Saya adalah seorang man of science.

Pertanyaan apakah saya seorang man of faith atau man of science datang kepada saya saat menonton serial berjudul Lost, hampir sedekade yang lampau. Selama bertahun-tahun lamanya saya mempergunjingkan dan mendebatkan pertanyaan ini hanya untuk sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kendati masih ada sisa man of faith dalam diri saya, cara berpikir dan logika yang mendikte saya membuat saya seorang man of science.

Dan salah satu pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh man of science adalah: “Dari mana kita datang?” . Buku Sapiens yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, seorang sejarahwan Israel berusaha menjawab pertanyaan itu dengan mengulas sejarah manusia dari era primitifnya dulu hingga era modern sekarang. Dan wow, sungguh ini sebuah bacaan yang sulit untuk diletakkan. Saya tidak heran tokoh-tokoh dunia seperti Bill Gates dan Barack Obama mengacungkan jempol dan merekomendasikan kepada orang untuk membaca buku ini.

Secara keseluruhan Sapiens dibagi oleh Harari dalam tiga bab besar: Revolusi Kognifitif (Cognitive Revolution), Revolusi Pertanian (Agricultural Revolution), dan Revolusi Iptek (Scientific Revolution). Harari percaya bahwa ketiga revolusi yang terjadi di era-era yang berbeda dalam sejarah manusia inilah yang membedakan manusia dari sekedar binatang lainnya, dan juga memungkinkan manusia mendaki rantai makanan hingga sekarang duduk di puncaknya. Jadi apa saja ketiga revolusi ini?

Revolusi Kognitif dipercaya oleh Harari terjadi 70,000 tahun yang lalu (sekitar 68,000 BC) di mana manusia mulai menciptakan bahasa mereka sendiri. Bahasa manusia yang kian lama kian kompleks inilah yang kemudian memungkinkan mereka melakukan kerjasama yang lebih dari sekedar seperti binatang saja – dan berikutnya juga memungkinkan mereka untuk menghabisi binatang-binatang lebih besar yang tadinya tak dapat dibunuh oleh mereka seorang diri. Salah satu fakta mengejutkan yang saya baca di bagian ini adalah mengetahui bahwa pelajaran biologi dan sejarah yang selama ini saya pelajari di sekolah salah total. Selama ini saya selalu percaya bahwa Homo Floresiensis, Homo Soloensis, Homo Neanderthals, Homo Erectus, dan spesies Homo lain yang saya pelajari dalam sejarah merupakan tahapan dalam evolusi manusia sampai ketika akhirnya mereka mencapai tahap Homo Sapiens.

Saya salah. Salah total. Rupanya Homo Soloensis, Homo Neanderthals, Homo Erectus, dan Homo-Homo yang lainnya adalah bagian dari kelas Homo. Dengan kata lain sebagaimana ada banyak jenis keluarga Feline (terbagi dalam kucing, harimau, jaguar, panther, dan lainnya) – begitu juga manusia dulu ada banyak jenisnya sampai ketika semuanya punah dan menyisakan Homo Sapiens – kita – yang sekarang menjadi satu-satunya anggota dari keluarga Homo yang tersisa. Mindblowing? For sure it is.

Melanjutkan ke Revolusi Pertanian, revolusi yang terjadi sekitar 12,000 tahun yang lalu (sekitar 10,000 BC) ini kemudian melahirkan apa yang kita ketahui sebagai pertanian dan peternakan. Selama hampir 58,000 tahun setelah revolusi kognitif Sapiens menyebar ke seluruh dunia dan perlahan tapi pasti membangun peradaban mereka sendiri, tetapi hanya setelah Revolusi Pertanian sajalah manusia berhenti tidak lagi untuk pergi memburu binatang atau mengumpulkan buah liar. Revolusi pertanian adalah masa di mana manusia berhenti dan mulai bercocok tanam. Ini merupakan landasan kenapa manusia kemudian bisa membangun tempat-tempat yang makin luas dan nantinya akan menjadi kekaisaran dan kerajaan jaman dahulu kala.

Di masa ini jugalah manusia akhirnya mempelajari sebuah penerobosan penting: tulisan. Apabila sebelumnya manusia hanya bisa berbicara secara verbal dan cerita hanya bisa diturunkan turun temurun, dengan ditemukannya tulisan manusia pada akhirnya bisa menyimpan dokumentasi akan sejarah mereka yang kemudian bisa ‘diwariskan’ kepada generasi-generasi berikutnya. Revolusi pertanian berlangsung selama lebih dari 11,000 tahun sebelum revolusi yang paling terakhir mengubah dunia secara total hanya pada 500 tahun terakhir.

Revolusi dunia yang terakhir terjadi hanya lima hingga enam abad yang lalu dan itu ditandai dengan eksplorasi besar-besaran bangsa Eropa ke seluruh dunia. Di masa ini tatanan kehidupan manusia sudah jauh berbeda dari sekarang dan ilmu-ilmu baru yang sekarang menjadi fundamental dunia ditemukan. Isaac Newton menemukan teori gravitasi bumi, Christoporus Colombus menemukan benua baru yang tidak tertulis dalam kitab suci manapun (itulah sebabnya Colombus percaya bahwa Amerika itu India dan menyebut para Native American sebagai Indian), dan James Watt menemukan mesin uap. Di era ini juga agama-agama besar yang lama (Buddha, Hindu, Islam, dan Kristen) mendapati lahirnya agama-agama baru yang menantang hegemoni mereka. Agama-agama modern itu termasuk di dalamnya Kapitalisme, Sosialisme, Demokrasi, dan sebagainya.

Saya tahu benar ada bagian-bagian di dalam Sapiens yang akan membuat kalian tidak nyaman membacanya karena Harari dengan tenang, dingin, dan logis membeberkan cara pikirnya dengan meyakinkan. It’s the inconvenient truth that most of us do not want to hear.

Ambil contoh betapa sadisnya manusia dengan industri peternakan di mana mereka tak lagi menganggap binatang sebagai makhluk bernyawa lagi: tahukah kalian bahwa mayoritas binatang seperti Babi, Sapi, dan Ayam (tiga binatang ternak terbesar) diperlakukan? Dalam penelitian ilmuwan ditemukan bahwa Babi merupakan binatang sosial yang paling cerdas dan bisa tertekan secara sosial apabila dipisahkan dari grupnya. Manusia tak ambil pusing, mereka mengambil babi, menggemukkannya sampai beberapa bulan tertentu lantas menyembelih babi-babi tersebut. Setali tiga uang dengan para Sapi. Anak Sapi yang baru lahir dipisahkan secara paksa dari ibunya, dimasukkan dalam kandang yang sempit, diberi makan dengan mesin satu sementara diambil susunya dengan mesin yang lain, begitu sampai pada bobot yang diinginkan? Mereka disembelih. Ayam lebih tragis lagi… dari bayi mereka sudah ditempatkan di mesin di mana manusia memilih mana yang cacat dan mana yang ‘diperbolehkan’ hidup sampai usia lanjut. Yang cacat atau tak sempurna dengan dingin dibuang begitu saja untuk kemudian langsung dihancurkan di mesin giling. Yang ‘diperbolehkan’ hidup nasibnya tak kalah tragis, ia diberi pakan berlebih yang membuatnya segemuk mungkin dan lantas setelah beberapa bulan mencapai berat idealnya… ia disembelih. Bisa dibilang hanya ayam petelur saja yang nasibnya paling baik karena dibiarkan hidup selama bertahun-tahun… tapi dalam analogi manusia itu berarti seorang ibu hanya diperbolehkan hidup hanya bila setiap kali anak yang ia lahirkan diambil untuk dibunuh.

Fakta-fakta kecil tetapi miris seperti inilah yang membuat Sapiens menjadi sebuah buku yang sangat membuka wawasan. Saya juga senang dengan bagaimana Harari tidak berusaha pro ataupun kontra terhadap salah satu isu secara berlebihan. Ia menuliskan bagaimana ekspansi besar-besaran manusia (jumlah manusia hanya 1.6 Milyar di awal abad lalu, sekarang jumlah populasi manusia mendekati 7 Milyar) memang membuat alam tidak seimbang dan menghancurkan ekosistem dunia (beberapa juta spesies sudah dibuat punah oleh manusia sejak jaman purbakala) tetapi semua kehancuran itu mendorong manusia untuk terus menyempurnakan diri dan melangkah ke tahapan evolusi lebih lanjut. Apakah kehidupan abadi manusia bisa dicapai? Harari percaya bahwa jawabannya adalah ya. Apakah masa damai manusia bisa dicapai? Walaupun dunia tiap hari dipenuhi dengan kekerasan, apabila berkaca dari sejarah ini merupakan masa-masa paling damai dalam kehidupan manusia (dan itu benar, saya pernah membaca hasil riset yang sama dari majalah Newsweek dan Time).

Pada akhirnya Sapiens: A Brief History of Humankind adalah sebuah bacaan yang patut dibaca oleh siapapun, tak peduli apakah kalian seorang man of science atau man of faith, tulisan Harari dijamin akan menantangmu untuk memikirkan kembali point of view-mu akan dunia ini.

Score: 9.5

Leave a Reply