Skip to content

Yokohama

Walaupun belum seterkenal para designer di Eropa, negara-negara Asia sebenarnya juga getol membuat Board Game. Dua dari negara Asia yang karya-karya Board Gamenya cukup terkenal adalah Jepang dan (belakangan ini) Taiwan. Bicara soal Jepang, saya tidak heran bahwa mereka suka dengan Board Game. After all, beberapa permainan Board Game klasik seperti Go dan Shogi kan datang dari Jepang.

Beberapa Board Game dari Jepang bahkan sudah mencapai popularitas luas di seluruh dunia. Semua pemain Board Game rasanya pasti pernah mendengar Machi Koro, Love Letter, sampai Shadow Hunters. Nah, salah satu Board Game lain yang terkenal dari Jepang adalah Yokohama, karya dari Hayashi Hisashi. Hayashi sebelumnya terkenal sebagai Designer dari Board Game Trains di tahun 2012, dan orang penasaran mengenai apa yang akan dia bawa ke meja dengan Yokohama.

Yokohama adalah sebuah game dengan mekanisme Worker Placement bercampur Grid Movement. Di dalam game ini kamu berperan sebagai Presiden dari sebuah perusahaan (Zaibatsu) di era Restorasi Meiji. Bagi kalian yang menonton serial Kenshin mungkin tahu bahwa era Restorasi Meiji merupakan era di mana Jepang mulai mengubah kiblatnya dari negara para Samurai yang tertutup berubah menjadi sebuah negara yang dimodernisasi pengaruh barat, bisakah kamu menjadi pengusaha yang tersukses di era ini?

Yokohama terdiri dari beberapa distrik di mana kamu bisa melakukan berbagai hal: ada Port untuk mendapatkan Order, ada Tea Plantation untuk mendapatkan Teh, dan banyak lagi. Secara keseluruhan ada EMPAT jenis Resource di dalam game ini: Tea, Fish, Silk, dan Copper. Keempat Resource ini harus kamu kumpulkan untuk lantas ditukarkan dengan order yang ada. Kamu bisa melakukan ini dengan menyebar Asisten-Asisten dan Presiden perusahaanmu.

Yang unik, semakin banyak asisten kamu berada di sebuah lokasi tertentu, semakin kuat juga pengaruhmu di tempat tersebut. Itu artinya, kamu bisa mendapatkan penghasilan / kekuatan lebih besar di sana. Contohnya, kalau kamu hanya punya 1 Power di Tea Plantation, kamu hanya akan mendapatkan satu daun teh di sana, tetapi memiliki 4 Power membuat kamu bisa langsung mendapatkan empat daun teh di sana. Kalau kamu melakukan aksi dengan 4 atau 5 Power, kamu juga bisa membangun sebuah bangunan di sana untuk menambah Power di saat kamu ingin melakukan aksi yang berikutnya di sana.

Permainan akan berakhir di saat Order di tumpukan Order sudah habis, atau ketika ada Asisten dalam jumlah tertentu di Customs atau Church, dua lokasi di mana kamu bisa meletakkan asistenmu untuk mendapatkan Victory Point. Setelah memperhitungkan tambahan yang didapat dalam End Game, pemain yang mendapatkan poin terbanyak akan menjadi pemenangnya.

Banyak orang yang mengatakan bahwa Yokohama adalah sebuah Board Game yang mirip dengan Istanbul. Saya tidak menyalahkan pendapat tersebut karena kalau kita mencermatinya benar, memang ada kesamaan dari game ini dengan game karya Rudiger Dorn tersebut. Kamu sama-sama diminta bergerak dalam Board yang modular (bisa diubah-ubah), mengunjungi berbagai macam tempat dan kemudian melakukan aksi di tempat tersebut.

Akan tetapi saya merasa Yokohama – walau memiliki kesamaan dengan Istanbul – cukup berbeda untuk berdiri sendiri. Sistem ‘Power’ misalnya adalah sesuatu yang tak ada di Istanbul. Begitu juga untuk tujuan permainan: dalam Istanbul kamu semua berbalap secepat mungkin mengumpulkan Gem kelima, dan permainan menjadi terasa seperti Race Game. Dalam Yokohama kamu tak terasa seperti dikejar-kejar, sehingga kamu punya kesempatan untuk membangun kerajaan bisnismu sendiri. Tentu saja, ini tetap berarti kamu bisa cepat-cepatan mengakhiri game, tetapi kebebasan berstrategi di Yokohama adalah sesuatu yang saya apresiasi.

Kalau menganalogikannya dalam bentuk Video Game: Istanbul lebih terasa seperti Call of Duty yang meminta kamu menyelesaikan misi demi misi, sementara Yokohama lebih terasa bak Red Dead Redemption, sebuah Open World di mana kamu bebas melakukan apa yang kamu mau. Both are great games, but both are different.

Pada akhirnya, Yokohama adalah sebuah Board Game yang sangat enjoy saya mainkan. It’s quite thinky, tetapi tidak serumit itu. Dan hey, siapa tahu kalau beruntung saat bermain kamu bisa bertemu dengan si samurai pengelana Kenshin Himura.

Score: 8.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: