Weathering With You

Saya termasuk orang yang telat tahu siapa itu Makoto Shinkai.

Sebagai seorang penggemar anime / manga / kultur Jepang dari usia yang relatif muda seharusnya nama Makoto Shinkai sudah masuk dalam radarku paling tidak dari akhir dekade lalu di mana nama Shinkai dikenal dengan film-film animasinya yang unik dan berbeda dari keluaran studio Ghibli. Toh nasib menyatakan saya memang tak berjodoh menonton film dari sutradara muda ini sampai di tahun 2017 lalu. Ya, itu adalah tahun di mana nama Shinkai mendadak dikenal seantero dunia karena film terbarunya: Kimi no na wa alias Your Name mampu merebut perhatian khayalak mainstream.

Film tersebut tak hanya sukses menjungkirkan Spirited Away sebagai film animasi terlaris di Jepang – sebuah posisi yang dipegang film Studio Ghibli itu selama lebih dari sedekade – tetapi juga membuat banyak orang yang tadinya tak tahu nama Makoto Shinkai (termasuk saya) jadi menanti-nantikan karya apa yang akan ia telurkan berikutnya. Jawabannya adalah Tenki no Ko atau lebih dikenal dengan judul bahasa Inggrisnya: Weathering with You. Bisakah Shinkai mengulangi keajaiban yang sama ataukah karyanya yang ini akan kembali menenggelamkannya hanya di kalangan pecinta anime semata?

Film ini adalah kisah dua insan manusia: Hina dan Hodaka yang dipersatukan oleh nasib saat Jepang mengalami masa kritis. Tanpa pernah dijelaskan kenapa fenomena alam yang aneh tengah melanda Jepang karena hujan deras terus turun nyaris tanpa henti. Hodaka sebagai seorang bocah desa yang baru datang ke Tokyo (karena kabur dari rumah) menemukan bahwa hidup di ibu kota tidak mudah. Hodaka beruntung ia bertemu dengan Suga, seorang pria yang walaupun alkoholik tetapi baik hati dan mau melindungi Hodaka. Suga adalah seorang anggota boyband BTS… eh maaf itu Suga yang salah… maksud saya Suga adalah seorang editor majalah takhayul Jepang (anggap saja seperti Majalah Liberty di Indonesia) yang menerbitkan artikel-artikel soal gosip dan takhayul yang tak jelas. Hodaka dipasrahi mengikuti berita tentang seorang gadis yang konon bisa memanggil matahari dan menghentikan hujan. Penyelidikan dari Hodaka itu membawanya bertemu dengan Hina, sang gadis matahari. Seiring tumbuhnya cinta antara Hina dan Hodaka, terbukalah kisah tragis bahwa seorang gadis pengubah cuaca seperti Hina akan mengalami nasib yang naas… apakah Hina akan terus menggunakan kekuatannya untuk mengubah cuaca demi kebahagiaan orang lain? Atau haruskah Hina egois dan memilih cintanya kepada Hodaka dengan ancaman Jepang akan kiamat?

Sama seperti Kimi no na wa, Tenki no Ko memiliki ciri khas Shinkai dari awal hingga akhir. Kisah romansa antara dua bocah yang tadinya lugu tapi perlahan-lahan mengenal apa itu cinta adalah sesuatu yang membuat penonton tersenyum menontonnya, mengingat masa muda mereka kembali. Shinkai juga menciptakan karakter-karakter yang lovable tak hanya dalam sosok Hina dan Hodaka tetapi juga supporting character di sekeliling mereka. Selain Suga yang tampak dingin tetapi sebenarnya peduli kepada Hodaka, ada juga Natsumi yang seperti kakak perempuan bagi keduanya serta Nagi, adik Hinata yang kecil-kecil tapi sudah playboy. Kalaupun ada kelemahan dalam karakter di film itu, itu terletak pada Hodaka yang sampai penghujung film tak pernah benar-benar dijelaskan kenapa dia sampai kabur dari rumahnya ke Tokyo seorang diri.

Perbandingan film ini dengan Kimi no na wa memang tak bisa dihindarkan (apalagi ketika dua karakter utama Kimi no na wa tampil cameo di sini) karena ada unsur fantasi dalam penceritaannya. Akan tetapi dibandingkan Kimi no na wa saya kok merasa keseimbangan pengisahan Shinkai sedikit buruk di sini. Dalam Kimi no na wa perajutan unsur ganti tubuh bahkan (spoiler) time travel tak pernah terasa maksa di dalam cerita. Di sisi lain dalam film ini saya kerap harus menahan rasa tak percaya ketika melihat perubahan cuaca yang begitu drastis terjadi. Untuk sederhananya: Kimi no na wa terasa seperti kisah romantis riil dengan sedikit bumbu fantasi sementara Tenki no Ko terasa seperti film romantis fantasi yang bersetting di Tokyo yang tak riil. Menambah kesamaan film ini dengan Kimi no na wa jelas adalah soundtrack film yang kembali diserahkan kepada artis Radwimps. Favorit saya adalah Grand Escape. Kalau kalian suka dengan lagu dan gaya musik di dalam Kimi no na wa saya rasa telinga pun tetap akan terpuaskan menonton film ini.

Pada akhirnya Tenki no Ko atau Weathering with You masih sebuah film yang bagus dari Makoto Shinkai. Kepiawaian Shinkai mengaduk emosi penonton masih ada sehingga tetap ada momen-momen tertentu di film di mana saya menahan air mata saya menetes. Toh apabila dibandingkan dengan Kimi no na wa, film ini masih setingkat di bawahnya. Give it a go but don’t expect too much.

Score: B

Leave a Reply