Ford v Ferrari

Film tentang balap mobil tidak terlalu banyak dibuat di Hollywood mengingat olahraga ini memang tak pernah sangat populer di Amerika sana. Seingat saya film bagus mengenai balap mobil terakhir yang saya tonton adalah Rush yang dibintangi oleh Chris Hemsworth dan Daniel Bruhl, film yang sangat bagus tetapi berakhir flop di Amerika sana karena kurangnya minat penonton. Hal ini sebenarnya agak mengherankan mengingat Amerika adalah negara asal dari beberapa mobil terkenal dunia seperti GM (memproduksi Chevrolet) dan Ford. Film garapan James Mangold ini adalah kisah bagaimana Ford – yang dikenal sebagai produser mobil massal – beradu dengan Ferrari – yang dikenal sebagai pencipta mobil bergengsi dan berkelas tinggi.

Ini adalah dekade 1960an. Dekade emas bagi Amerika di mana negara ini tengah mengalami masa keemasan setelah Perang Dunia II kini tinggal even dalam buku sejarah. Tetapi tak semua perusahaan mengalami euforia: penjualan Ford tengah terpuruk. Tahun demi tahun mereka seakan kehilangan sentuhannya dengan para pembeli dan para generasi Baby Boomers yang kini tumbuh dewasa (memasuki masa remaja mereka) menganggap bahwa merk Ford kurang keren dan bergengsi. Ford berusaha mengubah image mereka menjadi keren dan satu-satunya cara melakukan hal tersebut adalah memenangkan kompetisi bergengsi: Le Mans. Sekarang orang kerap menyebut Formula 1 sebagai balap mobil paling bergengsi di dunia. Yah, itu tidak salah sih, tetapi kalau kamu mencari mobil yang benar-benar tangguh di arena maka mobilmu harus bisa memenangkan Le Mans.

Kenapa begitu? Sementara balap mobil Formula 1 sudah selesai hanya dalam beberapa jam, Le Mans adalah sebuah maraton mobil dahsyat yang harus dilakukan pengemudi selama 24 jam! Ya. Satu hari penuh. Ini bukan main-main. Untuk memenangkan Le Mans sebuah tim tak hanya bisa dibekali mobil yang mumpuni tetapi juga Driver yang jago. Inilah sebabnya perusahaan Ferrari merupakan raja di Le Mans. Selama beberapa tahun beruntun tak ada satupun merk mobil lain yang dapat menantang kedigdayaan Ferrari. Ketika Ford mau mencoba bersaing, semua tertawa. Tak ada yang meragukan KUANTITAS produksi dari Ford, tetapi KUALITAS nya? Ford pun mengontak Carroll Shelby, satu-satunya pembalap asal Amerika yang pernah memenangkan Le Mans beberapa tahun silam. Akan tetapi Shelby sudah pensiun karena masalah kesehatan. Karena itu Shelby merekomendasikan sahabatnya yang tak kalah berbakat: Ken Miles untuk membalap bagi Ford. Masalahnya adalah Ken adalah sosok yang eksplosif dan kadang tak dapat diduga perilakunya. Bisakah Shelby dan Ken bahu membahu bersama Ford menantang kedigdayaan dari Ferrari di arena Le Mans ’66?

Saya sangat suka dengan film Ford v Ferrari. Film ini disyut dengan sinematografi yang cantik sekali dari Mangold. Sang sutradara sangat kreatif mengambil sudut-sudut pengambilan gambar sehingga membuat penonton terasa seperti ikut dalam balapan. Di sisi lain, Mangold tak lantas melupakan sisi manusiawi dan emosi di dalam film ini. Di balik penciptaan sebuah tim akan ada konflik internal di dalamnya dan itu juga ditunjukkan oleh Mangold di sini, coba lihat bagaimana ia mengambil close-up dalam mobil akan wajah Shelby ataupun Ken saat mereka membalap. Momen tersebut kadang ditangkap dengan kata-kata, kadang hanya dengan voiceover, tetapi impactnya sungguh terasa kuat. Yah ini tentu saja karena film ini dibintangi oleh dua bintang kelas A Hollywood: Matt Damon dan Christian Bale. Keduanya memiliki chemistry yang sangat baik di film ini dan utamanya untuk Bale, saya akan terperanjat bila ia tidak mendapatkan nominasi Oscar tahun 2020 mendatang, Bale sudah mendapatkan nominasi Aktor Terbaik untuk Golden Globe tahun 2020 saat review ini saya tulis.

Di luar dua bintang utamanya film ini juga memiliki banyak aktor pendukung apik; dua yang juga cukup mencuri perhatian adalah Jon Bernthal yang perannya di sini jauh dari sosok tough guy yang selama ini menjadi pakemnya. Saya senang melihat Bernthal tampil jauh di luar sosok Shane The Walking Dead maupun Frank Castle The Punisher yang menjadi ciri khas-nya. Aktor TV lain yang menjadi pendukung di film ini adalah Caitriona Balfe yang berakting sebagai istri dari Ken Miles. Seberapa pentingnya peranan Balfe? Saya menilai bahwa Ford v Ferrari berhasil karena dua faktor: pertama adalah faktor persahabatan (bromance) antara Shelby dan Ken, faktor yang kedua adalah chemistry pasangan yang sangat kuat antara Ken dan Mollie istrinya. Balfe total mencuri perhatian saya dalam sebuah momen yang sangat emosional dan kuat di pertengahan film.

Secara keseluruhan, Ford v Ferrari is another great movie about racing. Suka ataupun tidak dengan Le Mans (saya pribadi tidak tahu apa itu Le Mans sebelum menonton film ini) ini adalah sebuah film bermutu tinggi yang sangat saya rekomendasikan. One of this year’s best.

Score: A-

Leave a Reply