Fantasy Island

Fantasy Island adalah sebuah serial TV sukses yang tayang dari tahun 1977 hingga 1984. Berkisah mengenai sebuah drama tentang pulau misterius yang bisa mewujudkan impian orang, serial ini kemudian dibeli hak ciptanya oleh Blumhouse Pictures, sebuah studio yang terkenal sekali dengan karya horornya. Tak heran bahwa ketika sebuah reimagining disyuting dan ditayangkan, genrenya berubah menjadi horor – walaupun dengan campuran komedi di dalamnya.

Di dalam film ini lima orang yang saling tak kenal satu sama lainnya diajak ke sebuah pulau yang sama. Di dalam pulau itu sang pemilik bernama Mr. Roarke berjanji bahwa ia akan membantu mewujudkan impian mereka yang tak kesampaian. Pada awalnya kelima orang ini berbahagia dengan fantasi mereka masing-masing. Bagaimanapun tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari bahwa impian yang mereka dapatkan itu salah. Bisakah kelima orang ini meloloskan diri dari teror Pulau Fantasi ini? Dan apa rahasia sesungguhnya yang disimpan oleh Mr. Roarke yang misterius?

Fantasy Island adalah salah satu film yang memiliki tone kisah paling tidak konsisten yang saya tonton. Di satu sisi film ini penuh dengan humor-humor kocak dari banter para karakternya – terutama dua bersaudara J.D. dan Brax. Tetapi di lain adegan film ini bisa dengan cepat berubah menjadi serius dengan adegan-adegan bullying yang tidak nyaman ditonton – sampai adegan penyesalan dan kontemplasi kekosongan kehidupan. Itu dikarenakan kelima orang yang ada semua memiliki fantasi yang berbeda (empat karena J.D. dan Brax memiliki fantasi sama) sehingga sutradara Jeff Wadlow berusaha membagi spotlight kepada keempat porsi cerita (ditambah masa lalu Mr. Roarke – berarti lima!) secara merata.

Untung saja walaupun penyutradaraan dari Wadlow terasa terlalu lompat dari satu tone plot ke plot lainnya para artis di dalam film ini melakukan tugas mereka dengan baik dan tampil totalitas. Mulai dari Maggie Q, Lucy Hale, sampai Michael Pena semua tampil apik dalam peranan mereka masing-masing. Kalau ada satu karakter yang menurut saya tak cukup kuat akting sehingga plotnya kurang menohok secara emosi maka itu adalah Austin Stowell. Di lain sisi karakter yang paling mencuri saya di film ini jelas adalah Portia Doubleday yang mampu menampilkan range emosi terbesar di film ini.

Saya tidak tahu bagaimana mengkategorikan Fantasy Island. Mau menyebutnya komedi kok ya ada unsur horor dan thrillernya? Mau menyebutnya horror dan thriller tetapi ada juga unsur komedi yang mendominasi film ini. Bahkan menyebutnya drama pun tidak salah karena inti dari cerita film ini dan fantasi-fantasi yang didapatkan karakter yang ada datang dari pergumulan moralnya. Saya menyayangkan film ini yang tak lebih konsisten memilih tone-nya.

Pun begitu kalau kalian enjoy dengan film-film dari studio Blumhouse maka coba saja menontonnya. Para artis yang menarik dan jalan cerita ringan buat tontonan santai di akhir minggu. Kenapa tidak? Satu pertanyaan terakhir: How can Maggie Q still looks that hot while she’s already 40 years old?!

Score: 6

Leave a Reply