Ketika Young Justice: Invasion dicancel beberapa tahun lalu kalangan fanbase DC (termasuk saya) sangat kecewa. Maklum Young Justice yang diciptakan oleh kreator Brandon Vietti dan Greg Weisman memiliki jalan cerita superhero DC terbaik semenjak serial Justice League dari Timmverse dulu. Alasan cancel yang diungkap oleh DC membuat saya makin uring-uringan: serial tersebut dianggap tidak bisa menjual mainan yang cukup banyak. Ini membuat saya beranggapan kalau DC hanya sekedar perusahaan yang profit-oriented tanpa memperhatikan keinginan para fansnya.

Setelah bertahun-tahun lamanya saya sudah menyerah berharap Young Justice akan dibuat season ketiganya. But never say never. Sebuah serial animasi jauh lebih mudah untuk dihidupkan kembali ketimbang serial live action. Ya, lebih mudah memanggil para pengisi suara berkumpul kembali ketimbang menyesuaikan jadwal aktor-artis yang sibuk dengan proyek-proyek baru mereka ketika serial TV-nya sudah dicancel atau tamat. Tentu saja dari alasan finansial, Young Justice juga dihidupkan kembali dengan dukungan dari Netflix. Perusahaan streaming tersebut menilai bahwa dua season pertama dari Young Justice sangat banyak ditonton, menandakan animo penonton masih besar untuk mengikuti kelanjutannya. Di tahun 2017 berita resmi dirilis bahwa serial ini akan dilanjutkan dan akhirnya dirilis di tahun 2019.

Dengan jeda enam tahun dari akhir season kedua di 2013 hingga paruh pertama season ketiga di 2019, apakah Young Justice masih bisa mempertahankan kualitas cerita mereka?

Jawabannya: Bisa.

Young Justice: Outsider dibuka dengan persengketaan antara anggota Justice League. Batman memutuskan mengundurkan diri karena merasa Justice League sudah tidak efisien. Tim yang pada awalnya didirikan untuk menolong manusia dan mengatur para superhero belakangan sudah menjadi instrumen politik. Lex Luthor yang mengepalai dewan PBB (United Nations) menekan Justice League untuk tak beroperasi seenak hati tetapi harus melalui persetujuan negara-negara yang hendak mereka tolong dulu. Ini membuat Liga Keadilan tersebut menjadi tidak efisien dalam kinerjanya.

Di sisi lain para golongan metahuman (manusia dengan kekuatan) juga tengah mengalami prahara. Banyak sekali metahuman yang diculik dan kemudian digunakan sebagai alat perang dalam galaksi lain (Rann dan Thanagar). Mereka diculik, dicuci otak, lantas dibawa ke planet lain untuk berperang melawan Justice League dan para superhero lain yang berusaha menjaga kestabilan galaksi. Nah, para superhero di bumi dan di antariksa pun sekarang tengah terkuras sumber dayanya. Para heavy hitter seperti Superman, Wonder Woman, Flash, dan para senior di Justice League harus bertarung di luar angkasa sementara Nightwing, Superboy, dan lain-lain menjaga keamanan di bumi.

Kualitas animasi dalam serial Young Justice bisa ditebak mengalami banyak peningkatan dibandingkan tahun 2013 dulu di mana gambar terasa lebih tajam di era HD ini. Tak hanya itu Weisman dan Vietti sudah tak takut langsung terjun ke dalam mitologi dunia DC yang lebih mendalam di season ketiga ini. Satu hal yang saya senang adalah serial ini tak merasa perlu merekap lebih lanjut season pertama dan kedua di sini. Kamu dianggap sudah tahu dan menonton kedua season itu karena ada banyak hubungan antar karakter dan dialog di dalamnya yang mereferensikan apa-apa saja yang terjadi di dua season sebelumnya. Ini bisa membingungkan bagi para penonton baru – tetapi highly rewarding bagi mereka yang memang merupakan fans serial ini.

Selain kembalinya banyak karakter favorit lama, season ini juga memperkenalkan grup Outsider baru di dalam kwarter Cyborg, Geo-Force, Forager, dan Halo. Di antara keempatnya saya merasa Geo-Force dan Forager mendapatkan back story yang terbaik. Kisah origin Cyborg terbilang sudah sangat biasa (dan berulang kali diceritakan di medium DC modern) sementara Halo di sini diubah menjadi sosok wanita Muslim dari region Quraci (Timur Tengah fiktif di dunia DC) terasa sangat SJW sekali (dia digambarkan sempurna tanpa cacat cela). Satu-satunya yang mengecewakan bagi saya di paruh pertama season ini adalah begitu kecilnya porsi Kaldur’ahm alias Aquaman yang di season pertama bertindak sebagai pemimpin dari grup Young Justice ini. Apa mungkin ini mandat DC supaya penonton bocah tidak bingung mengingat Aquaman layar lebar sekarang adalah Arthur Curry-nya Jason Momoa ya?

Terlepas dari kekurangan itu saya menilai paruh pertama dari Young Justice: Outsider is a great animated superhero series. Saya sangat menantikan paruh keduanya yang menjanjikan perang besar-besaran dengan kubu Apokolips ditambah dengan disadurnya salah satu kisah paling fenomenal dari komik Teen Titans: The Judas Contract. Ya, kalau Terra dan Deathstroke sudah muncul, kalian tak bisa tak berharap kisah ini disadur bukan?

Score: 8.0

Leave a Reply