Star Wars Episode IX: The Rise of Skywalker

Saat Star Wars Episode VIII: The Last Jedi dirilis kubu fanbase Star Wars terpecah menjadi dua. Di satu sisi banyak orang mengkritik The Last Jedi sebagai film yang tak menghargai legacy characters dari trilogi-trilogi Star Wars sebelumnya (Han Solo dan Luke Skywalker). Di sisi lain banyak juga fans yang memuji kata-kata Kylo Ren yang berbau meta terhadap mitologi Star Wars secara keseluruhan: “Let the past die, kill it if you have to“.

Dua kontradiksi fanbase Star Wars yang besar ini akhirnya membuat The Last Jedi tidak bisa sesukses The Force Awakens. Lebih mengerikannya lagi film spin-off Star Wars tentang Han Solo muda juga gagal total di pasaran. Disney dibuat bertanya-tanya, bagaimana cara menutup trilogi ini tanpa menyinggung siapapun? Dipanggillah J.J. Abrams kembali duduk di kursi sutradara, membuat sang sutradara satu-satunya orang yang pernah menyutradarai dua film Star Trek dan dua film Star Wars di masa hidupnya. Terlepas dari achievement tersebut, apakah Abrams sukses menutup trilogi ketiga dari sembilan film yang disebut sebagai The Skywalker Saga ini?

Apakah kalian masih ingat dengan Emperor Palpatine? Ya, sosok jahat ini ternyata masih hidup dan selama ini mengendalikan semua kejahatan yang terjadi di belakang layar. Lebih mengerikannya lagi, Palpatine siap memobilisasi kesatuan Final Order, sesuatu yang LEBIH BESAR lagi dibandingkan First Order. Rey dan Kylo sama-sama memburu Palpatine dengan dua tujuan yang berbeda. Rey dan kelompok Resistance yang ada ingin mengalahkan Palpatine sebab itu merupakan satu-satunya cara menyelamatkan jagad raya dari cengkeraman imperialisme Empire yang hendak bangkit kembali. Di sisi lain Kylo ingin menghabisi Palpatine sebab ia merasa posisinya sebagai pemimpin First Order menjadi terancam karena kebangkitan sang penguasa lawas.

Saya bukan orang yang menyukai The Last Jedi, tetapi saya juga bukan orang yang membencinya. Saya sebenarnya cukup salut dengan keberanian dari Rian Johnson mengambil keputusan-keputusan kreatif yang tidak lazim. Sayangnya dengan fanbase yang terpecah belah karena film tersebut Disney memutuskan untuk banting setir ke arah yang berbeda. Salah satu twist terbesar dalam film lalu adalah bagaimana sosok Snoke dibunuh dalam film lalu, membuat penonton bingung apakah Kylo Ren-kah yang disiapkan menjadi bos terakhir saga ini? Rupanya tidak. Palpatine yang disangka banyak orang sudah tewas di penghujung trilogi yang lalu rupanya masih hidup, entah bagaimana caranya. Lebih aneh lagi adalah bagaimana sosok ini tak pernah sekalipun disebutkan dalam dua entri sebelumnya tetapi lantas muncul sebagai figur yang sangat dominan di film ini.

Jalan cerita dalam The Rise of Skywalker ini sebenarnya sangat sederhana: pencarian Palpatine dan menghentikan rencana jahatnya. Karena jalan cerita yang terbilang sederhana (dengan beberapa twist yang sudah bisa saya baca dari awal) J.J. Abrams punya lebih banyak waktu untuk berfokus pada karakter-karakter di film ini. Akhirnya Rey, Finn, dan Poe punya lebih banyak waktu untuk berpetualang bersama-sama, tidak seperti di film The Last Jedi di mana ketiganya berada di tempat yang berbeda-beda mengerjakan subplot mereka masing-masing. Di sini ketiganya akhirnya bisa berpetualang bersama dan membangun chemistry antar ketiganya. Apakah chemistrynya sukses terbangun? Tentu tidak seapik trio Luke, Han, Leia yang mampu membangun chemistry mereka dalam kurun tiga film, tetapi paling tidak lebih lumayan. Saya enjoy dengan bagaimana Rey dan Finn kadang beradu pendapat dan bromance antara Finn dan Poe (saya tidak setuju mengshipping keduanya). Di luar itu hubungan antara Rey dan Kylo story arc-nya pun berlanjut di sini. Saya tak bilang story arc keduanya buruk karena ini merupakan satu-satunya konstan dari ketiga film tetapi saya juga tidak bisa bilang ada yang spesial / mencengangkan dari perkembangan hubungan tersebut.

Saya ingin berbicara spesifik mengenai story arc dari Leia Organa. Sebagai satu-satunya sosok dari trio awal yang tersisa, Leia seharusnya mendapatkan porsi yang lebih besar di film ini, yang sayangnya tak bisa terjadi karena Carrie Fisher meninggal secara tragis beberapa tahun silam. Akan tetapi saya harus memuji tim film ini yang mampu memberikan penghormatan terakhir kepada Carrie Fisher. Ada satu momen yang sangat emosional dalam The Rise of Skywalker yang berputar pada Leia dan Chewbacca. Bukan rahasia bahwa J.J. Abrams menyesali keputusannya membuat Leia berjalan melewati Chewie di ending The Force Awakens dan dia membayar lunas kesalahannya di film ini dengan satu-satunya adegan di film yang membuatku menitikkan air mata. That’s a very powerful scene, and I wish there were more scenes like that in this new trilogy.

Bagi mereka yang tak peduli dengan jalan cerita dan logika film dan sekedar ingin menonton film ini sebagai tontonan popcorn santai maka… well, congratulations. Film The Rise of Skywalker adalah sebuah film yang megah dan mewah secara visual. Ini adalah pertama kali semenjak Rogue One terjadi perang besar-besaran antara kubu Empi… maksud saya Final Order yang berseteru dengan Resistance. Visual yang diaplikasikan oleh J.J. Abrams di dalam film ini megah dan menunjukkan pertarungan secara seru. Sayangnya konfrontasi akhir menghadapi Palpatine terasa terlalu anti-klimaks dan asal-asalan; seakan menjadi tema trilogi ini secara keseluruhan – sesuatu yang naik turun dan tidak pernah bisa stabil kualitasnya.

Jadi pada akhirnya apa pendapat saya mengenai film ini dan trilogi baru Star Wars di bawah Disney? Mengingat saya tidak pernah merupakan fans berat dari Star Wars bagi saya film-film ini ya… biasa saja. Secara teknis ia apik tetapi secara film terlupakan. The Force Awakens bertumpu pada nostalgia dan The Last Jedi bertumpu pada kontroversi, membuat The Rise of Skywalker sebuah film yang tak tahu mau bertumpu pada apa, menjadikannya penutup yang biasa-biasa untuk entri penutup yang seharusnya luar biasa. Well, at least masih ada serial TV The Mandalorians yang menjaga kekuatan the force tetap kuat dalam franchise ini!

Score: 6

Leave a Reply