Terminator: Dark Fate

Warning terlebih dahulu buat para pembaca. Ini tidak akan menjadi review non-spoiler seperti biasanya. In fact jangan anggap ini sebagai review tetapi sebagai sebuah rant mengenai Terminator: Dark Fate. Akan ada BANYAK SPOILER untuk semua film franchise Terminator.

Kalau paragraf pembuka itu kurang jelas, let me spell it out here: I don’t like Terminator: Dark Fate.

Franchise Terminator adalah sesuatu yang sangat personal bagiku. Film pertama dalam franchise ini: The Terminator, dirilis di tahun 1984 dan menjadi salah satu film sci-fi yang paling kusukai. Konsep dari The Terminator unik dan karakter T-800 yang diperankan oleh Arnold Schwarzenegger langsung menjadi sosok ikonik dengan kata-kata one-linernya: “I’ll be back“. Banyak orang mengatakan bahwa The Matrix adalah film sci-fi yang orisinil tetapi bagi saya franchise tersebut hanya memadukan ide yang sudah ada di dalam The Terminator dan anime Ghost in the Shell dalam satu film.

Kalau The Terminator adalah salah satu film sci-fi favoritku, maka Terminator 2: Judgement Day adalah film favoritku sepanjang jaman – hanya di belakang The Dark Knight. Kendati begitupun Terminator 2: Judgement Day MASIH adalah film favoritku yang paling personal. Film ini dirilis di tahun 1991 dan aku menontonnya di saat terdiri sebuah shift yang besar di dalam hidupku. Entah bagaimana, mamaku mengajakku menonton film yang seharusnya memiliki rating R ini. Saya ingat bagaimana saya terkesima dengan T-1000 yang diperankan secara sempurna oleh Robert Patrick. T-1000 mampu menjadi sosok yang lebih mengancam dan mengerikan daripada T-800 di prekuel dikarenakan ia merupakan model baru mutakhir yang lebih mengerikan. Sebuah twist yang kali ini menjadikan sosok Arnold sebagai hero adalah kejutan yang tak disangka oleh banyak orang di saat itu, ditambah dengan bermetamoforsisnya Linda Hamilton menjadi sosok wanita badass Sarah Connor – jauh berbeda dari sosok Sarah Connor yang harus dilindungi di film pertama. Semakin menyempurnakannya adalah jalan cerita yang merupakan kontinuasi yang membuatnya sangat berbeda dari film pertamanya.

Akan tetapi di luar semua faktor tersebut apa yang membuat film ini begitu personal bagiku adalah John Connor. John disebut-sebut sebagai harapan umat manusia di masa depan dan karena itu sang Ibu Sarah sebagai single parent, secara keras mendidiknya, mempersiapkannya untuk Judgement Day yang akan tiba suatu hari nanti. John yang masih anak-anak – remaja jelas jengkel dengan kelakuan Ibunya yang ia nilai sinting. Baru ketika robot T-1000 memburunya ia sadar bahwa Ibunya bukan paranoid. Persahabatan yang tumbuh antara John dan sang pelindung, T-800, adalah highlight emosional dari film ini. Saya tidak malu untuk mengatakan bahwa saya sudah menonton film ini belasan kali dan setiap kali sampai di bagian klimaks, mata saya selalu dibuat basah akan perpisahan antara John dan T-800 – sosok yang dianggap John sebagai ‘ayah’nya.

I mean seriously, look at how perfect this dialogue is:

Sarah Connor: It’s over.
T-800: No, there is one more chip. It must be destroyed also. Here. I cannot self-terminate. You must lower me to the steel.
John Connor: No. No.
T-800: I’m sorry John, I’m sorry.
John Connor: No. It’ll be okay. Stay with us.
T-800: I have to go away.
John Connor: No, don’t do it. Please. Don’t go.
T-800: I must go away John.
John Connor: No. Wait. Wait. You don’t have to do this.
T-800: I’m sorry.
John Connor: No. Don’t do it. Don’t go.
T-800: It have to end here.
John Connor: I order you not to go. I ORDER YOU NOT TO GO. I ORDER YOU NOT TO GO.
T-800: I know now why you cry. But that is something I can never do. Goodbye.

Ditambah dengan musik klasik Terminator dari Brad Fiedel mengiringi endingnya. It’s such a perfect ending with so much heart and emotion in it. Pengorbanan T-800 bisa dibilang adalah pengorbanan seorang ayah yang membuat John Connor bisa mendapatkan kehidupan yang damai karena Judgement Day tidak akan pernah terjadi.

Kecintaanku terhadap franchise ini bukan rahasia bagi orang-orang yang terdekat denganku. Ketika Terminator 3: Rise of the Machines dirilis di tahun 2003 dulu, saya mengajak teman-teman baru saya dalam kuliah untuk menonton film ini bersama-sama. Saat Terminator: Salvation dirilis di tahun 2009 saya memaksa sahabat saya di Jakarta untuk menonton Terminator 1 – 3 terlebih dahulu supaya kita bisa menonton film keempatnya bersama-sama. Dan terakhir Terminator Genisys di tahun 2015? Saya gantian membujuk adik saya (yang saat ini sudah cukup dewasa menonton Terminator) untuk menonton semua Terminator 1 – 4 guna siap menonton film Terminator kelima itu.

Baik Rise of the Machines, Salvation, dan Genisys sayangnya tidak pernah bisa mencapai klimaks emosional seperti Judgement Day bagiku. Jangan salah, bagiku ketiga film itu masih lumayan baik karena mereka berusaha mengekspansi mitologi Terminator dengan cara yang unik. Rise of the Machines menjadi landasan bagi perang masa depan di Salvation dan Genisys berusaha mereboot serial ini dengan menciptakan sebuah alternate timeline yang berbeda (mirip seperti apa yang dilakukan oleh J.J. Abrams dengan film reboot Star Trek). Sayangnya semua film itu semakin tidak sukses di box office Amerika dan franchise Terminator mati suri setelah tahun 2015 – setelah Genisys menjadi film pertama dari franchise ini sejak The Terminator yang gagal menembus angka 100 Juta USD.

Lantas datang tahun 2017 dan ada berita bahwa hak cipta Terminator sekarang sudah kembali ke tangan James Cameron, sang sutradara kedua film pertama sekaligus pencipta franchise ini. James Cameron merasa bahwa ia ingin memulai film ini lagi dengan melupakan film ketiga, keempat, maupun kelima pernah terjadi. Ia ingin mulai dengan fresh: Terminator: Dark Fate ia sebut adalah kontinuasi langsung dari dua film pertamanya. Tidak tanggung-tanggung, ia membawa kembali Arnold Schwarzenegger dan Linda Hamilton kembali ke dalam franchise ini. Saya awalnya pesimis mengenai kesuksesan film ini karena… let’s face it: generasi The Terminator sudah berlalu. Banyak anak-anak muda yang bahkan tidak tahu franchise ini! Tapi siapa tahu kombinasi wajah lama ini bisa mengulangi ramuan sukses franchise Terminator.

Ketika saya menonton Dark Fate saya terperanjat bahwa mereka membuka film ini di 3 menit pertamanya dengan menembak dan membunuh John Connor muda.

Uh… what?

Saya langsung kecewa dengan apa yang dilakukan oleh duet James Cameron dan Tim Miller di film ini. Apa yang telah mereka lakukan? Kenapa karakter sepenting John Connor langsung dimatikan begitu saja? Apakah mereka punya tujuan untuk melakukan hal itu?

Rupanya itu dilakukan supaya karakter utama film ini bisa dialihkan pada sosok Dani Ramos, seorang gadis yang tidak tahu apapun. Seperti biasa dua Terminator dikirim dari masa depan, satu untuk melindungi Dani dan satu untuk membunuh Dani. Rev-9 adalah sebuah Terminator tipe baru yang dikirim untuk membunuh Dani. Dia adalah sosok Terminator yang canggih, sulit dihancurkan, dan lebih dari itu dia bisa membelah diri menjadi dua. Di sisi lain Grace adalah seorang tentara manusia seperti Kyle Reese yang dulu melindungi Sarah Connor. Bedanya dengan Kyle Reese, Grace memiliki update teknologi mesin di tubuhnya sehingga memungkinkan dia bergerak dengan kekuatan super – walau untuk waktu terbatas saja.

Di tengah kesulitan Grace melindungi sosok Dani seorang diri, Sarah Connor yang kini sudah sepuh turut muncul. Dari Grace Sarah baru tahu bahwa para mesin dari masa depannya tidak pernah ada. Akan tetapi karena manusia tidak pernah berhenti berbuat salah mereka tetap saja menciptakan sebuah Judgement Day yang lain. Nah, Judgement Day yang lain ini membuat mesin lagi-lagi memburu manusia. Hanya kali ini manusia tidak bersatu di balik John Connor. Di masa depan yang baru ini mereka bersatu di balik diri Dani Ramos – dan itulah yang membuatnya diburu oleh para Terminator.

Dan saya langsung malas menilai cerita film ini. Singkat saja: Dark Fate memiliki cerita Terminator yang terburuk. Rise of the Machines masih memiliki logika yang masuk akal mengenai kenapa Judgement Day masih terjadi dan kehadiran Katherine Brewster sebagai istri John Connor mengekspansi mitologi Terminator. Salvation masih saya anggap sebagai sekuel Terminator yang paling berani karena bersetting di masa depan saat perang besar-besaran antara manusia dan mesin sudah terjadi. Bahkan Genisys yang kerap ditertawakan oleh orang dan dianggap low point dari Terminator masih memperkenalkan konsep timeline alternatif. Tidak dengan Dark Fate: kematian John Connor tidak memiliki akibat apapun selain menggantikan dirinya dengan sosok Dani Ramos… dengan jalan cerita yang PERSIS SAMA. Ini sih namanya franchise Terminator dibajak oleh feminisme terselubung! Pelecehan!

Saya bahkan tidak mau menjelaskan lebih lanjut mengenai karakter Carl yang diperankan oleh Arnold Schwarzenegger di film ini. Evolusi karakternya di film ini sama sekali tidak believable dan membuat saya malas untuk rant panjang lebar akannya. Yang jelas seperti semua hal yang saya sebutkan di atas, Carl adalah anti-thesis dari mitologi Terminator yang sudah kita kenal selama ini.

Saya bukan ingin antipati kepada film ini. Tim Miller selaku sutradara film ini mampu menciptakan setpiece aksi yang seru, sebuah standar wajib dalam setiap film Terminator. Saya tidak merasa setpiece di film ini sekeren adegan perusakan highway di Terminator 3: Rise of the Machines tetapi yah, bagaimana lagi? Di jaman penuh CG seperti sekarang penggunaan efek praktikal hancur-hancuran jalan ala Terminator 3 sepertinya sudah bukan jamannya lagi. Paling tidak aplikasi efek CG di dalam film ini dilakukan dengan cukup halus dan tidak terasa seperti menonton video game.

Sosok Rev-9 adalah kelemahan lain film ini. Saya tidak bilang kalau Gabriel Luna buruk. In fact, dia sebenarnya tampil cukup mengancam sebagai seorang Terminator. Masalahnya film ini punya TIGA jagoan badass yang harus menunjukkan kemampuan mereka masing-masing: Grace, Carl, dan Sarah. Walhasil sehebat apapun Rev-9 kerap kali ia harus dipaksa ‘mengalah’ supaya karakter-karakter baik bisa menunjukkan kemampuan dan kekuatan mereka.

Akting dari Mackenzie Davis, Linda Hamilton, maupun Arnold Schwarzenegger semua prima di film ini. Saya terutama sangat suka dengan penampilan Mackenzie Davis yang bisa dibilang merupakan scene stealer di film ini. Kembalinya Linda Hamilton sebagai Sarah Connor adalah pengingat yang baik kenapa dirinya dan Sigourney Weaver adalah ikon badass heroine di dekade 1980 dan 1990an lalu. Arnold being Arnold masih menjadi legenda yang tak tergantikan walaupun saya menilai performa terbaiknya sebagai Terminator tetap ada di Terminator 1, 2, dan 5 di mana ia mendapatkan lebih banyak fokus.

Jadi siapa yang kurang prima di sini? Natalia Reyes. Artis muda ini tidak banyak pengalaman tampil di film-film Hollywood dan itu terlihat di sini. Katakan apa yang kalian mau tentang Edward Furlong setelah Terminator 2 (masalah obat bius yang membuat karirnya hancur di Hollywood) tetapi paling tidak Furlong was REALLY GREAT dalam Terminator 2: Judgement Day. Sebaliknya akting Reyes membuat saya tidak peduli apakah Dani akan hidup atau mati. Bahkan pidatonya sebagai penyatu umat manusia pun terasa setolol pidato Greta Thunberg di PBB. Chemistry-nya dengan Grace selaku pelindungnya? Tak terasa. Chemistry-nya dengan Carl? Miss juga. Hanya chemistry-nya dengan Sarah Connor alias Linda Hamilton saja yang agak klik.

Walhasil kalau harus memberi skor bagi Terminator: Dark Fate, saya harus membaginya dalam dua kategori.

Kalau kalian penonton yang tidak peduli dengan mitologi Terminator dan hanya ingin menonton film aksi yang fun, Dark Fate menyajikannya untukmu. Skornya: 7.5 , a solid action movie.

Tapi kalau kalian penonton yang mencintai mitologi Terminator sepertiku. This movie get a score of: 3.0 , karena ia sama sekali tidak menghormati sejarah franchise ini. Dark future ahead, indeed.

Leave a Reply