Dalam The Infernal Devices Cassandra Clare membangun sebuah dunia Shadowhunters yang berbeda dari yang dikenal pembaca dalam The Mortal Instruments. Alih-alih bersetting di kota New York yang penuh dengan hiruk pikuk modernitas, dalam Clockwork Angel – buku pertama The Infernal Devices – bersetting di kota London pada era Victoria. Ini adalah era romantis di kala Inggris menjadi salah satu negara paling adidaya di dunia; era di mana kota London hampir selalu diselimuti asap dan kabut di mana para makhluk-makhluk kegelapan bersembunyi…

… akan tetapi ancaman terbesar yang dihadapi para Shadowhunters ironisnya tidak berasal dari kaum kegelapan seperti yang mereka sangka sebelumnya. Justru arsitek yang menggagas kehancuran para Shadowhunters adalah seorang manusia biasa bernama Mortmain. Manusia yang keberadaannya sebenarnya dilindungi oleh para Shadowhunters dari para makhluk Downworlders. Di akhir Clockwork Angel Mortmain membuka topengnya dan menunjukkan bahwa dirinyalah sang puppet master di balik semuanya: sosok yang merancang Tessa Gray didatangkan dari New York, sosok yang memanipulasi Nate – adik Tessa – mengkhianati golongan Shadowhunters, sampai bahkan mengadu domba golongan Shadowhunters dengan golongan vampir. Dirinya nyaris saja menang apabila bukan karena kenekatan Tessa yang rela mengorbankan nyawanya.

1
Terbitan baru

Memasuki buku kedua ini hubungan Tessa dengan kelompok Shadowhunters menjadi makin kompleks; terutama dengan sepasang sahabat Shadowhunters Will dan Jem. Seperti kebanyakan kisah Young Adult, Cassandra Clare membuat kedua pria ini jatuh cinta kepada Tessa dan sebenarnya ini sedikit mengangguku. Setali tiga uang dengan karakter Clary dari trilogi The Mortal Instruments, saya tak pernah melihat ada alasan yang jelas bagi Will dan Jem untuk jatuh cinta sampai tergila-gila kepada Tessa. Memang benar sifat dan kepribadian Tessa sedikit lebih baik dibandingkan kompatriotnya, tetapi tidak ada hal menonjol apapun darinya yang membuat kedua pria sampai sepenuhnya jatuh hati. Untung saja penulisan Clare yang ringan dan mudah dibaca membuat saya tutup mata dengan kekurangan tersebut dan masih tetap asyik membacanya. Yah, anggap saja ini sebagai sebuah wish fulfillment sang penulis.

5
Ada manhua-nya

Paling tidak karena Clare tahu bahwa novel ini menjual cinta segitiga antara Tessa, Will, dan Jem, ia menuliskan kisah ini dengan baik. Tidak seperti di The Mortal Instruments di mana Simon selalu digambarkan menjadi nyamuk dalam hubungan Jace dan Clary, di sini pembaca dibuat terus menebak-nebak siapa yang akan dipilih oleh Tessa. Pada awalnya mudah untuk memilih Jem terutama karena sifat Will yang menyebalkan dan plin-plan, tetapi ketika masa lalu Will disingkap, pembaca pun dibuat bersimpati dengan penderitaan yang diam-diam dia tanggung sendiri selama ini. Penulisan Clare harus saya akui agak-agak memanipulasi emosi pembaca, but damn if it ain’t a good manipulation!

Selain menggali hubungan antara Tessa dengan Will dan Jem, buku ini juga mengembangkan hubungan dan latar belakang dari karakter-karakter lain dalam kelompok Shadowhunters London. Selain pasangan Henry and Charlotte yang menjadi kepala institusi ini, karakter-karakter seperti Sophie, Jessamine, sampai anak-anak dari keluarga Lightwood pun mendapat porsi penceritaan lebih banyak di sini. Mungkin karena terlalu berfokus pada penggalian karakter ini maka jalan cerita utama: misi mencari Mortmain tidak banyak mendapat perkembangan. Terlepas dari satu dua penyelidikan yang mengungkap masa lalu Mortmain dan pengkhianat dalam tubuh Shadowhunters, cerita utama hanya mendapatkan momentum akselerasi menjelang klimaksnya saja.

Membaca Clockwork Prince juga semakin menyadarkanku betapa The Infernal Devices adalah kisah yang berbeda dengan The Mortal Instruments. The Mortal Instruments melukiskan sebuah kisah yang lebih luas di mana Valentine menyiapkan perang terhadap Shadowhunters dan sebagai gantinya Shadowhunters berikut para kaum Downworlders harus bersatu menghentikannya. Cakupan The Infernal Devices dalam kisahnya terbilang lebih kecil: menghentikan seorang Magister yang jarang melibatkan kaum Downworlders lainnya – selain terkadang meminta  bantuan mereka. Bahkan, fokus kisah bisa dibilang hanya pada institusi di London semata. Akan tetapi setting yang intim ini memberi nilai positif lain: membuat pembaca bisa merasakan kekerabatan dan rasa kekeluargaan yang dekat antara karakter di dalamnya.

3
Ada audiobooknya juga

Clockwork Prince memang tidak banyak melanjutkan dasar yang sudah dibangun oleh Clockwork Angel. Akan tetapi Cassandra Clare menggantikannya dengan membangun karakter-karakter di dalamnya. Dan melihat bagaimana dysfunctional family ini sekarang sudah menemukan kesatuannya, saya jadi makin tertarik membaca bagaimana mereka merancang cara menghentikan rencana jahat sang Magister.

2
Cover Terbitan Pertama

Score: 9.0

Leave a Reply