Skip to content

Scythe

Bayangkan sebuah masa depan di mana manusia sudah tidak bisa mati lagi. Bahwa bahkan dengan cara apapun kamu berusaha bunuh diri, sebuah teknologi akan bisa membawamu untuk hidup kembali. Dengan ledakan populasi yang semakin bertambah, manusia harus beradaptasi dengan bahan baku makanan yang kian lama kian berkurang. Bagaimanakah manusia bisa mengatasi hal ini? Jawabannya adalah dengan Scythe.

Scythe adalah sekelompok khusus manusia yang ditugaskan untuk membunuh dan mengurangi populasi manusia supaya tetap terkontrol. Manusia memang tidak bisa mati sendiri, tetapi Scythe adalah orang yang akan membantu mereka mati.

Buku dengan judul Scythe merupakan buku pertama dari trilogi Arc of a Scythe karangan Neal Shusterman. Tokoh utama dari buku Young Adult ini adalah dua orang bernama Citra dan Rowan, yang diangkat oleh seorang Scythe bernama Faraday untuk menjadi muridnya. Siapa yang menjadi murid terbaik akan mendapatkan jabatan sebagai seorang Scythe. Di mata orang awam (non-Scythe) setiap sosok Scythe adalah makhluk pembawa maut yang mengerikan, dan begitu jugalah Citra dan Rowan awalnya melihat sosok Faraday.

Akan tetapi perlahan tapi pasti, keduanya mulai belajar The Art of Killing, memahami pentingnya tugas seorang Scythe, dan melihat keindahan dari kematian dari dunia yang telah beranjak darinya.

Saat melihat cover buku ini saya awalnya malas membacanya. Habisnya dengan bangga mereka memasang tagline “The Next Hunger Games“. Jangan salah, saya suka dengan buku berkarakter utamakan Katniss Everdeen tersebut. In fact, saya merasa bahwa trilogi The Hunger Games sudah merupakan kisah dystopian bercampur battle royale yang terbaik. Saya tak merasa ingin membaca buku yang menyebut-nyebut diri mereka sebagai penerusnya. Saya sudah pernah menjajal buku Divergent, dan menyerah untuk melanjutkan seri tersebut setelah buku pertamanya.

Jadi bayangkan keterkejutanku ketika membaca Scythe dan mendapati bahwa buku ini sama sekali tidak ada mirip-miripnya dengan The Hunger Games. Dari awal world building saja setting dunia ini bukanlah dystopian dan lebih dekat kepada utopian. Mungkin akan ada orang yang merasa bahwa dunia tanpa kematian adalah membuat hidup terasa hampa tanpa tujuan (dan memang itu sempat disinggung di dalam buku ini) tetapi secara keseluruhan, manusia hidup dengan senang di dalam dunia ini. Itu sendiri sudah merupakan sebuah hal yang refreshing dan membedakan Scythe dari buku-buku Young Adult kebanyakan.

Konflik dalam buku ini lebih terletak pada bagaimana Scythe yang satu dengan Scythe yang lain melakukan kegiatan Gleaning (sebutan halus untuk membunuh) yang mereka lakukan. Scythe Faraday sebagai guru dari Citra dan Rowan misalnya digambarkan sebagai sosok yang Honorable yang membunuh dikarenakan itu merupakan panggilan mereka. Di sisi lain akan ada juga Scythe lain yang setelah melakukan tugasnya jatuh menjadi sosok haus darah yang gemar membunuh korban-korbannya. Akan tetapi inilah yang unik dari bagaimana Neal Shusterman menuliskan kisahnya. Ia tak pernah berusaha tampil berat sebelah kepada satu pihak manapun. Semua Scythe memiliki jalan pikiran mereka masing-masing dan tak ada yang 100% salah.

Ada juga sosok kehadiran dari Thunderhead di dalam buku ini sebagai entitas misterius yang belum tersibak seutuhnya peranannya. Thunderhead adalah sebuah AI yang begitu mutakhir sehingga manusia akhirnya menyerahkan kehidupan kepada tangannya. Kalau kalian merasa bahwa itu tidak mungkin, jangan terlalu cepat beranggapan demikian. Di dalam tiga dekade terakhir ini, perkembangan dari AI sudah melejit dengan begitu cepatnya sehingga mayoritas hal yang kita lakukan sudah diotomatisasi kepada AI. Tidak percaya? Coba kalian lihat sendiri bagaimana Google, Facebook, Amazon, dan begitu banyak sistem teknologi perusahaan menggunakan AI untuk bisa mendapatkan penjualan serta hasil iklan yang maksimal dalam kinerja perusahaan mereka. Coba lihat bagaimana lompatan AI dalam bermain Catur dan permainan papan lainnya. Apakah begitu mustahil membayangkan dalam satu abad lagi AI sudah begitu mutakhir hingga mereka dapat menjadi pengendali hidup manusia bak… dewa?

Nah, yang refreshing (paling tidak sampai saya kelar membaca buku pertama) adalah bagaimana Thunderhead tidak digambarkan sebagai entitas yang sinister dan jahat bak Skynet maupun the Machines di The Terminator dan The Matrix. Dia hanya… ada. Dia mengendalikan kehidupan manusia secara efektif dan efisien, tetapi tidak dengan kejam. Sekali lagi, saya bersyukur bahwa Neal Shusterman tak mengambil jalan keluar yang mudah sekedar dengan mengedepankan sebuah masa depan futuristis di mana mesin itu jahat dan manusia harus bertahan hidup darinya.

At the end, Scythe mungkin akan dirasa bagi beberapa pembaca sebagai sebuah kisah yang agak minim konflik. Saya tak menyetujui pandangan tersebut. Sementara kisah ini mungkin minim konflik pertarungan di dalamnya, ada banyak konflik moral dan pertanyaan-pertanyaan moral yang ditanyakan di dalam buku ini dan tak memiliki jawaban benar yang jelas. And for me, that is a sign of an excellent book. Highly, highly recommended.

Score: 9.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: