Akhirnya setelah berulang kali gagal mendapatkan spotlight, Wonder Woman muncul di layar lebar. Kehadirannya di bioskop adalah sesuatu yang sudah lama ditunggu oleh para penggemar komik – tak hanya pecinta komik DC saja – dikarenakan Wonder Woman bisa dibilang merupakan superheroine paling populer seantero dunia yang tak memiliki counterpart pria. Superheroine kedua paling populer dunia: Supergirl adalah counterpart dari Superman.

Bagi penggemar komik DC sendiri penantian ini semakin lama sebab Wonder Woman adalah satu dari tiga pilar DC selain Superman dan Batman. Mengherankan bahwa kedua superhero tersebut sudah muncul lebih dari lima kali di layar lebar sementara satu-satunya yang bisa dibanggakan oleh Wonder Woman hanya SATU serial TV yang sudah berusia hampir empat dekade! Tidak heran kalau penampilan Gal Gadot di film Batman v Superman tahun lalu disebut banyak orang sebagai satu dari sedikit nilai positif crossover tersebut.

Film Wonder Woman ini sendiri adalah flashback dari cerita di mana Diana – tidak dikenal bahkan disebut Wonder Woman – menginjakkan kakinya di dunia manusia. Lo, sebenarnya di manakah Diana tinggal? Jawabannya ia tinggal di pulau Themyscira yang diciptakan oleh dewa Yunani Zeus. Seumur hidupnya para Amazon bertarung dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kembalinya sang dewa perang Ares sambil menyembunyikan diri.

Tempat persembunyian itu tak lagi tersembunyi setelah kedatangan seorang perwira Inggris Steve Trevors yang dikejar-kejar oleh tentara Jerman. Trevors membawa kabar bahwa di luar sana tengah terjadi The Great War: Perang akbar yang membara di seantero Eropa. Bisakah Diana mengakhiri perang ini dan membawa kedamaian di dunia?

Pertama-tama saya ingin membahas nilai-nilai positif dari film ini. Banyak yang mengatakan kalau Wonder Woman adalah film terbaik dari DCEU dan ungkapan tersebut sama sekali tidak salah. Dibandingkan Man of Steel, Suicide Squad, apalagi Batman v Superman, Wonder Woman memiliki narasi yang lebih rapat dan kohesif. Gal Gadot menghidupkan karakter Diana yang naif akan perang di dunia luar dengan sangat baik dan memiliki chemistry yang sangat baik dengan Chris Pine selaku Steve Trevors.

Salah satu kritik yang sering diutarakan orang kepada superhero DC setelah era trilogi Batman dari Christopher Nolan adalah bagaimana mereka terasa terlalu gelap dan dark. Sebenarnya mereka sudah mencoba untuk tidak dark dengan Green Lantern tapi film itu gagal total. Ehem, kembali kepada Wonder Woman, Patty Jenkins selaku sutradara film ini untungnya memberikan humor dalam film ini – yang untungnya tak dilakukan secara berlebihan. Ini tetap sebuah film superhero yang bersetting di masa perang dan permasalahan itu ditangani dengan sangat serius. Satu lagi yang membuatku sangat senang dengan film ini adalah bagaimana mereka merombak karakter Diana dari Batman v Superman.

wwe

Dalam Batman v Superman kita melihat sosok Diana yang dingin dan acuh dengan dunia manusia. Sosok yang tak peduli ketika Zod menghancurkan dunia dan baru turun tangan di saat-saat terakhir menghadapi Doomsday. Di sini ia masih sosok naif yang turun tangan langsung menghadapi kejahatan dunia. Jujur saja sudah lama sekali sejak saya melihat superhero seperti itu – mungkin terakhir adalah Captain America dalam The First Avenger tahun 2011 dulu. This is the kind of hero that DC needs. The hero that inspires mankind.

Tapi apakah film ini sempurna? Sayangnya tidak. Perang Dunia pertama adalah perang yang jauh lebih kompleks dibandingkan Perang Dunia II di mana ada penjahat yang jelas (NAZI). Dalam The Great War dulu bisa dibilang tidak ada kubu yang jahat maupun yang benar, hanya yang menang dan yang kalah. Sayangnya netralitas itu tak sepenuhnya tergambarkan di film ini di mana pihak Jerman digambarkan lebih seperti penjahat dalam film ini. Kekecewaan lain dalam film ini ada pada sosok villain-nya. Tanpa ingin memberi spoiler terlalu banyak klimaks dalam film ini malah terasa seperti antiklimaks dari cerita yang sudah apik dibangun hingga sepertiga akhir film.

Terlepas dari beberapa kelemahan itu, Wonder Woman masih saya nilai sebagai film superhero yang sangat – sangat solid. Memuaskan sekali rasanya melihat pada akhirnya ada film superheroine yang bisa sukses besar di layar lebar setelah kegagalan yang terus berulang kali terjadi. Wonderful job, Wonder Woman!

Score: B

1 Comment

  1. Kecewa ma film ini. Berasa bocah bgt: generik dan hambar. 0/5.

    Entah karena sehari sebelum nonton ini, saya nonton aksi John Wick 2 yg spektakuler, atau aku memang sedang mengantuk nonton film ini.

Leave a Reply