Setelah kesuksesan dari Beauty and the Beast di tahun 2017 lalu Disney memutuskan untuk tancap gas membuat film live action dari film animasi lawas mereka yang sukses. Tahun ini tidak tanggung-tanggung ada EMPAT film live action yang bakalan dirilis.

Gila bukan? EMPAT dalam kurun waktu kurang dari delapan bulan. Saya pribadi geleng-geleng dengan strategi Disney ini sebab secara pribadi saya merasa ini akan membuat pasar menjadi jenuh dan tak lagi menganggap film-film ini sesuatu yang spesial. Hal tersebut mulai terasa ketika pasar biasa-biasa saja menerima film Dumbo. Pendapatan film tersebut jauh dari Beauty and the Beast walaupun sudah dibesut oleh sutradara sekaliber Tim Burton. Toh banyak orang mengatakan bahwa properti film Dumbo sudah kelewat lawas dan itu membuat orang tak tertarik menontonnya (anehnya tak ada yang memakai logika sama ketika The Jungle Book sukses besar dan pendapatannya mendekati 1 Milyar USD). Percobaan kedua bagi Disney datang dengan Aladdin. Dengan properti yang lebih terkenal dan tanggal tayang yang optimal (Memorial Day adalah salah satu hari libur terbesar di Amerika) bisakah Aladdin mendapatkan sukses besar?

Di antara empat film live action yang keluar tahun ini bisa dibilang film Aladdin-lah yang paling kontroversial semenjak casting Will Smith sebagai sang Genie. Saya bisa memahami hal itu. Di antara semua film di era Disney Renaissance hanya satu tokoh yang paling identik suaranya; Robin Williams dengan Genie. Itulah sebabnya mengcasting aktor populer Will Smith membuat banyak orang khawatir kalau Smith akan merusak legacy dari sang Genie. Yang membuat film ini makin sulit diprediksi bakalan sukses atau tidak adalah dua karakter utama lainnya, Aladdin dan Jasmine, diperankan oleh dua artis yang tidak seberapa dikenal masyarakat. Mena Massoud sebagai Aladdin adalah seorang newcomer sementara Jasmine diperankan Naomi Scott yang peran terbesarnya sebelum ini adalah jadi Kimberly Hart dalam reboot Power Rangers. Jelas mereka bukan aktor kaliber Will Smith.

Awalnya saya merasa apatis saat menonton film ini. Rasanya film ini akan bisa menyamai versi animasi yang bagiku merupakan salah satu pencapaian terbaik Disney di era Renaissance-nya. Walau list film terbaik di era itu mungkin berbeda-beda bagi saya top three-nya (tidak berurutan) adalah: The Lion King, Aladdin, dan Mulan… itulah kenapa saya memiliki harapan lebih tinggi akan film ini ketimbang Beauty and the Beast… sekaligus lebih takut dikecewakan olehnya. Di luar dugaan, ternyata film ini tidak buruk-buruk amat. Bahkan di momen-momen tertentu, ia cukup enjoyable. Mari kita lihat beberapa poin positif dari versi adaptasi Aladdin ini.

Pertama adalah bagian yang paling signifikan: bagian di mana Putri Jasmine mendapatkan momennya untuk lebih bersinar di film ini. Saya biasanya membenci film yang nafas feminismenya terlalu kental… dan sempat khawatir film ini terasa seperti itu membaca review dari beberapa orang. Rupanya tidak. Personal struggle dari Jasmine di dalam film ini membuat sosoknya terasa lebih hidup ketimbang sosok Jasmine versi animasi. Lebih bagusnya lagi adalah ada sebuah lagu tambahan yang digubah oleh Alan Menken untuknya (bekerja sama dengan duet Pasek dan Paul yang sedang panas di Hollywood dua tiga tahun terakhir ini) berjudul Speechless. It’s a new, great song yang merupakan tambahan yang pantas untuk film ini.

Will Smith sebagai Genie is actually… not bad. Dia bukan Robin Williams dan ia tak mencoba menjadi seperti sang komedian legendaris itu. Will Smith as a Genie is just being Will Smith here… dan itu bukan hal yang buruk sebab Smith adalah salah satu aktor yang paling karismatik di Hollywood. He’s that kind of smooth and funny guy. Persahabatan dan chemistry antara Smith dan Massoud pun terasa otentik, membuat twist di penghujung film (bagi mereka yang tak pernah menonton film animasi Aladdin) menyentuh. Jangan lupa karena Smith juga seorang penyanyi maka ia juga menyanyikan lagu-lagu ngetop dari Aladdin seperti Friends Like Me dan Prince Ali.

Mereka yang familiar dengan gaya penyutradaraan Guy Ritchie pasti bisa menangkap beberapa ciri khasnya di film ini, terutama pada bagian-bagian kinetis dan aksi film ini. Dalam hal itu, saya bisa memahami kenapa Disney memakai Guy Ritchie. Di antara film-film Renaissance-nya hanya Aladdin dan Tarzan saja yang cocok dengan gaya penyutradaraan Ritchie. Akan tetapi Ritchie sepertinya agak kewalahan menyutradarai momen-momen musikal film ini. Di luar Friends Like Me dan Speechless, momen-momen lagu di film ini terasa hambar. Prince Ali terasa kurang megah dan A Whole New World terasa datar dan tak memberi impact seperti versi orisinilnya.

Kalau harus bicara mengenai kelemahan film ini itu terletak pada Aladdin dan Jafar. Sosok Aladdin di sini terasa hambar. Saya menyayangkan karakternya yang tak dikembangkan lebih banyak seperti Jasmine. Saya tak pernah jelas akan backstory dari Aladdin. He’s never a hero or an underdog we can root for. Untuk versi animasi mungkin sosoknya yang dua dimensi tak terlalu dipikirkan, apalagi Aladdin dirilis di tahun 1992 saat film animasi masih lebih diperuntukkan untuk anak-anak. Melihatnya dari kacamata orang dewasa sekarang, ah… saya menyayangkan film ini tak berani lebih mengubah sosok Aladdin. Tapi lebih parahnya lagi sosok Jafar di film ini sebagai seorang villain gagal total. Banyak orang mengatakan dalam casting dia adalah Jafar Ganteng. Sayangnya kegantengan itu tak dibarengi dengan kemampuan akting yang mumpuni. Ketimbang terlihat sebagai seorang sosok villain Disney, ia lebih terasa sebagai antagonis sinetron yang jahat hanya karena dipaksa plot menjadi jahat.

Aladdin pada akhirnya adalah tontonan yang tanggung. Ia tak seburuk yang diduga orang sebelumnya tetapi di dalam film ini juga banyak potensi yang belum tergali dan bisa dimaksimalkan lebih lagi. Seandainya saja Disney tak buru-buru merilisnya tahun ini, mengembangkan skripnya lebih apik lagi, dan memperbaiki beberapa efek CG yang masih terasa kasar di adegan-adegan tertentu, Aladdin bisa menjadi sesuatu yang spesial ditonton anak-anak masa sekarang.

Score: B-

Leave a Reply