The Darkest Minds Book 3: In the Afterlight

In the Afterlight adalah buku penutup trilogi pertama The Darkest Minds karya Alexandra Bracken. Resensi ini tidak akan berisi spoiler dari buku ketiga tetapi akan berisi spoiler dari buku pertama dan kedua. Be warned.

Ending dari buku kedua: Never Fade, adalah sebuah ending tragis di mana semua harapan seakan pupus.

Jude, anak yang paling optimistis di dalam grup Ruby, meninggal secara tragis. Terjebak ketika serangan bombardir menghancurkan markas dari Children’s League.

Chubbs dan Liam memang selamat tetapi benak Liam tak sama lagi seperti sebelumnya setelah ia dihapus memorinya di akhir buku pertama oleh Ruby.

Kesatuan Children’s League terpecah belah – tidak yakin dengan arahan mereka mau ke mana terutama setelah Alban, sang pemimpin, tewas dalam kudeta intern yang brutal.

Keberadaan Suzume alias Zu masih tidak diketahui di mana.

Ruby sendiri jatuh dalam perasaan bersalah yang mendalam. Ia merasa telah gagal melindungi orang yang ia kasihi. Dan dalam perasaan menyalahkan diri sendiri Ruby jadi membenci Nico yang ia anggap sebagai pengkhianat dalam grup.

Satu-satunya harapan adalah melihat benak Clancy, sang anak Presiden yang berhasil ditangkap kembali di buku kedua, dan menyadari bahwa ibu Clancy – sang mantan Ibu Negara dan juga seorang Ilmuwan – telah berhasil menciptakan sebuah metode penyembuhan bagi anak-anak. Akan tetapi posisi dari sang Ibu Negara itu masih misterius di mana…

Dan dimulailah buku ketiga In the Afterlight dengan begitu banyak plot yang berjalan di saat yang bersamaan. Dengan begitu banyaknya narasi yang harus diselesaikan sang penulis, Alexandra Bracken, terkadang mengambil jalan pintas dengan melupakan beberapa konflik tertentu atau dengan mempercepat penyelesaikan konflik yang ada. Gara-gara itu membaca In the Afterlight terasa bagaikan buku yang kadang tak memiliki fokus yang jelas. Di satu chapter Ruby dan rekan-rekannya pecah kongsi (lagi) dengan Children’s League (berapa kali sih grup ini bisa terpecah-belah?) dan di chapter berikutnya fokus berubah pada pertentangan antara Liam dan Cole dalam melawan pemerintahan Amerika Serikat.

images (1)
The finale

Toh pada akhirnya itu justru membuat In the Afterlight sebagai buku yang lebih realistis… paling realistis bahkan, dibandingkan dengan kedua buku sebelumnya. Buku pertama dan kedua bisa dibilang adalah sebuah buku tentang road trip pada esensinya dan kebanyakan halaman porsi cerita dialokasikan mencari MacGuffin (dalam buku pertama sebuah kamp misterius yang didirikan Clancy dan dalam buku kedua sebuah USB berisi data obat IAAN). Buku ketiga ini jauh lebih kompleks dari sekedar sebuah road trip karena menyangkut politik dan implikasi sosial masyarakat Amerika setelah penyakit IAAN menyerang. Ini membuatnya lebih menarik. Seperti yang saya tulis sebelumnya: ada sebuah chapter di mana Liam dan Cole beradu argumen mengenai cara siapa yang lebih benar untuk melawan pemerintahan Amerika Serikat yang semena-mena terhadap anak-anak. Secara mengejutkan Bracken menulis dengan adil bagi kedua belah pihak. Pola pandang Liam yang cenderung pacifist dan mengandalkan media untuk melakukan perlawanan tidak salah. Di sisi lain cara Cole melawan dengan cara lebih radikal menyerbu kamp penjara anak-anak juga tidak salah.

In the Afterlight bagaimanapun juga tidak lupa bahwa kekuatan dari seri The Darkest Minds bukan terletak pada jalan cerita atau konsepnya semata tetapi lebih kepada karakter-karakter dan hubungan antara semuanya. Dan memang itu digali secara mendetail di sini. Hubungan antara Ruby dan Liam, Liam dan Cole, Ruby dan Vida, Liam dan Zu, dan semua karakter-karakter penting di dalam buku ini mendapatkan momen mereka untuk bersinar. Ya kalian tidak salah baca… setelah Zu absen di buku kedua ia kembali di buku ketiga ini. Kehadiran Zu bukan sekedar ‘muncul’ begitu saja karena kehadirannya secara bersamaan membawa konflik baru di tengah Ruby, Liam, Chubs, dan Vida.

images
The End of the Trilogy

Pada akhirnya seri The Darkest Minds mungkin bukan seri post-apocalypse terbaik yang saya baca tetapi juga bukan yang terburuk. Apa yang membedakan buku ini dengan seri post-apocalypse lain adalah bagaimana ia menggambarkan sebuah realita yang masih mungkin terjadi di dunia apabila tatanan sosial hancur. Ini berbeda dengan The Hunger Games maupun The Maze Runner yang walaupun bersifat post-apocalypse tetapi jelas-jelas fiktif (turnamen bunuh-bunuhan sampai zombie? Yang benar saja). Apabila kalian menginginkan sebuah bacaan post-apocalypse yang bersifat lebih low-fantasy serial ini tidak ada salahnya untuk dijajal.

Sedikit catatan tambahan: untuk mengetahui kisah yang terjadi pada karakter sampingan lain yang tak banyak dapat porsi di buku utamanya, Alexandra Bracken juga telah merilis tiga novela yang disatukan dalam satu buku berjudul Through the Dark. Ia bukan bacaan wajib untuk mengetahui apa yang terjadi di buku utama tetapi membacanya akan membuat beberapa hal yang terjadi di buku utama menjadi lebih bermakna.

Score: B

Leave a Reply