yang bisa mengalahkan Sebastian sekarang adalah Jace sebab di dalam tubuhnya terdapat Heavenly Fire – sebuah api surgawi suci yang masuk dalam dirinya setelah ia dibebaskan dari pengaruh Sebastian. Jace, Clary, Simon, Isabelle, dan Alec memutuskan untuk melakukan misi gila untuk bisa menghentikan Sebastian; bahkan bila itu berarti mereka harus memasuki dimensi dunia paralel guna memburu anak iblis tersebut.

City of Heavenly Fire adalah sebuah peningkatan kedua buku sebelumnya karena jalan cerita yang memiliki konsep jelas. Juga karena kita tahu bahwa showdown dengan Sebastian adalah penantian yang sesungguhnya, resiko kematian dan bahaya dii dalam novel kali ini juga menjadi jauh lebih riil. Berbeda dengan di buku-buku sebelumnya, dalam buku ini saya tidak pernah yakin siapa yang bakalan selamat dalam perjuangan menghadapi Valentine. Bisa ditebak Clare tidak ragu menghabisi beberapa karakter favorit pembaca di dalam novel ini. Pun semenjak awal novel ini sudah memposisikan Sebastian sebagai seorang villain kuat yang tak kalah brilian dari sang ayah dalam mengeksekusi taktiknya – dengan satu pengecualian: kecintaannya kepada Clary. Sungguh saya tidak paham apa yang membuat Sebastian selama novel ini berusaha mengemis cinta Clary dan memaksanya tinggal bersama dengan dirinya sebelum ia rela menguasai dunia. It’s an old plot… and a stupid one at that.

81gusYka42L
Audiobook Version

Walaupun fokus buku ketiga sudah lebih jelas dari sebelumnya, saya tidak seberapa suka dengan point of view yang jumlahnya kebanyakan dalam buku ini. Selain membagi fokus antara lima anak muda protagonis utama buku ini, Cassandra Clare masih membagi fokus di beberapa karakter lain seperti pada Maia dan grup Downworlders, grup Jia dan Shadowhunters yang tersisa di Idris, sampai grup Magnus, Luke dan lainnya yang ada di tempat lain. Semua fokus yang terpecah belah ini membuat flow dari cerita yang ada terganggu. Akan tetapi kesalahan terbesar dari Clare adalah memasukkan dua karakter yang banyak memakan porsi cerita: Emma Carstair dan Julian Blackthorn. Pada awalnya saya bingung kenapa dua karakter yang tak memegang peran penting dalam cerita (selain sekedar pada prolog cerita) diberi begitu banyak momen bercerita di sini. Belakangan saya baru tahu bahwa keduanya rupanya diset oleh Clare sebagai duet protagonis dalam trilogi Shadowhunters berikutnya: The Dark Artifices. Dengan kata lain konflik darah Valentine memang sudah ditutup di dalam buku ini tetapi saga Shadowhunters masih berlanjut di generasi-generasi Shadowhunters (yang lebih) muda. Kalau dalam serial TV kisah Emma dan Julian ini bak backdoor pilot ke serial TV yang baru.

images
New Cover Version

Bila harus menilainya secara keseluruhan, trilogi kedua The Mortal Instruments ini mengalami penurunan yang sangat jauh dibandingkan trilogi pertamanya. Mulai dari sosok villain yang lemah dalam diri Sebastian sampai jalan cerita yang terasa dipanjang-panjangkan (sebagian buku pertama dan ketiga serta seluruh buku kedua), saya merasa bahwa trilogi ini hanya tertolong interaksi dari karakter-karakter yang sudah kita kenal selama ini. Tidaklah mengherankan bahwa momen-momen paling emosional dan memorable dalam trilogi kedua ini tidak datang dari pertarungan epik antara kuasa cahaya dan kegelapan melainkan dari pengorbanan-pengorbanan yang rela dilakukan Simon atau Magnus atau Clary dan lain-lain demi para sahabat mereka. Pada akhirnya, their friendship, brotherhood, and sisterhood are the one that truly matters.

Score: 7.5

Leave a Reply