Love and Monsters

Menggabungkan genre Coming of Age dan Dystopian bukan tugas yang mudah. Apalagi bila harus menaburkan sedikit bumbu komedi di dalamnya. Selama ini, hanya film Zombieland saja yang menurutku sukses menggabungkan semua unsur-unsur itu menjadi satu. Film Love and Monsters yang dibesut oleh sutradara baru Michael Matthews mencoba mengulangi kesuksesan itu. Berhasilkah?

Film Love and Monsters pertama kali masuk penggarapan pada awal tahun 2019. Tadinya film ini diharapkan bisa dirilis pada awal tahun 2020. Tentu saja, dikarenakan wabah Pandemik COVID, film Love and Monsters ditunda rilisnya hingga tahun 2021. Dan kemudian, studio film Paramount memutuskan bahwa lebih baik bagi mereka untuk merilis film ini langsung ke dalam format Video on Demand (VOD) ketimbang menunggu sampai tahun 2021 – apalagi karena situasi Wabah yang masih belum menentu hingga sekarang.

Film Love and Monsters bersetting setelah umat manusia nyaris punah dari muka bumi akibat Bumi kedatangan Meteor.

Jangan salah kaprah, Meteor yang menuju Bumi itu tidak pernah sampai. Umat manusia bersatu dan meluncurkan ratusan bahkan ribuan roket nuklir untuk menghancurkannya. Mereka berhasil. Meteor hancur… tetapi ada efek samping yang tak diperhitungkan oleh manusia. Serangga-serangga dan Reptil terpapar oleh efek Radiasi nuklir sehingga mereka termutasi menjadi raksasa. Kebuasan dari binatang-binatang ini membantai kaum manusia. Nyaris 95% dari kaum manusia terbunuh habis – sementara mereka yang tersisa terpaksa bersembunyi dan hidup di bawah permukaan tanah.

Termasuk Joel Dawson.

Joel Dawson adalah salah seorang survivor dari insiden yang nyaris menewaskan seluruh umat manusia tujuh tahun yang lampau. Di saat itu Joel terpisah dari pacarnya, Aimee, yang tergabung dalam koloni bawah tanah lain berjarak sekitar 80 mil (kurang lebih 120 km). 120 km, jujur saja, bukan jarak yang jauh. Bahkan Jakarta ke Bandung saja lebih jauh! Dengan kata lain andaikata ini situasi normal, Joel dan Aimee bisa dengan mudah bertemu, cukup menyetir satu dua jam saja. Tapi ini bukan situasi normal.

Di saat dunia sudah kiamat seperti ini 120 km terasa bak bentangan jarak yang sangat jauh, apalagi karena permukaan tanah kini dihuni oleh banyak ‘monster’, alias makhluk-makhluk yang termutasi. Karena Joel masih terkenang-kenang akan cintanya kepada Aimee, ia memutuskan untuk berjalan ke koloni tersebut, mengejar cintanya.

Semoga saja ia selamat.

Apa yang membuat Love and Monsters menjadi endearing adalah outlook positif-nya terhadap dunia. Walaupun dunia praktis telah kiamat, Joel tidak pernah memandangnya seperti itu. Ia tetap optimistis memandang hidup, tetapi di saat yang bersamaan ia juga tak terlalu berlebihan optimistis sampai terlihat bak karikatur. Performa yang pas antara dua sisi itu membuatku salut dengan akting dari Dylan O’Brien. Dylan sebelumnya juga pernah bermain di film dengan genre yang serupa: trilogi The Maze Runner, dan caranya memainkan Joel dan Thomas (karakter utama The Maze Runner) sangat berbeda – menandakan betapa Dylan aktingnya kian matang saja.

Kendati di sebagian besar film ini Dylan O’Brien banyak berakting sendiri, ia juga beberapa kali bertemu dengan karakter-karakter lain yang memorable dalam perjalanannya. Saya tak ingin menspoilerkan siapa-siapa saja yang ia temui, tetapi yang jelas semuanya membantu Joel untuk tumbuh dan berkembang dalam mencari Aimee.

Film ini sedikit banyak mengingatkanku akan komik Y: The Last Man karya Brian K. Vaughan. Sosok Joel di sini mengingatkanku akan Yorrick dalam Graphic Novel tersebut, dan tentu saja setting dari dunia Y: The Last Man yang post-apocalypse mirip dengan film ini. Hal terakhir yang membuat keduanya mirip? Bagaimana Joel dan Yorrick sama-sama belajar dan tumbuh dalam perjalanan mereka.

Pada akhirnya, film Love and Monsters adalah sebuah film ringan yang enjoyable. Ini tak akan menjadi sebuah film yang mindblowing atau masuk dalam top 10 movie di tahun 2020 ini. Tapi bagi kalian yang ingin hiburan ringan, film singkat yang santai untuk ditonton pada saat weekend, menampilkan wajah ganteng Dylan O’Brien dan wajah cantik Jessica Henwick, selamat menonton Love and Monsters.

Score: 7.0

Leave a Reply