Jurassic World: Camp Cretaceous

Pada tahun 2019 Netflix mengumumkan bahwa mereka akan bekerja sama dengan studio Universal dan Dreamworks untuk menciptakan sebuah serial animasi Jurassic World. Ketika mendengarkan berita itu untuk pertama kalinya, sebenarnya saya tidak tahu mau berkata apa. Walaupun franchise Jurassic Park dan Jurassic World ditujukan untuk remaja (selalu ada anak-anak di dalam seri ini), merilisnya dalam format animasi terasa sebagai keputusan yang aneh.

Pada akhirnya ketika serial ini dirilis di tahun 2020 dengan nama lengkap Jurassic World: Camp Cretaceous, saya memberinya kesempatan dan menontonnya.

Seri ini mengikuti petualangan dari enam anak yang datang dari latar belakang yang berbeda-beda: Darius, Ben, Yasmina, Brooklynn, Kenji, dan Sammy. Keenam anak ini diundang ke sebuah kegiatan Outbound di Jurassic World yang bernama Camp Cretaceous. Undangan ini dilakukan beberapa hari sebelum even di film Jurassic World dimulai sehingga tentu saja para Dinosaurus masih aman di kandang mereka masing-masing.

Dan begitulah, paruh awal dari seri Camp Cretaceous nampak seperti sebuah seri kartun lepas yang mengangkat tema berbeda tiap episodenya. Masing-masing episode juga berguna untuk memberi sedikit highlight bagi keenam anak di sini, sekaligus menumbuhkan hubungan serta membangun chemistry antara keenamnya, sampai sini Camp Cretaceous terasa seperti serial yang oke – tetapi tidak penting dalam mitologi Jurassic Park / World secara keseluruhan.

Semuanya berubah ketika paruh kedua seri ini dimulai. Dengan lepasnya para Dinosaurus (sesuai dengan even di Jurassic World), bahaya yang harus dihadapi oleh keenam anak ini mendadak terasa lebih riil, sekuens-sekuens yang menakutkan dan mungkin tidak cocok bagi anak yang terlalu kecil (baca: di bawah 8 tahun) juga bertambah banyak. Dan jangan meremehkan serial ini hanya sebagai tontonan buat anak kecil saja. Kalian yang merupakan penggemar dari seri Jurassic Park maupun Jurassic World akan mendapati banyak homage dari film di dalam seri ini, baik itu dari cara pengambilan gambar, jalan cerita, sampai sekuens plot yang mirip. Jangan khawatir, Camp Cretaceous tetap berdiri sebagai tontonannya sendiri kok, sebuah kisah mandiri yang respek terhadap akar franchise-nya.

Secara keseluruhan, Jurassic World: Camp Cretaceous adalah sebuah kejutan yang menyenangkan bagiku. Saya tidak menyangka bahwa serial ini mampu menghadirkan karakter-karakter bocah yang endearing – masing-masing dengan sifat yang berbeda-beda. Tak hanya itu, kualitas animasinya pun cantik, dan membuat saya ternganga saat menontonnya. Ada dua sekuens di dalam serial ini, sekali di awal dan sekali di pertengahan yang menampilkan momen lansekap yang indah, membuat saya sejenak lupa tengah menonton film animasi dalam format mini-seri dan bukannya film animasi layar lebar.

Netflix sudah memberi lampu hijau untuk Camp Cretaceous, dan saya jujur saja sudah tak sabar menanti tahun 2021 saat ia akan dirilis kemudian. Dengan bagaimana season pertama ditutup, season kedua membuka potensi yang sangat besar mengenai arah jalan cerita yang bisa dibawa oleh para showrunner serial ini. Semoga saja mereka bisa memanfaatkan kebebasan kreatifitas itu!

Score: 8.0

Leave a Reply