Bong Joon Ho adalah salah satu sutradara Korea Selatan yang punya nama di luar negeri. Namanya pertama mulai dikenal oleh kalangan mainstream setelah ia sukses menggaet aktor kaliber Hollywood macam Chris Evans dan Tilda Swinton di dalam film Snowpiercer ciptaannya. Film tentang kereta yang terus berjalan tanpa henti membawa manusia tersisa setelah kiamat menjadi sebuah film yang mendapatkan banyak cult following. Ia juga menjadi sebuah film yang membuat saya sadar bahwa Captain America is more than just a pretty face. Setelah film Snowpiercer, Bong Joon Ho kembali menggebrak publik Amerika – kali ini melalui layanan streaming Netflix. Karya orisinilnya: Okja hadir, mendapat pujian banyak kritikus dan sebuah nominasi dalam Palme d’Or alias Golden Palm – sebuah ajang penghargaan film-film artistik terpuji.

Bicara soal Okja karya Bong Joon Ho ini sempat mendapat kontroversi bukan karena isi kontennya sendiri tetapi karena layanan streaming Netflix-nya. Rupa-rupanya banyak kaum sinema lawas yang tidak terima dan merasa Netflix memakan pangsa pasar mereka! Entah benar entah tidak, konon itu yang menjadi alasan kenapa Okja tak mampu menyabet penghargaan Golden Palm di tahun itu, penghargaan jatuh ke film The Square. Nah, tahun ini Bong Joon Ho kembali dengan Parasite, film terbarunya. Setelah dua film yang berisi bintang-bintang Hollywood mulai Chris Evans sampai Jake Gyllenhaal, sekarang film Parasite sepenuhnya hanya berisi aktor-aktor Korea Selatan saja. Karena dirilis dalam format layar lebar biasa, film ini mampu menyabet penghargaan paling bergengsi: Palme d’Or. Sebagai film Korea Selatan pertama yang mampu memenangkan Golden Palm, sebagus apa sih Parasite itu sebenarnya?

Keluarga Kim Ki-Taek ini adalah keluarga pembohong. Mereka adalah keluarga yang licik dan banyak akal mulai dari ayahnya: Kim Ki-Taek, istri Choong Sok, serta dua anaknya Kim Ki-woo dan Kim Ki-jung. Mereka hidup di basement rumah dan pendapatan mereka sangat pas-pasan. Bisa dibilang nasib mereka hanya sedikit lebih baik dari gelandangan. Suatu hari Ki-woo mendapat sebuah kesempatan untuk mengubah nasib keluarganya setelah seorang temannya memperkenalkan dia untuk menjadi guru les dari keluarga kaya raya: keluarga Park. Ki-woo yang menyadari kesempatan seumur hidup ini dengan cepat mendekat dan mengakrabkan diri dengan keluarga Park, lantas memasukkan keluarganya menjadi bagian dari pekerja keluarga Park. Sang ayah menjadi supir, sang ibu menjadi pembantu rumah tangga, sementara adik perempuannya juga menjadi guru les. Maka lengkaplah sudah keluarga Kim hidup menjadi benalu – alias parasit – dari keluarga Park.

Film Parasite adalah film yang menghebohkan. Ketika saya menulis review ini ada berita bahwa ia sukses menjadi film terlaris di Indonesia melewati film Train to Busan! Bahwa sebuah film artsy bisa melewati jumlah penonton film yang lebih mainstream tentunya membuatku penasaran. Sebagus itukah Parasite sampai para moviegoers di Indonesia bisa menerimanya? Tentunya ini bukan karena bintang tamu Park Seo-joon yang tampil sebentar di film ini bukan?

Selidik punya selidik, Parasite memang sebuah film yang solid. Akting dari semua pemain di film ini sangat prima, terutama pada empat karakter yang berperan menjadi keluarga Kim. Mereka adalah keluarga Parasit yang menyebalkan, memang – tetapi di sisi lain Bong Joon Ho juga menyoroti bagaimana derita mereka sehari-harinya sampai memaksa mereka berbohong dan bertindak semau mereka untuk bertahan hidup. Di sisi lain saya sedikit kecewa bagaimana Joon Ho jatuh pada pakem: keluarga yang kaya adalah keluarga yang insensitif – bahkan digambarkan sedikit bodoh. Keluarga Kim digali secara mendalam tetapi mengorbankan keluarga Park. Saya sendiri datang dari keluarga yang lumayan berada sehingga saya merasa kecewa penggambaran keluarga dari dua strata ekonomi yang berbeda ini digambarkan secara terlalu tak berimbang.

Pun begitu, Parasite masih saya acungi jempol karena Bong Joon Ho secara percaya diri membawa jalan cerita film ini sepenuhnya di dalam kendalinya. Ada momen di tengah film di mana Parasite menampakkan twistnya dan… di tangan seorang sutradara yang tak berpengalaman berpotensi menghancurkan film ini. Adalah bukti kepiawaian Bong Joon Ho bahwa ia tetap kompeten mengendalikan alur cerita Parasite. Saya tidak bisa berkomen banyak apakah Parasite layak mendapatkan Golden Palm atau tidak sebab saya belum melihat film-film lain yang masuk dalam nominasinya. Tapi kalau dari katalog film Bong Joon Ho yang saya tonton sebelumnya; saya kok masih lebih menyukai Snowpiercer dibandingkan film ini ya?

Saran saya: masuklah menonton Parasite tanpa ekspektasi dan hype apapun juga. Saya menonton film ini dikarenakan besarnya hype yang mengelilingi film ini sehingga saya sedikit underwhelmed dengannya. Toh terlepas dari film ini tak mampu memenuhi ekspektasi saya ini masih merupakan sebuah film yang solid dan membuat penonton merenung keluar dari bioskop. And for that I urge all people to watch it.

Score: B

Leave a Reply