Maleficent: Mistress of Evil

Ketika Disney memberi lampu hijau proyek Maleficent 2 dengan tajuk Mistress of Evil, saya sedikit heran. Dilihat dari sisi finansial sih keputusan ini tidak salah. Film Maleficent pertama adalah salah satu karya reimagining Disney yang cukup inovatif di mana mereka tak semata-mata menjiplak kisah animasi mereka tetapi memberinya twist yang berbeda. Lagipula Maleficent pertama laris manis di box office dunia. Masalah dengan Maleficent: Mistress of Evil adalah timingnya yang kurang tepat. Film ini hadir di tahun 2019 – lebih dari lima tahun setelah film pertamanya dirilis. Lebih gawatnya lagi sebelum Mistress of Evil sudah ada tiga film Disney Live Action yang dirilis di tahun ini. Apa penonton tidak bosan?

Beberapa tahun sudah berlalu semenjak Maleficent membebaskan Aurora dari kutukan yang ia timpakan sendiri kepada sang Putri. Semenjak itu hubungan dari Aurora dan Maleficent kian lama kian dekat sampai-sampai Maleficent praktis sudah menganggap Aurora sebagai anaknya sendiri. Masalah status quo dari Maleficent-Aurora ini terjadi ketika Pangeran Phillip melamar Aurora. Maleficent yang berusaha menghormati keinginan Aurora menikahi Phillip malah terlibat konfrontasi dengan orang tua Phillip – terutama sang Ibu – yang tak menginginkan anaknya mendapatkan Aurora. Dan diam-diam di balik layar, sebuah rencana jahat untuk menghancurkan kaum Moor (kaum makhluk peri yang merupakan rakyat kerajaan yang dipimpin Maleficent) sedang dimasak matang-matang. Bisakah Maleficent, Aurora, dan Phillip menggagalkan rencana jahat ini?

Film Maleficent: Mistress of Evil menjadi sebuah sekuel yang tak berhasil menambahkan sesuatu yang berarti pada mitologi Sleeping Beauty. Adalah suatu hal yang sedih ketika saya keluar dari film ini saya bertanya-tanya dalam hati “Kenapa sih film ini harus dibuat? Apa tujuannya?“. Ada banyak hal yang membuat saya kecewa dalam film ini. Mari kita lihat apa saja:

Pertama adalah penciptaan konflik di dalam film ini. Saya merasa bahwa konflik utama film ini antara Maleficent dan Ratu Ingrith terasa terlalu dibuat-buat. Saya suka dengan akting Angelina Jolie maupun Michelle Pfeiffer tetapi skrip naskah yang kurang kuat membuat konfrontasi keduanya terasa kurang berkesan. Lebih buruknya lagi, film ini kemudian menghabiskan setengah porsi film tidak untuk menggali perseteruan antara keduanya tetapi malahan memperkenalkan elemen mitologi yang baru: ras Fey. Ras Fey yang diburu oleh manusia ini adalah ras dari Maleficent dan mereka digambarkan tengah bertikai. Satu sisi diwakili Borra yang ingin membalas dendam kepada manusia yang memburu mereka dan satu sisi adalah Conall yang ingin hidup berdampingan dengan damai.

Dan di sana masalah kedua dari Maleficent muncul, ia berusaha terlalu menggurui. Dengan adanya sosok seperti Borra, Conall, sampai Ratu Ingrith, film Maleficent ini jadi terpecah belah fokusnya. Yang lebih mengecewakan adalah Maleficent sendiri seakan bukan menjadi pengambil keputusan dalam ceritanya sendiri melainkan hanya bereaksi pada apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Ada jeda yang cukup panjang di tengah film di mana Maleficent sempat ‘menghilang’ dan membuat film terasa distracting ketika ia muncul lagi dan melanjutkan pergumulan batinnya.

Masalah ketiga dalam film ini adalah karakter Aurora sebagai Sleeping Beauty yang terlalu pasif. Apabila Maleficent terasa sebagai karakter yang pasif di film ini maka Aurora lebih parah lagi, ia tampil bak seorang yang tak punya keputusan di film ini. Film ini terasa menyia-nyiakan bakat seorang Elle Fanning. Bahkan sampai akhir film saja Aurora sebagai karakter terasa sebagai sosok yang tak punya rasa empati (Spoiler Alert: Mana mungkin setelah sebuah perang dengan begitu banyak kematian terjadi ia dan Phillip malah langsung mencanangkan untuk mau menikah, di mana rasa empatinya?).

Satu-satunya pujian yang bisa saya berikan kepada Maleficent ada pada setpiece aksi di klimaks film. Saya harus mengacungkan jempol kepada sutradara Joachim Ronning yang bisa memfilmkan adegan perang yang cukup seru dan epik antara kubu Fey dan kubu Manusia dari berbagai sudut dan memberikan gambaran mengenai di mana-mana saja lokasi perang terjadi tanpa membuat bingung penonton. Saya rasa kemampuan Ronning memfilmkan adegan perang dan memberi kejelasan spasial kepada penonton adalah hasil dari pengalamannya menggarap Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales (yang ia garap dengan tandemnya Espen Sandberg). Sayang adegan aksi yang seru saja tidak cukup untuk menyelamatkan film ini lebih dari mendapatkan sekedar penilaian ‘biasa-biasa saja’ dariku.

Maleficent: Mistress of Evil mungkin bukan film yang buruk tetapi ia sebuah film yang tak pernah memiliki fokus yang jelas. Dengan berusaha berfokus pada beberapa segmen sekaligus, semua segmen itu malahan terasa mentah. Terlepas dari efek-efek visual yang memanjakan mata, tak ada lagi yang berkesan dari film ini. Boring.

Score: C

2 comments

  1. Di luar sangat banyak kekurangannya, saya suka pesan film ini: hatred berasal dari informasi yang keliru, dan bagaimana kita, sebagai spesies, harus evolve menjadi spesies yang lebih baik. Saya pernah baca buku Yuval Noah Harari, kalau spesies manusia pada sejarahnya memang makhluk yang tidak tidak toleran. Tapi saya optimis bahwa manusia bisa evolusi menjadi spesies yang lebih baik (transhumanism). entah secara science apakah bisa dibuktikan? Tapi paling tidak, kita bisa mencba menjadi lebih baik dengan berempati.

    Untuk kekurangannya sendiri memang menjengkelkan, ya.

    > mereka mencoba menggambarkan Maleficent yang ragu akan pilihannya tentang dilema di atas, tapi tidak berasa dapat diterima oleh penonton;

    > ending pernikahan yang menggambarkan “love” yang bisa menyatukan kita semua dan mengkounter topic “hatred” yang ingin dibawakan… tapi hal ini tejadi di saat pembunuhan masal baru saja terjadi

    Sebenarnya banyak sekali poin-poin minus yang ingin gue sampaikan di film ini. Juga banyak pesan dan gagasan dalam film ini gagal memukul penonton seperti apa yang ingin disampaikan juga. Tapi pada akhirnya makna dari film ini cukup membuat gue puas ke luar bioskop. it deserves 9/10 from me. Hehe.

    • Saya juga suka sekali dengan pesan yang diberikan film ini. Bagi saya ini adalah kasus di mana pesannya bagus, penyampaiannya kurang bagus. But I’m glad you like it 😉 !

Leave a Reply