Stasiun TV kabel HBO menghadapi pertanyaan besar mengenai masa depannya setelah akhir dari Game of Thrones. Lansekap dunia televisi sudah jauh berbeda dari tahun 2011 saat Game of Thrones pertama kali tayang dulu. Apabila dulu TV kabel dianggap destinasi premium bagi serial-serial TV bergengsi, sekarang kok posisi itu seperti sudah diambil oleh layanan streaming Netflix. Di jaman serba instan ini para penonton seakan tidak betah untuk menanti satu minggu sekali menonton serial TV mereka, mereka ingin menontonnya dalam format binge-watching yang terus menerus hingga satu season berakhir. Di luar dugaan Chernobyl – sebuah mini-seri yang tidak ada gaungnya – mendadak saja merebut perhatian banyak orang. Tak pernah selain True Detective (season pertama) ada sebuah mini-seri yang merenggut perhatian banyak orang seperti ini.

Chernobyl adalah sebuah mini-seri lima episode yang digawangi oleh tiga artis karismatik: Jared Harris, Stellan Skarsgard, dan Emily Watson; dan berkisah mengenai tragedi Chernobyl. Bagi kalian pembaca yang lahir setelah era millenium mungkin tidak familiar dengan masa perang dingin. Dahulu kala, Russia belum terpecah menjadi begitu banyak negara seperti sekarang melainkan merupakan sebuah negara kesatuan bernama Uni Soviet. Selepas Perang Dunia II Amerika dan Uni Soviet terikat dalam Perang Dingin yang berlangsung selama puluhan tahun lamanya dan tensinya naik turun. Nah, dikarenakan Uni Soviet sangat tertutup dengan azas komunisme yang mereka anut (anggap saja seperti Korea Utara sekarang) tragedi Chernobyl sempat tidak terdengar gaungnya selama beberapa hari.

Chernobyl adalah sebuah tragedi bencana manusia di mana sebuah situs pembangkit energi dengan reaktor nuklir meledak dan menyebarkan racun kontaminasi. Bahkan hingga hari ini – 30 tahun setelah Chernobyl meledak – tempat tersebut masih tidak aman untuk dikunjungi orang. Lokasi ini bahkan dinilai takkan sehat untuk dihuni manusia hingga puluhan ribu tahun yang akan datang (tulisan ‘ribu’ di sana bukan typo – ilmuwan memperkirakan bahwa Chernobyl akan mulai aman dihuni manusia setelah 20 – 25 ribu tahun). Tragedi ini membuat banyak orang pada awalnya bingung sebab bukankah sebuah pembangkit energi reaktor nuklir tak seharusnya ‘mudah’ meledak. Miniseri ini mengupas tuntas mengapa Chernobyl bisa terjadi… mulai dari detik-detik sebelum, saat, dan sesudah Chernobyl meledak sampai bagaimana pergulatan birokrasi di Uni Soviet menangani masalah ini.

Seperti yang saya tulis di atas miniseri ini digawangi oleh tiga aktor kenamaan yang namanya familiar tetapi jarang mendapatkan spotlight utama di layar lebar. Harris contohnya mungkin dikenal penonton awam sebagai villain dalam film Sherlock Holmes-nya Robert Downey Jr. sementara Skarsgard semestinya dikenal dengan perannya sebagai Erik Selvig yang lucu di dwilogi Thor dan The Avengers di MCU. Jauhkan image kalian dari peran-peran popcorn ringan keduanya. Di sini mereka berperan sebagai Valery Legasov dan Boris Scherbina: dua tokoh riil yang menjadi ujung tombak penanganan tragedi Chernobyl. Legasov adalah ilmuwan yang bekerja keras mencegah tragedi lebih besar setelah aftermath Chernobyl terjadi dan Scherbina adalah sosok di tengah pemerintahan yang berusaha melobi Mikhail Gorbachev (pemimpin Uni Soviet saat itu) mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan. Interaksi antara keduanya adalah highlight dalam serial ini. Bagaimana dengan Emily Watson? Sosoknya sebagai Ulana Khomyuk bukan diangkat dari orang riil tetapi adalah gabungan dari para ilmuwan-ilmuwan lain yang membantu Legasov dalam menangani bencana Chernobyl.

Akting yang mumpuni tak hanya dihadirkan ketiga orang ini tetapi juga aktor-aktor pendukung lain di dalam film ini, saya terutama sangat terkesan dengan akting Paul Ritter sebagai Anatoly Dyatlov yang mengesalkan. Tentu saja performa para aktor di sini didukung dengan skrip yang kuat yang membahas tragedi Chernobyl secara ilmiah tetapi disederhanakan sehingga orang awam pun dapat memahaminya. Salut kepada Craig Mazin yang menjadi kreator serial ini… dan sulit membayangkan orang yang menyutradarai film setolol spoof Superhero Movie bisa menjadi kreator serial seberat ini. Tak kalah bagus adalah pengarahan Johan Renck sebagai sutradara kelima episode serial ini. Renck mampu menangkap shot dengan mood yang berbeda di tiap episode yang ada, salah satu adegan yang paling berkesan di sini terjadi saat Renck mengambil shot di mana banyak orang di kota Pripyat melihat ledakan Chernobyl dari kejauhan – tak sadar bahwa mereka tengah berhadapan dengan partikel radioaktif yang akan membunuh mereka perlahan-lahan. Sungguh sebuah shot yang brilian dan haunting.

Satu-satunya kelemahan Chernobyl di mataku adalah bagaimana dialog di dalam serial ini semua dilakukan dalam bahasa Inggris dan terkadang dengan aksen yang berbeda-beda. Mengingat ini terjadi di Uni Soviet tentu saja tidak mungkin dialog dilakukan dalam bahasa Inggris dan itu kerap menjadi pengingatku bahwa saya tengah menonton sebuah serial – dan bukannya tengah mengikuti kisah nyata Chernobyl. Sebuah keluhan minor tetapi bagi mereka yang sangat menghargai otentitas kisah ini mungkin akan sedikit kecewa karenanya.

Pada akhirnya Chernobyl adalah sebuah mini-seri yang patut ditonton semua orang. HBO membuktikan bahwa TV Kabel belum mati dan tetap bisa menghasilkan serial-serial yang berkualitas. Kendati Game of Thrones sudah berakhir, apabila mereka masih bisa menghasilkan konten-konten bermutu macam ini… maka masa depan mereka jelas cerah. Ijinkan saya menutup review ini dengan satu komen: tolong beri penghargaan Emmy kepada Jared Harris dan Stellan Skarsgard! They totally deserve it!

Score: 9.0

Leave a Reply