Seperti yang pernah saya tulis dalam review saya sebelumnya, Marvin Germo adalah salah seorang penasehat finansial yang terkemuka di Filipina. Dalam buku pertamanya yang saya baca, Where Should You Invest?, Marvin Germo memberikan pendapatnya mengenai cara untuk mengatur finansial pribadi seseorang dan instrumen-instrumen investasi yang ada di negara Filipina. Mengingat ternyata banyak sekali instrumen investasi di negara tersebut yang mirip dengan Indonesia, saya menjadi tertarik untuk membaca buku karangan ia lainnya: seri Stock Smarts.

Seri Stock Smarts dari Marvin Germo secara khusus berbicara mengenai tips dan saran untuk berinvestasi di pasar saham, bagaimanakah saran dari Marvin Germo melakukannya? Buku Stress-Free Investing merupakan buku ketiga setelah Stock Investing Made Easy dan Winning Strategies for Investing. Alasan saya untuk langsung melompat membaca buku ketiga adalah karena saya merasa saya sudah cukup mengenal basis-basis investasi saham dan ingin tips lebih lanjut yang menyenangkan: investasi tanpa stress, wah, tidakkah itu enak? Tidak perlu setiap hari berkutat melihat pasar saham, sekedar berinvestasi dan mengharapkan uang langsung menggandakan diri. Apakah benar ada cara seajaib tersebut?

4
Don’t stress everything out in life!

Hal pertama yang dijelaskan oleh Marvin Germo di sini adalah ada dua jenis orang di pasar saham: mereka yang berperan sebagai trader aktif (berarti yang mengikuti pergerakan saham setiap harinya) dan mereka yang bersifat sebagai investor pasif (yang hanya mengecek kinerja pergerakan saham beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan sekali). Sementara trader aktif akan lebih banyak melihat analisa teknis (Technical) dari harga saham, investor pasif akan lebih banyak melihat analisa fundamental (Fundamental) dari sebuah perusahaan. Tidak ada yang lebih benar ataupun lebih salah dari kedua metode ini. Yang penting adalah menerapkan mindset dan cara yang benar. Orang bisa kehilangan uang dari investasi fundamental apabila keliru membaca Laporan Keuangan perusahaan. Di sisi lain seorang trader yang ahli membaca pergerakan harga saham dipastikan bisa mereguk keuntungan dengan cepat dalam hitungan bulan bahkan minggu.

Nah, sementara tidak ada salahnya menjadi seorang trader aktif, buku ini lebih mengajarkan kepada pembaca cara untuk menjadi seorang investor pasif, seorang investor fundamental jangka panjang. Cara yang diajarkan oleh Marvin Germo pertama adalah untuk mencari saham-saham yang ingin kamu beli. Membangun sebuah portfolio merupakan kunci keberhasilan di dalam sistem investasi ini. Berapa saham yang ingin kamu masukkan dalam portfoliomu? Berapa persen bagian dari tiap saham? Dan terakhir adalah bagaimana cara untuk terus menyeimbangkan porsi saham di dalam portfoliomu? Sang penulis banyak memasukkan contoh di dalam buku ini berikut dengan perhitungannya supaya mempermudah pemahaman pembaca yang masih awam sekalipun. Sedikit tips: alangkah baiknya kalau kalian mempersenjatai diri kalian dengan kalkulator saat membaca buku ini supaya bisa turut melakukan kalkulasi.

Salah satu hal yang saya sukai di sini adalah bagaimana Marvin Germo menjelaskan beberapa jenis saham berbeda yang ada di Filipina. Walaupun semua saham yang dia masukkan sebagai contoh di dalam buku ini adalah saham-saham dalam PSEi (sejenis IDX30 atau LQ45 di pasar saham Indonesia), saham-saham yang terdapat di dalam PSEi pun memiliki ‘jenis’nya sendiri. Saham di sektor perbankan dan telekomunikasi misalnya adalah saham-saham yang menjanjikan pertumbuhan yang stabil sementara perusahaan yang bergerak di bidang properti cenderung lebih fluktuatif tapi bisa memberikan pertumbuhan yang tinggi juga saat sektor properti sedang booming. Marvin Germo secara pelan menjelaskan bagaimana membangun portfolio yang agresif (lebih banyak mengalokasikan dana pada sektor-sektor maupun saham yang menjanjikan pertumbuhan tinggi) maupun portfolio yang lebih defensif (lebih banyak mengalokasikan dana pada sektor yang pertumbuhannya stabil). Germo bahkan menghighlight beberapa saham di Filipina yang rajin memberikan dividen yang tinggi kepada pemegang sahamnya. Ingat bahwa berinvestasi di saham memiliki dua potensi keuntungan: satu dari Capital Gain (harga saham naik) dan satu lagi dari Dividen alias sisa laba perusahaan setelah ekspansi yang dibagikan kepada para pemegang saham.

2
Gotta read em all?

Sementara saya cukup enjoy membaca buku ini dan merasa mendapatkan pengetahuan baru di dalamya (terutama dalam tips untuk terus mengecek dan menyeimbangkan alokasi portfolio secara berkala), saya merasa bahwa penulis terlalu banyak memberikan contoh dan tabel perhitungan di dalam buku ini sehingga menghabis-habiskan kertas yang mungkin bisa diisi dengan informasi lain yang lebih penting. Misalnya ada sebuah bagian di mana Germo menyarankan untuk investor yang memiliki dana di bawah 1 Milyar Rupiah (sudah saya kurskan menjadi rupiah) untuk berinvestasi paling banyak sampai 8 jenis saham saja. Tidak cukup dengan saran ini, Germo kemudian membuat contoh perhitungan perbedaan keuntungan yang bisa didapat apabila calon investor berinvestasi di 5 jenis saham, 8 jenis saham, dan 10 jenis saham. Saya rasa itu sedikit terlalu berlebihan.

1
Another book to read?

Secara keseluruhan, buku ini menarik untuk dibaca kalian yang ingin menambah wawasan berinvestasi di pasar saham, terutama kalian yang lebih tertarik berinvestasi dalam jangka waktu panjang dan hanya sesekali saja (mungkin 3 atau 4 bulan sekali) mengecek dan mengatur strategi portfolio sahammu.

Score: 7.5

Leave a Reply