Shadow Hearts: Covenant

Shadow Hearts: Covenant adalah judul ketiga dalam franchise Shadow Hearts, saga yang dimulai dari Koudelka di tahun 1999 dan dilanjutkan di Shadow Hearts di tahun 2001. Kedua game tersebut memiliki cult following di kalangan para gamer tetapi tidak bisa disangkal bahwa kedua game tersebut memiliki banyak kelemahan yang membuatnya tak akan disebut dalam perbincangan JRPG terbaik sepanjang masa. Keadaan berubah dengan Shadow Hearts: Covenant yang dirilis di tahun 2004. Game ini dirilis dan mendapatkan pujian dari hampir semua media gaming besar di era itu termasuk situs gaming IGN dan Gamespot. Banyak pemain RPG yang tak ragu memasukkan Shadow Hearts: Covenant sebagai salah satu JRPG terbaik yang pernah mereka mainkan. Apa yang membedakan entri ini dari entri-entri Shadow Hearts yang lain?

Mengingat Shadow Hearts: Covenant merupakan sambungan langsung dari Shadow Hearts yang pertama, akan ada spoiler dari game pertama. You’ve been warned.

Covenant mengambil setting waktu setengah tahun setelah Yuri, Alice, dan teman-temannya berhasil menghentikan ambisi Albert Simon. Akan tetapi di balik kesuksesan itu Yuri harus memendam duka mendalam karena Alice meninggal dunia menanggung kutukan dalam diri Yuri. Meninggalnya Alice membuat Yuri pergi menyendiri di desa bernama Domremy, menjalani kehidupannya sebagai pelindung dari desa tersebut.

Dunia di luar bagaimanapun tidak berhenti bergolak karena kesedihan Yuri. Setting dari Shadow Hearts: Covenant adalah tahun 1915 di mana Perang Dunia I (atau disebut juga The Great War) tengah bergolak menyelimuti Eropa dan Asia. Desa Domremy yang damai tidak luput dari hal itu. Tentara Jerman di bawah pimpinan gadis muda Karin Koenig diutus untuk mengambil alih Domremy dengan bantuan sebuah organisasi misterius Sapientes Gladio dikarenakan Domremy dilindungi oleh seorang Iblis yang sangat kuat (Yuri – dalam bentuk perubahannya). Salah satu anggota Sapientes Gladio bernama Nicolai berhasil menusukkan sebuah Mistletoe pada tubuh Yuri. Mistletoe Curse ini tak hanya mampu melumpuhkan Yuri tetapi juga menyegel kekuatannya untuk berubah. Karin, menyadari bahwa selama ini ia telah berjuang di pihak yang salah, memutuskan untuk melarikan diri bersama Yuri.

Dan dimulailah kembali petualangan Yuri. Bisakah ia menghapus kutukan Mistletoe pada dirinya? Dan bagaimanakah kiprah kelompok Yuri dalam mengubah sejarah Perang Dunia yang bergolak di sekeliling mereka?

Shadow Hearts pertama adalah game yang memiliki potensial menjadi hebat tetapi memiliki banyak kelemahan yang kurang dipoles – membuatnya kurang optimal. Shadow Hearts: Covenant menutupi semua kekurangan itu dan bahkan memperbaiki segala aspek yang apik dari Shadow Hearts pertama! Mari kita bedah tiap-tiap aspeknya.

Dari segi cerita, Shadow Hearts: Covenant membangun kisah dari Shadow Hearts pertama dan ini membuat kita menjadi simpatik dengan karakter Yuri. Di antara delapan karakter playable di Shadow Hearts: Covenant, memang adalah Yuri yang memiliki pertumbuhan karakter paling banyak. Karakter Yuri yang bermulut tajam masih ada di sini, tetapi di setiap banter yang dia lakukan gamer tidak pernah dibuat lupa bahwa sosok Yuri ini menyimpan duka yang mendalam karena kehilangan Alice. Itulah yang membuat momen-momen emosional dalam game ini begitu mengena impact-nya.

Di antara karakter baru yang ada praktis hanya Karin – protagonis utama kedua – yang mendapatkan perkembangan karakter cukup banyak. Sisanya yang lain memiliki sedikit hubungan dengan game pertama, beberapa momen krusial dalam game, tetapi bisa dibilang backstory mereka masing-masing kurang dikembangkan. Yang lucu, satu lagi karakter lain yang mendapatkan perkembangan dalam kisahnya justru adalah sosok lain yang juga hadir dari game Shadow Hearts pertama – dan dia bukanlah seorang Playable Character!

Saya juga senang dengan bagaimana Shadow Hearts: Covenant lebih banyak memasukkan aspek sejarah dalam bagian ceritanya. Shadow Hearts pertama boleh jadi bersetting di jaman perang antara Jepang dan Russia tetapi cerita dalam game bisa dibilang berdiri sendiri. Ini sangat berbeda dengan Shadow Hearts: Covenant yang sukses memasukkan elemen Perang Dunia I sampai kesitegangan antara Jepang – Cina menghadapi prospek perang yang meluas ke negara mereka. Game ini sedikit banyak mengingatkanku dengan Rurouni Kenshin, sebuah kisah fiksi yang memiliki background sejarah dan orang-orang nyata di dalamnya. Seperti halnya Kenshin, Yuri juga adalah sosok fiktif yang banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh sejarah yang benar-benar ada.

Dari segi gameplay, Shadow Hearts: Covenant memiliki lompatan yang LUAR BIASA dibandingkan game pertamanya. Game ini jauh lebih panjang dibandingkan game pertama – play time saya dua kali lipatnya! – dan ia penuh dengan subquest dan pernak-pernik kecil yang bisa ditemukan di sepanjang game. Setiap karakter yang bergabung dengan Yuri bahkan punya misi mereka sendiri-sendiri untuk menemukan senjata atau skill terkuat mereka. Ambil contoh Joachim yang harus beradu gulat dengan gurunya dari kaum Sikh India guna belajar kemampuan baru… atau Wolf Bout yang harus dilakoni oleh Blanca supaya ia bisa dicap menjadi serigala terkuat di seantero dunia. Bahkan menjelajah di tempat tertentu secara random akan bisa membuat Yuri dan kawan-kawannya bertemu dengan Ring Soul – sebuah entitas yang kerap diajak bercanda dan punya ceritanya sendiri dalam dialog-dialog yang jenaka.

Sistem Graveyard yang sangat saya benci di game pertama (karena membuat gamer ketakutan menjelajahi sebuah dungeon lama-lama) sudah diubah total oleh Nautilus menjadi tempat di mana Yuri bisa melakukan level up dan membuka skill baru dalam dirinya. Seperti halnya game pertama, Graveyard yang adalah jiwa Yuri tak hanya berfungsi dalam gameplay semata tetapi juga merupakan fragmen dari memori Yuri yang berperan penting dalam cerita.

Battle dalam Shadow Hearts: Covenant pun banyak diperbaiki di mana kali ini kamu tak sekedar memakai tiga karakter tetapi empat dalam battle. Memakai empat karakter di dalam Battle membuat variasi Battle menjadi makin unik karena setiap karakter memiliki skill individual yang berbeda, jurus serangan biasa pun ada empat jenis mulai dari Standard, High-Rise yang bisa melempar musuh ke angkasa, mendorong musuh mundur, sampai menghajar mereka dengan Knock-Down. Belum lagi tambahan Combo antara karakter yang membuat Battle terasa makin dinamis. Musuh sedang bersatu karena mereka ingin melakukan Combo? Kalian bisa menyerang dengan Spell yang memiliki AoE / Splash Damage yang besar atau melakukan serangan tipe Hard-Hit yang mendorong musuh mundur dan memecah formasi Combo mereka. It’s a great battle system yang membuat gamer tak bosan melakukan grinding menaikkan level.

Terakhir adalah segi visual dan audionya. Shadow Hearts pertama dirilis di awal era PS2 dulu sehingga kualitas grafisnya masih terasa kasar. Setiap kota yang dikunjungi Yuri, Alice, dan kawan-kawan pun terasa kecil. Hal itu banyak berubah di sini. Kualitas FMV jelas meningkat jauh dan itu dibarengi kualitas grafik in-game. Tidak, tentu saja belum bisa menyamai kualitas RPG kelas berat ala Final Fantasy XII atau Grandia III dari Square Enix (tentu budget development keduanya pun berbeda jauh) tetapi terlihat sekali ada lompatan kualitas yang jauh dari game pertamanya. Kuantitas voice acting di dalam game ini pun jauh lebih banyak, membuat momen-momen dramatis di dalam game ini terasa makin hidup. Untuk departemen musik, Yoshitaka Hirota masih menjadi komposer utama dari game ini. Akan tetapi musik di dalam game ini tidak lagi didominasi nuansa gothik yang kadang menyeramkan kalau didengarkan lama-lama. Selain Hirota, Yasunori Mitsuda kali ini mengambil peranan lebih banyak sebagai komposer sekunder di belakang Hirota dan hasilnya jelas terlihat dalam beberapa background musiknya (Old Smudged Map is epic!). Saya selalu suka dengan karya-karya Mitsuda terutama masterpiece-nya di Chrono Trigger dan Chrono Cross sehingga pengaruhnya di Shadow Hearts: Covenant sangat saya apresiasi.

Bicara soal audionya, tak lengkap kalau tak menyebutkan soal Getsurenka yang dinyanyikan dengan brilian oleh Mio Isayama. Gabungan dari dua musik: Kallen dan Icaro ditambah suara Isayama membuat Getsurenka menjadi penutup yang sempurna untuk JRPG yang nyaris sempurna ini. Membuat sekuel sebuah JRPG bukan hal yang mudah, apalagi membuat satu yang ceritanya langsung berkesinambungan dengan prekuelnya. Shadow Hearts: Covenant tak hanya berhasil melakukan itu, memainkan dan menyelesaikannya membuat sang prekuel terasa lebih bermakna. What a masterpiece.

Score: 9.0

Leave a Reply