Pada tahun 1999 sebuah perusahaan kecil bernama Sacnoth menciptakan RPG bernama Koudelka. Saya ingat game Playstation ini memiliki FMV yang cantik dan render karakter utama Koudelka Lessant yang atraktif (pada era tersebut) menjadikan game ini sempat dicari-cari. Sayangnya saat rilis, gameplay yang buruk (dan sulit) ditambah waktu main yang singkat (di bawah 15 jam) membuat Koudelka tak banyak dilirik orang. Sacnoth tidak menyerah: dua tahun setelah Koudelka mereka kembali merilis game dalam universe yang sama tetapi lebih bersifat sebagai spin-off dari Koudelka: Shadow Hearts. Protagonis dari game ini bernama Yuri Hyuga, seorang pria yang memiliki kemampuan khusus berubah menjadi monster.

Saat pertama kali muncul Yuri adalah sosok misterius yang pemain kendalikan untuk menyelamatkan seorang gadis bernama Alice Elliot dari diculik oleh sang penjahat: Roger Bacon. Keberhasilan Yuri menyelamatkan Alice memulai perjalanan keduanya di seantero benua Asia dan Eropa, apa yang sebenarnya diinginkan oleh Roger Bacon akan diri Alice? Kenapa Yuri terus mendengar sebuah suara misterius di dalam kepalanya meminta ia melindungi Alice? Apa rahasia di balik kemampuan Yuri dan kenapa ia bisa mengubah dirinya menjadi monster? Siapa-siapa saja orang-orang yang akan ditemui oleh keduanya dalam petualangan mereka?

Shadow Hearts membedakan diri dari kebanyakan JRPG yang hadir di pasaran pada era tersebut dengan settingnya. Kebanyakan setting game JRPG terletak pada dunia fantasi atau scifi. Sebut saja seri Final Fantasy, Suikoden, Wild Arms, Star Ocean sampai dwilogi Chrono. Itu membuat Shadow Hearts terasa unik: ia bersetting di dunia nyata, di era Inggris jaman Victorian (akhir era 19). Itu berarti sudah ada bibit dari era modern sekarang seperti senjata api dan mesin uap, tetapi teknologi belum sampai semaju itu untuk membuatnya digolongkan pada era sci-fi / futuristis. Tak lupa Matsuzo Machida juga memasukkan banyak elemen-elemen H.P. Lovecraft di dalam game ini, membuat game ini memiliki campuran mistis dan fantasi yang bersetting di dunia nyata. Cerita dalam Shadow Hearts sendiri tergolong standar JRPG baik vs jahat dan sebenarnya sedikit mengecewakan bahwa game ini kurang bisa memanfaatkan settingnya untuk lebih banyak memasukkan elemen-elemen dunia nyata ke dalam gamenya. Pun begitu perlu diingat bahwa ini adalah sebuah game yang dirilis di era 2001, dan untuk era tersebut idenya sudah cukup baik.

Gameplay Shadow Hearts adalah gameplay standar di JRPG pada era awal milenium random battle. Kamu berjalan di dalam sebuah dungeon dan secara random akan masuk dalam battle. Sedikit aneh memainkan game dengan sistem yang praktis sudah tak pernah dipakai di era modern ini tetapi ada keseruan tersendiri memainkannya dikarenakan sistem battle Shadow Hearts memakai Judgement Ring. Judgement Ring adalah sebuah cincin di dalam permainan yang akan menunjukkan kesuksesanmu mengeksekusi apapun di Shadow Hearts. Kamu ingin memakai item tertentu: pastikan timingmu menekan Judgement Ring pas. Kamu ingin memakai skill tertentu: jangan meleset ritme menekan Judgement Ring-nya. Dan kamu ingin membuka pintu terkunci, dapat diskon saat membeli item, sampai mengunlock senjata terkuat dari Yuri sang karakter utama? Yap, jawabannya adalah mahir-mahirlah memakai Judgement Ring. Di satu sisi ini membuat setiap pertarungan di Shadow Hearts tak pernah membosankan dan di lain sisi kadang ini membuat kamu malas bereksperimen mengganti karakter karena sudah terbiasa dengan ritme Judgement Ring karakter tertentu.

Untuk grafik dan sound dari Shadow Hearts memiliki nilai yang berbeda. Grafik dari Shadow Hearts di saat rilisnya dulu tak bagus (jauh dari katakanlah Final Fantasy X yang dirilis di tahun yang sama) dan kelemahan itu semakin terlihat setelah memainkan game ini hampir dua dekade setelah ia dirilis pertama dulu. Design dungeon dan kota-kotanya pun tak berhasil menampilkan sesuatu yang berbeda, terbukti tak ada satupun lokasi yang memorable bagiku setelah saya menyelesaikan game berdurasi kurang lebih 30 jam ini. Yang paling menarik dalam game ini justru terletak pada design musuh yang harus dihadapi oleh grup Yuri. Semua musuh yang ada di dalam game ini memiliki design Lovecraftian yang kental, jenis-jenis monster yang hanya akan muncul dari mimpi buruk seseorang setelah kebanyakan menonton film horor dengan bentuk yang abstrak dan disturbing. Nuansa disturbing itu juga yang kerap menghantui musik yang digubah oleh Yoshitaka Hirota. Mayoritas musik di dalam game ini merupakan campuran musik yang sendu (di kota) dengan pengecualian London yang riang gembira. Sementara di dungeon kualitas musik Hirota terasa menganggu dengan musik pencampuran dawai dan kadang teriakan dan desah-desah manusia. Beberapa kali saya sempat harus menurunkan suara karena musik game ini terkadang terlalu haunting bila didengarkan saat bermain di malam hari. Kalau aspek grafik dari Shadow Hearts sudah uzur dimakan jaman, tidak begitu dengan aspek musiknya.

Sebagaimana yang sekarang kebanyakan orang tahu, Shadow Hearts hanyalah game pertama dari apa yang sekarang dikenal sebagai dwilogi. Banyak orang mengatakan bahwa Shadow Hearts: Covenant merupakan game yang lebih superior dibandingkan prekuelnya ini, tetapi saya tetap menganjurkan Shadow Hearts pertama dimainkan supaya orang lebih mengerti siapa itu Yuri dan apa yang memotivasi hero’s journey-nya di dalam Shadow Hearts: Covenant.

Score: 7.0

Leave a Reply