Skip to content

Mortal Kombat

Di awal sampai pertengahan dekade 1990an, Hollywood menyadari bahwa pasar Video Game adalah pasar yang besar dan bisa dimanfaatkan. Dan karena itu mereka pun mulai mengadaptasi film yang disadur dari Video Game. Film seperti Super Mario Bros, Double Dragon, sampai Street Fighter pun bermunculan ke layar lebar. Sayangnya, mayoritas dari adaptasi film Video Game ini kualitasnya sangat buruk dan dianggap mengecewakan. Bob Hoskins yang berperan sebagai Mario dalam Super Mario Bros misalnya, pernah mengatakan bahwa peranannya sebagai sang karakter game ikonik itu begitu traumatis bagi dirinya.

Satu-satunya cahaya terang bagi adaptasi Video Game datang dari film besutan Paul W.S. Andersen di tahun 1995: Mortal Kombat. Diangkat dari serial game Fighting yang terkenal di era tersebut, Mortal Kombat dianggap berhasil membawa semangat gamenya ke dalam layar lebar. Jangan lupakan soundtrack techno-nya yang sampai sekarang pun masih keren menggelegar. Sayang sekali bahwa sekuel dari film ini: Mortal Kombat: Annihilation yang dirilis di tahun 1997 gagal mengikuti kesuksesan pendahulunya. Franchise Mortal Kombat sendiri sempat naik turun dengan kegagalannya beradaptasi ke dunia Fighting 3D.

Toh franchise sebesar Mortal Kombat tidak pernah benar-benar ‘mati’. Seri ini mengalami kebangkitan popularitas memasuki entri-entri belakangannya saat sang Developer sudah mampu mendapatkan jati diri Mortal Kombat di era Fighting 3D. Hasilnya, Mortal Kombat kembali naik daun. Setali tiga uang dengan dunia perfilman. Walaupun Mortal Kombat: Annihilation gagal di pasaran, franchise Mortal Kombat selalu muncul secara berkala dalam format tertentu di versi live action, mulai dari serial TV Mortal Kombat: Conquest yang tayang di tahun 1998 sampai 1999, sampai Mortal Kombat: Legacy yang adalah salah satu Web Series ‘besar’ pertama di Youtube di tahun 2011.

Sebuah reboot di layar lebar sepertinya memang tinggal menunggu waktu saja… dan akhirnya mimpi para fans terkabulkan saat Warner Bros mengumumkan proyek reboot tersebut di tahun 2019. Salah satu alasan kenapa proyek ini langsung mendapatkan perhatian besar di Indonesia adalah dicastingnya sosok Joe Taslim sebagai salah satu pemeran di film ini: sang ninja es Sub-zero. Tak lama kemudian casting yang didominasi orang Asia pun bermunculan: Tadanobu Asano, Ludi Lin, sampai Lewis Tan. Satu hal yang sedikit membuat saya mengernyitkan dahi adalah peran Lewis Tan sebagai seorang karakter orisinil: Cole Young. Dengan adanya puluhan (mungkin bahkan ratusan) karakter dari Video Game-nya, apakah memang perlu menambahkan karakter orisinil lagi?

Cerita dalam film ini dimulai dengan premis yang sama seperti Video Game maupun film pertamanya… Dunia ini tengah diinvasi dan satu-satunya cara Bumi mempertahankan diri adalah melalui turnamen bernama Mortal Kombat. Apabila bumi kalah selama sepuluh Mortal Kombat berturut-turut, mereka harus tunduk kepada invasi dari Realm yang lain. Masalahnya bagi Bumi adalah mereka sudah kalah selama 9x berturut-turut. Ini akan menjadi kesempatan terakhir mereka untuk bisa bertahan. Cole Young adalah seorang petarung yang baru saja menyadari bahwa dirinya juga terpilih dalam turnamen Mortal Kombat ini.

Di sisi lain, sebuah ramalan mengatakan bahwa seorang Hero akan bangkit dan menggagalkan kemenangan Outworld yang kesepuluh. Tidak ingin memberi lawan kesempatan, Jendral dari Outworld Shang Tsung langsung mengutus semua abdinya untuk membantai para petarung Bumi yang tersisa… di luar turnamen. Bisakah rencana licik Shang Tsung membuat bumi akhirnya jatuh di bawah dominasi Outworld?

Saya memiliki harapan tinggi akan Mortal Kombat saat menonton trailer-nya. Mengadaptasi Mortal Kombat sebenarnya tidak sulit: hanya perlu karakter-karakter yang memorable, beri dialog dan banter yang membuat kita senang dengan karakter-karakter tersebut, lantas masukkan mereka dalam pertempuran habis-habisan yang seru. Resep sukses! Itulah kenapa banyak sekali manga Shounen memiliki kisah Turnamen dalam run mereka. You can’t go wrong with that formula.

Well, ternyata bisa juga mereka gagal mengadaptasi hal semudah ini.

Hal pertama yang membuat saya geleng-geleng adalah Mortal Kombat versi film ini berusaha tampil terlalu kompleks. Shang Tsung melakukan invasi sekena hati membuatku bertanya-tanya, apabila Shang Tsung curang kenapa petarung Bumi tidak dari awal curang juga? Lantas akting SETIAP karakter di dalam film ini, dengan pengecualian Joe Taslim sebagai Sub-zero… terasa sangat menyebalkan dan jauh dari kesan memorable. Kalian bisa memakai baju yang sama tetapi tanpa jiwa yang sama kalian seperti cosplayer yang gagal. Dan lebih mengecewakan lagi adalah Lewis Tan yang berperan sebagai Cole Young… sama sekali tidak bisa akting! All the dialogue in the movie felt forced and the acting stiff.

Jadi apakah koreografi fighting dalam Mortal Kombat bisa menjadi penyelamatnya? Well… ya dan tidak. Semua pertarungan yang melibatkan Joe Taslim dan Hiroyuki Sanada di dalam film ini layak diberi acungan jempol. Setali tiga uang dengan pertarungan yang melibatkan Ludi Lin dan Liu Kang, tiga orang yang saya anggap memiliki background martial artist yang mencukupi untuk bermain di film ini. Sisanya… not so good. Saya mengapresiasi para cast yang pastinya berlatih martial arts untuk melakoni performa aksi mereka di sini, but to be honest, hasil akhirnya kunilai meh saja. Untuk sebuah film yang mengedepankan aksi dan tak dibatasi rating hasil akhir yang begini jauh dari harapan. Coba bandingkan koreografi pertarungan di film ini dan bandingkan dengan koreografi serial TV seperti Daredevil dan Arrow.

Pada akhirnya kalau kalian mengharapkan Mortal Kombat ini akan menjadi film adaptasi Video Game yang bagus, rem dulu ekspektasi kalian. Film ini bagi saya kualitasnya sebelas duabelas saja dengan Mortal Kombat: Annihilation, dan mungkin bahkan di bawah film tersebut kalau tidak ada Joe Taslim!

Score: 5.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: