Saya masih ingat saat pertama memainkan God of War di tahun 2005 lalu. Saya terperanjat dengan bagaimana epiknya pertarungan dan petualangan yang dilakukan oleh Kratos menghadapi monster-monster dan dewa-dewa Yunani. Game itu bisa dibilang brutal dan berdarah-darah, sesuatu yang tak banyak saya temui di dunia game era tersebut. Semenjak game pertama tersebut saya menjadi pengikut setia dari perjalanan Kratos, memainkan hampir setiap entri petualangannya, baik di konsol sampai petualangannya di handheld.

Sesuka-sukanya saya dengan petualangan Kratos, memainkan entri terakhirnya: God of War: Ascension mulai terasa membosankan. Klimaks dari kisah balas dendam Kratos adalah God of War III dan Ascension yang dirilis tiga tahun berikutnya terasa seperti kisah tambahan yang tidak penting. Bukankah Chain of Olympus dan Ghosts of Sparta juga sudah menggali dua titik yang penting dari masa lalu Kratos? Penjualan serta review Ascension yang tak sebaik game-game God of War lainnya membuat Santa Monica memutuskan untuk mengubah total dunia God of War. Franchise ini pun terlelap selama lima tahun lamanya.

1
There has been an awakening…

Ketika God of War terbaru (dan tidak memakai angka IV) dirilis trailernya, orang mulai bertanya-tanya bagaimana game ini akan membedakan diri dari entri-entri sebelumnya. Bisakah Kratos tetap relevan, hampir 15 tahun setelah ia pertama muncul di 2005 lalu?

Ada begitu banyak perubahan yang dilakukan developer Santa Monica dalam game ini. Beberapa perubahan utama yang dilakukan adalah sosok Kratos kini bukanlah sosok muda yang haus darah dan dendam. Kratos yang kita mainkan kali ini adalah seorang ayah yang sudah jauh lebih dewasa dan makan asam garam kehidupan. Ayah? Ya, dalam game ini Kratos bersama dengan anaknya Atreus hanya memiliki satu tujuan sederhana, membawa abu dari istri Kratos (ibu Atreus) dan menyebarkan abu tersebut dari titik tertinggi dunia. Kisah ini terasa jauh lebih personal dan kecil dibandingkan dengan trilogi God of War pertama di mana Kratos ingin meruntuhkan gunung Olympus dan menghancurkan status quo para Dewa.

3
Boy…

Setting dari game ini pun berpindah ke dunia mitologi Norse di mana Kratos tak lagi menghadapi Ares atau Zeus tetapi dewa-dewa mitologi Norse (saya tidak mau spoiler siapa saja yang akan kalian temui dalam petualangan Kratos dan Atreus). Kalian yang familiar dengan mitologi Norse tentunya tahu bahwa mitologi Norse mengenal 9 dunia (realm) yang berbeda. Tidak semuanya bisa diakses oleh Kratos dalam petualangannya kali ini yang membuat kita bertanya-tanya apakah Santa Monica sudah menggagas wacana sekuel untuk game ini. Melihat dari ending tersembunyi tambahan di dalamnya… saya percaya jawabannya adalah iya.

Perubahan game ini tak hanya pada usia Kratos dan setting lokasi game ini saja tapi juga pada gameplay-nya. Hilang sudah senjata Blade of Chaos ikonik milik Ghost of Sparta ini. Sebagai penggantinya kamu memiliki senjata baru: kapak bernama Leviathan Axe. Pola serangan Leviathan Axe ini sangat berbeda dengan Blade of Chaos dan membutuhkan waktu beberapa lama untuk beradaptasi. Pun demikian, begitu kamu fasih menggunakan senjata ini, opsi-opsi untuk melakukan kombo dan serangan yang kreatif tersedia. Tingkat kesulitan dari God of War ini pun jauh lebih sulit dibandingkan prekuelnya. Kalian tidak boleh sembarangan saja melakukan button mashing dalam menyerang musuh karena itu akan berakibat fatal. Menguasai timing melakukan counter, menghindar dari serangan musuh, sampai memakai aksesoris dan armor yang tepat untuk menyerang mereka adalah kunci kemenangan dalam game ini, terutama menghadapi boss-boss tersembunyi game ini.

Hadir di PS4, Santa Monica seperti menemukan mesin konsol yang cocok untuk menghidupkan visi mereka. Game ini tak hanya memiliki jalan linear sebagaimana game-game sebelumnya. Setelah dua tiga jam pertama, dunia God of War akan terbuka luas dan memperbolehkan kalian singgah di berbagai pulau yang menyimpan misteri tersendiri sampai ke realm-realm lain untuk menghadapi boss tersembunyi atau mengambil artifak khusus. Walau tak bisa dikategorikan benar-benar open world, ada kebebasan tersendiri dalam perjalanan Kratos yang tak pernah saya rasakan dalam entri sebelumnya. Perhatikan juga bagaimana Santa Monica secara luar biasa membuat game ini dengan one single shot yang tak terputus dari awal hingga akhir game!

4
Beautiful vistas!

Mengupgrade senjata dan armor milik Kratos serta Atreus juga menjadi faktor yang mempengaruhi gameplaymu. Apabila kamu lebih banyak mengupgrade Atreus di awal permainan misalnya, maka anakmu akan menjadi fasih menembakkan panah yang bisa membuat musuh tidak fokus menyerang Kratos. Atau bisa jadi kamu lebih suka menggunakan Leviathan Axe untuk langsung frontal menghadapi musuh. Menjelang end game memang semua skill yang dimiliki oleh Kratos dan Atreus bisa kamu dapatkan tetapi selama hampir 60 – 70% porsi game, kamu akan diberi kebebasan bereksperimen menentukan gaya mainmu. Bahkan ketika kamu menguasai semua skill-pun ada upgrade armor dan senjata yang bisa kamu lakukan untuk mengkustomisasi gaya permainanmu.

Walau pada awalnya saya merasa sedikit tidak biasa dengan gameplay God of War yang baru ini, saya mengapresiasi keberanian Santa Monica untuk bereksperimen dan sukses mengubah total dunia God of War. Setiap pertarungan yang ada memaksaku berpikir bagaimana mengalahkan musuh dengan strategi dan ada kepuasan tersendiri bila sukses melakukannya. Jalan cerita yang personal antara Father – Son pun saya nilai sangat berhasil dan berbeda dengan dua game terpuji lain yang mengedepankan hubungan ini: The Walking Dead dan The Last of Us. Dalam kedua game itu relasi yang ada adalah Father – Daughter dan dinamika hubungannya Joel – Ellie atau Lee – Clementine berbeda dengan Kratos – Atreus.

Overall, saya tidak sabar menunggu kelanjutan kisah baru Kratos di dunia mitologi Norse ini. Dengan begitu banyaknya sosok dewa yang ada mulai dari Loki, Thor, Heimdall, Odin, Freya, Frey, dan segudang lainnya, potensi untuk menciptakan epik saga baru bagi Kratos dan Atreus terbuka lebar!

Score: 8.5

Leave a Reply