Setelah kesuksesan dari serial The Hunger Games pasar Young Adult dibanjiri dengan buku-buku novel yang berbau dystopian. Sebut saja beberapa karya terkenal seperti The Maze Runner dan Divergent yang keduanya sudah diangkat ke layar lebar. Satu lagi kisah Young Adult yang memiliki fanbase pembaca yang lumayan besar adalah The Darkest Minds yang ditulis oleh Alexandra Bracken. Popularitas dari seri novel The Darkest Minds membuat studio film 20th Century Fox memfilmkannya di tahun 2018 kemarin – walau hasilnya dinilai mayoritas pembacanya tak mampu mentranslasikan fantasi sang penulis ke layar lebar. Saya sendiri tidak terkesan dengan versi adaptasi filmnya, apakah novelnya lebih baik?

images
The Darkest Minds Cover

The Darkest Minds bersetting di Amerika di sebuah era setelah wabah IAAN terjadi. IAAN adalah singkatan dari Idiopathic Adolescent Acute Neurodegeneration yang adalah sebuah penyakit mematikan yang membunuh hampir seluruh populasi anak-anak di Amerika saat itu. Sisa anak-anak yang tersisa kemudian mendapatkan sebuah kemampuan misterius yang membuat para orang dewasa menakuti mereka. Di bawah kepemimpinan sang Presiden, pemerintah Amerika Serikat kemudian menangkapi para anak-anak yang tersisa dan memasukkan mereka ke dalam kamp penahanan guna ‘merehabilitasi’ mereka. Kenyataannya di tempat kamp penahanan itu mereka dibagi menjadi beberapa warna: Hijau, Biru, Kuning, Orange, dan Merah. Hijau dianggap yang paling tak berbahaya dan Merah dianggap sebagai yang paling mematikan.

d7b742bfcbb3e4dca372157dd92222a4--the-darkest-minds-book-fandoms
Colors

Karakter utama dalam novel ini adalah Ruby, seorang gadis berlabel Orange. Anak dengan label Orange dianggap sebagai sosok yang tak kalah berbahaya dengan label Merah sehingga Ruby tadinya hampir akan dihabisi. Beruntung kecekatan berpikir Ruby membuat ia mampu memanipulasi pikiran (kekuatan yang dimiliki seorang Orange) dan mengubah persepsi ilmuwan yang mengelompokkan dirinya sebagai seorang “Hijau”, sosok yang paling tak berbahaya. Selama beberapa tahun begitulah kehidupan seorang Ruby: hidup dalam penyangkalan akan siapa dirinya sebenarnnya.

Toh sejago-jagonya seseorang menyembunyikan bangkai, baunya akan tercium juga. Setelah bertahun-tahun hidup dalam persembunyian, identitas Ruby pun ketahuan dan ia tertolong bisa melarikan diri dari tempat di mana ia ditahan. Dalam pelariannya Ruby berjumpa dengan beberapa anak lain yang juga melarikan diri dari kejaran pemerintah: Suzume, seorang gadis kecil dengan label Yellow, serta Chubbs dan Liam, sepasang label Biru. Keempatnya pun mulai menjelajahi Amerika dengan tujuan bisa sampai di sebuah safe haven ‘misterius’ yang dipimpin seorang bocah bernama Slip Kid. Bisakah Ruby dan ketiga kawan barunya sampai di tempat itu? Dan bahaya apa saja yang mereka temui selama perjalanan?

images (2)
Cute Colors

Dari awal saja novel The Darkest Minds menunjukkan bahwa ia lebih superior ketimbang versi filmnya karena menggambarkan sosok protagonis: Ruby, secara lebih humanis dan lebih memiliki cacat kekurangan. Tak hanya Ruby saja, keempat karakter utama di dalam novel ini mulai dari Zu yang manis, Chubbs yang annoying, sampai Liam yang berjiwa pemimpin, memiliki chemistry yang apik satu sama lain – sesuatu yang tidak saya rasakan ketika melihat filmnya. Apabila dalam filmnya saya seakan melihat empat orang yang kebetulan mencari tempat searah, di dalam novel saya membaca bagaimana seorang Ruby yang tadinya tertutup dan takut memiliki teman (karena luka batin yang pernah ia alami) belajar untuk membuka hatinya dan menerima orang-orang yang ia anggap ‘asing’ menjadi bagian dari keluarga barunya. Tak hanya itu Bracken juga mampu membuat pembaca turut sentimentil dengan sekedar sebuah ‘kendaraan’. Berapa banyak penulis yang mampu melakukan hal yang sama? Yang saya ingat hanya Eichiro Oda melalui Going Merry dan saga Star Wars melalui Millenium Falcon. Penggemar lagu-lagu era 60 dan 70an lawas juga bakalan senang melihat beberapa lagu terkenal dari era tersebut, baik dari The Allman Brothers sampai The Beach Boys. Pemakaian lagu-lagu tersebut di sini tak sekedar ditempatkan sang penulis untuk asal referensi saja tetapi juga untuk membangun karakter-karakter di dalamnya.

Tak berarti novel The Darkest Minds tak punya kelemahan. Premis awalnya sendiri sebenarnya tak benar-benar orisinil. Konsep sebuah wabah yang menyapu sejenis golongan (dalam hal ini anak-anak) adalah sesuatu yang sudah pernah ditulis oleh Brian K. Vaughan dalam graphic novelnya Y: The Last Man (and he did it much, much better) sementara anak-anak yang mendapatkan kekuatan khusus jelas mengingatkan orang dengan komik X-Men. Saya juga kecewa bahwa karakter-karakter orang dewasa dalam novel ini tingkah lakunya seakan dipaksakan. Bahwa mereka mendadak memutuskan mengirim semua anak yang ada dalam kamp rehabilitasi tak terkecuali terasa sebagai sebuah keputusan yang absurd dalam filmnya. Saya menyangka novelnya akan menawarkan penjelasan yang lebih masuk akal untuk keputusan tersebut tetapi saya tak mendapatkannya. Juga karena penulisan dari sudut pandang orang pertama (dalam hal ini Ruby) maka dunia The Darkest Minds masih terasa ‘terbatas’. Kita tidak tahu bagaimana negara di luar Amerika (terlepas dari tetangga langsung Amerika) bereaksi terhadap tragedi IAAN di dalam negara tersebut, kita tidak tahu bagaimana reaksi orang tua-orang tua yang anaknya selamat dari IAAN, dan banyak detail lain yang seharusnya penting untuk worldbuilding masih absen di buku pertamanya ini.

images (1)
Are you ready for the sequel?

Pada akhirnya The Darkest Minds adalah sebuah novel sci-fi yang cukup berbeda dengan yang lainnya. Dengan penekanan yang cukup kuat antara persahabatan para karakter di dalamnya ditambah dengan elemen road trip antar negara-negara bagian di Amerika, ia menjadi sebuah seri novel yang low sci-fi. Tak seperti The Hunger Games, The Maze Runner, sampai Divergent yang dunianya benar-benar berbeda total dengan dunia kita saat ini, The Darkest Minds adalah sebuah dunia yang masih bisa dibayangkan bisa terjadi – dan mungkin itulah yang membuatnya lebih mengena. Walaupun absurd bila dipikirkan dalam kondisi sekarang, apakah visi dystopian yang dibayangkan oleh Bracken benar-benar bisa terjadi kalau tatanan sebuah negara runtuh? Bukankah di banyak negara Afrika dan Timur Tengah sana banyak juga anak-anak yang dijadikan tentara cilik oleh para faksi militan yang berperang?

Score: B

Leave a Reply