Ada sebuah masa – sekitar 20 tahun silam – bahwa tokoh kartun yang paling terkenal di dunia bukanlah si Miki Tikus maupun Donal Bebek. Tokoh yang paling terkenal di dunia di saat itu adalah seekor beruang pemalas bernama Winnie the Pooh. Bersama dengan kawan-kawannya yang tinggal di Hundred Acre Woods, Winnie the Pooh dan kawan-kawan bermain bersama Christopher Robin. Serial animasi The New Adventures of Winnie the Pooh itu membuatnya sangat populer – walaupun sayangnya kepopulerannya kemudian mulai terkikis. Terbukti ketika Disney menggarap film animasi Winnie the Pooh dengan goresan tangan di tahun 2010 dulu, film tersebut flop – walaupun memiliki kualitas cerita dan animasi yang sangat baik.

2
Tidak relevan lagi kah kamu Pooh Bear?

Delapan tahun berlalu dan Disney sekali lagi mencoba peruntungan mereka dalam dunia Winnie the Pooh – kali ini dengan menggunakan format yang selalu sukses belakangan: menggabungkan live action dengan tambahan animasi komputer.

Jalan cerita dari Christopher Robin – sesuai judulnya – berfokus kepada sang bocah yang selalu bermain dengan Winnie the Pooh itu. Akan tetapi ada twist di sini. Apa jadinya apabila Christopher Robin yang selama ini selalu anak-anak tumbuh dewasa dan lupa akan kenangannya bermain bersama Pooh dan kawan-kawan? Ingat dengan film Hook di mana Peter Pan tumbuh besar dan memutuskan untuk keluar dari Neverland? Nah, premise yang sama dipakai oleh film ini. Christopher Robin dewasa begitu sibuk dengan kehidupan setiap hari dan ia melupakan optimisme yang selalu ia bawa saat ia muda dulu.

Tepat di titik terendah dalam hidupnya, di mana Christopher Robin tak dapat lagi menjaga keseimbangan antara keluarga dan bekerja, adalah saat di mana entah bagaimana Pooh bisa menemukan jalan kepadanya. Apakah bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya membuat Christopher teringat masa lalunya yang bahagia?

Film yang disutradarai oleh Marc Foster ini menggabungkan dunia nyata dan dunia fiktif di film Christopher Robin secara cantik. Menggabungkan dua dunia seperti ini tentunya bukan hal baru bagi Foster yang pernah melakukan hal yang sama di Finding Neverland dan Stranger than Fiction. Christopher Robin sendiri mungkin akan mengecewakan bagi banyak penonton yang merasa filmnya terlalu ‘sendu’ dan kurang gemerlap dihiasi lagu-lagu. Tapi saya percaya bahwa ini adalah tone yang tepat bagi Christopher Robin. Melalui tone-tone warna yang lebih mendekati warna bumi (dan tanah), Foster mampu menangkap esensi nostalgia sekaligus mendapatkan shot-shot lansekap yang luar biasa cantiknya. Pernah melihat musim semi di masa terindahnya? Seperti itulah saya melihat film ini.

4
Christopher Robin Poster

Jalan cerita dalam film ini memang sangatlah sederhana tanpa sedikitpun twist. Tak hanya itu beberapa orang menuding film ini memanipulasi penonton secara emosi dan menggunakan nostalgia untuk menguras air mata. Yang mereka katakan tak sepenuhnya salah. Christopher Robin sama sekali tidak mendobrak pakem apapun. Bahkan saya yakin pembaca sudah mengerti apa yang akan mereka dapat dalam film ini begitu melihat trailernya. Pun begitu, this is a movie where you get what you want. Kamu tahu apa yang akan kamu dapatkan tapi toh dia dieksekusi dengan begitu baik sehingga kamu tak pusing. It’s a wish fulfillment movie, dan dia cukup sadar akan kenapa ia digarap.

3
Welcome back to the Woods

Pada akhirnya kalau kamu ingin menonton sebuah film yang mengingatkanmu bahwa pekerjaan bukan segalanya dan adalah penting mencoba mendapatkan keseimbangan dalam bekerja dan keluarga: Christopher Robin adalah film tersebut. Walau tak bisa sampai menyamai kebrilianan dari Paddington 2, Christopher Robin adalah tontonan bertema beruang animasi lain yang menghangatkan hati. Cocok buat ditonton bersama anak-anak kalian!

Score: B+

Leave a Reply