The Darkest Legacy

Trilogi The Darkest Minds sudah ditutup dengan manis oleh Alexandra Bracken dalam In the Afterlight. Walaupun tak semua karakter menemukan happy ending-nya, trilogi ini bisa dibilang sudah tertutup tuntas. Oleh karena itu saya sebenarnya cukup terkejut ketika Alexandra Bracken memutuskan untuk melanjutkan kisah ini dalam novel terbarunya: The Darkest Legacy. Apakah novel ini bisa menambahkan sesuatu yang baru dari dunia The Darkest Minds?

Review ini tidak akan berisi spoiler bagi buku The Darkest Legacy tetapi akan berisi spoiler untuk trilogi The Darkest Minds, continue at your own risk – karena saya tidak memiliki kekuatan psikis seorang Orange untuk menghapus ingatanmu.

Novel ini dibuka in-medias-res di mana Suzume ‘Zu’ Kimura sedang melarikan diri dari kejaran pihak berwajib. Dia tengah bersama dengan dua orang temannya. Yang aneh kedua temannya ini bukan Chubbs, bukan Ruby, bukan Liam, dan bahkan bukan juga Vida. Pembaca jadi dibuat bertanya-tanya, ke mana saja para protagonis utama dalam trilogi The Darkest Minds? Perlahan-lahan Alexandra Bracken menyingkap apa yang terjadi dalam kurun waktu lima tahun sejak akhir buku In the Afterlight ke buku ini.

Perubahan besar pertama yang terjadi di dunia ini adalah bagaimana negara Amerika Serikat pada akhirnya tidak lagi memenjarakan para anak-anak berkekuatan khusus di dalam penjara. Revolusi yang terjadi di In the Afterlight sukses memaksa Presiden Gray untuk mengosongkan jabatannya dan membawa perubahan di Amerika Serikat. Akan tetapi pemerintahan pada saat ini tak lantas berlangsung mulus begitu saja. Seperti sejarah yang sesungguhnya: mengganti sesuatu lebih mudah daripada mempertahankan sesuatu… dan itulah yang memecah-belah kwartet protagonis dalam trilogi pertama. Baik Ruby, Liam, Chubbs, dan Zu semua memiliki cara mereka sendiri-sendiri untuk mempertahankan perubahan yang mereka perjuangkan bersama-sama.

Buku The Darkest Legacy ini mempertahankan kualitas penulisan Alexandra Bracken dalam membangun dunianya. Saya suka bagaimana negara Amerika Serikat tak langsung dengan mudah menjadi utopia surga bagi anak-anak dengan kemampuan spesial. Hidup mereka jelas sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya – tetapi masih banyak ketegangan di bawah permukaan antara para anak-anak yang kadung benci kepada orang dewasa… dan sebagian orang dewasa pun tak bisa menerima anak-anak yang memiliki kekuatan mengerikan hidup kembali di tengah mereka. Analogi perpecahan ini sudah beberapa kali diapungkan dalam media fiksi, paling populer jelas X-Men dengan gen mutant-nya di komik Marvel. Toh, membaca topik ini terasa miris melihat polemik yang tengah terjadi di Amerika saat ini. Bracken tak berusaha menyembunyikan fakta kalau para anak-anak Psi ini seperti kaum refugee yang ditolak di Amerika oleh sebagian besar penduduk di sana.

Dan sikap Bracken secara tidak langsung muncul di dalam novel ini melalui tiga sosok protagonis utamanya: Zu, Roman, dan Priyanka. Seorang berketurunan Jepang, Russia, dan India. Seakan-akan Bracken anti memasang tokoh utama pria kulit putih yang dari Amerika. Berusaha mencoba untuk jadi politically correct? Ah, entahlah.

Yang menjadi kelemahan di dalam buku ini adalah sosok Zu yang secara radikal berbeda dari tokoh Zu yang kita kenal selama ini. Selama ini kita membaca sosok Zu dari sudut pandang orang lain (terutama Ruby). Itu membuat kita menyangka bahwa Zu adalah seorang anak yang baik hati dan lemah lembut – serta mungkin sedikit pemalu dan imut. Satu-satunya impact besar yang dilakukan Zu (dalam novel utama) adalah saat Zu pertama kali berbicara. Dan momen itu terus terbawa di novel ini dikarenakan Zu menjadi salah satu pembicara untuk pemerintahan Amerika Serikat yang baru – berusaha menjembatani antara pemerintahan dan para anak-anak psikis. Akan tetapi saya terkejut melihat lima tahun membawa perubahan sangat besar dalam diri Zu. Ia jauh lebih garang, jauh lebih berani, jauh lebih independen ketimbang sebelumnya. Betul, Zu adalah orang pertama dalam kwartet protagonis yang memecahkan diri dari rombongan – tapi perlu diingat saat itu ia ikut dengan sepupunya. Zu yang saya baca di sini lebih berani memberontak dan melanggar aturan; cukup refreshing membacanya… walau di bagian-bagian tertentu saya seakan bukan membaca sosok Zu tetapi sosok Ruby dalam diri Zu.

Secara keseluruhan saya merasa The Darkest Legacy adalah tambahan yang baik untuk serial buku ini. Saya suka dengan karakter Roman dan Priyanka sebagai dua karakter pendamping Zu yang baru. Keduanya memiliki backstory yang menarik. Saya juga suka dengan bagaimana sang penulis tak buru-buru menjelaskan secara eksposisi berlebih mengenai keadaan dunia, melainkan mengupasnya pelan-pelan baik melalui sudut pandang Zu maupun dari flashback. Saya tidak tahu bagaimana kisah ini akan berlanjut sebab tidak ada cliffhanger yang menggantung di saat novel ini ditutup – sesuatu yang mengejutkan sebab sesuatu yang saya sangka akan menjadi cliffhanger langsung diselesaikan di bab epilog-nya. Akan tetapi bila Bracken memutuskan untuk menulis sekuel bagi The Darkest Legacy… why not? I’ll be there to read it.

Score: B

Leave a Reply