Siapa yang tidak kenal Nike?

Merk Nike adalah salah satu brand fashion yang paling terkenal di dunia dan CEO dari Nike: Phil Knight, merupakan salah satu orang yang paling kaya di dunia (terakhir saya mengecek, ia duduk di peringkat ke 28 orang terkaya di dunia dengan jumlah kekayaan 34.7 Milyar USD). Tapi bagaimanakah cerita dari Nike sebenarnya bermula? Phil Knight menuturkannya melalui buku Shoe Dog.

Di awal Nike bahkan bukan bernama Nike tetapi sebuah perusahaan bernama Blue Ribbon. Dan tidak, mereka tidak memproduksi sepatu mereka sendiri. Phil Knight yang adalah seorang atlet lari di sekolahnya dulu menyadari bahwa di Amerika tidak ada sepatu sneakers yang cukup baik merknya selain dua merk yang dimiliki kakak-beradik dari Jerman: Adidas dan Puma. Phil Knight kemudian mendapat inspirasi dari Jepang – menyadari bahwa sepatu sneakers yang dibuat di Jepang memiliki model yang apik. Namanya? Onitsuka Tigers.

Selama hampir sedekade lamanya Blue Ribbon menjadi distributor Onitsuka Tigers (yang di kemudian hari akan mengubah branding mereka menjadi ASICS) sebelum kerja sama mereka retak karena Onitsuka mengancam untuk mencari distributor lain. Kehilangan pemasok utamanya tidak membuat Phil Knight putus asa. Ia kemudian memutuskan untuk mulai membuat produk sepatunya sendiri… dan dari sana ikon Swoosh yang identik sebagai logo Nike pun lahir.

Tentu saja perjuangan Nike untuk tumbuh menjadi raksasa seperti sekarang tidak mudah dan dalam Shoe Dog Phil Knight menuturkan bagaimana ia bersama dengan teman-temannya berjuang untuk membesarkan Nike. Perjuangan itu dituturkan dengan nada serius dan jenaka tetapi juga seru. Mengingat mayoritas buku ini mengambil waktu di era 1970an dan 1980an, posisi Blue Ribbon dan Nike tampil sebagai underdog. Dalam beberapa tahun pertamanya Phil Knight benar-benar berjuang habis-habisan dengan bagaimana cara dia harus mengatur cashflow perusahaan, bagaimana usaha dia memohon belas kasihan Onitsuka supaya memberi dia stok Tigers. Seiring dengan perkembangan perusahaan Nike ia kemudian harus berhadapan dengan berbagai macam tuntutan legal mulai dari masalah perpajakan sampai tuntutan Tigers kepadanya.

Saya juga takjub dengan keberanian Phil Knight dalam membuka wawasannya. Ambil contoh keputusannya untuk mengelilingi dunia di era 1960an dulu. Ya, Knight mengelilingi dunia pada jaman transportasi dan traveling tak semudah sekarang tetapi dengan gagah berani ia pergi mulai dari mendaki Himalaya sampai berjalan di tengah perkampungan di Manila. Tak heran ia memiliki wawasan yang luas. Saya juga takjub dengan keberanian dia mendobrak pasar dan melakukan bisnis dengan negara-negara Asia di jaman tersebut. Di tahun 1960an ia melakukan bisnis dengan Jepang yang notabene masih merupakan musuh dengan Amerika Serikat seusai Perang Dunia II, di tahun 1970an dia melakukan bisnis dengan Taiwan yang masih merupakan negara terbelakang dan belum semaju sekarang. Terakhir di 1980an dia melakukan bisnis di China yang baru saja membuka tirai komunisme-nya. Luar biasa? Jelas. Dan semua usaha yang ia lakukan terbukti membawa hasil di saat ini saat Nike sudah memiliki start ke depan dibandingkan para kompetitornya di pasaran.

Sayangnya buku ini ditutup secara prematur di tahun awal dekade 1980an di saat Nike memutuskan untuk masuk ke pasar saham dan menjadi perusahaan terbuka. Saya tidak tahu kenapa Phil Knight memutuskan untuk menghentikan cerita di sana? Apakah karena setelah itu sejarah Nike sudah lebih dikenal publik sehingga Knight memutuskan untuk tidak mengisahkannya lagi? Ataukah mungkin menurut Knight posisi Nike di saat itu bukan lagi seorang underdog sehingga perjuangan mereka tak lagi seseru awal-awalnya? Entahlah. Yang jelas buku ini kemudian melompat dalam epilog di tahun 2008, hampir 20 tahun setelah Nike go public. Sayangnya dengan begitu saya juga jadi tidak tahu bagaimana proses Nike merekrut sosok atlet-atlet legendaris yang membuat merk mereka mendunia. Saya masih penasaran bagaimana sebenarnya Nike merekrut Michael Jordan atau Tiger Woods untuk menjadi brand ambasaddor mereka.

Atau mungkin Phil Knight menyimpan detail dari cerita-cerita itu untuk biografinya sendiri di kemudian hari? Atau mungkin sekuel dari Shoe Dog? Entahlah. Yang pasti adalah apabila kisah itu ditulis maka saya siap untuk melahapnya kembali. It’s been an entertaining, entertaining read.

Score: 8.5

Leave a Reply