The Ride of a Lifetime: Lessons Learned from 15 Years as CEO of Walt Disney Company

Siapakah CEO Disney yang paling sukses sepanjang masa? Bagi saya pilihannya hanya dua: antara Michael Eisner yang menjabat sebagai CEO Disney dari tahun 1984 – 2005 dan Bob Iger yang menjadi penerusnya mulai dari 2005 dan baru saja mengundurkan diri bulan Februari 2020 lalu. Kenapa saya menilai keduanya adalah CEO Disney yang paling sukses?

Michael Eisner masuk Disney di saat perusahaan Disney nyaris punah. Goncang dan tak memiliki film-film apapun yang bergigi di arsenalnya, Eisner masuk dan merevolusi Disney memulai era Disney Renaissance yang sangat sukses, terutama di dekade 1990an. Deretan film mulai The Little Mermaid, Beauty and the Beast, Aladdin, sampai The Lion King menjadi bukti kesuksesan Disney di layar lebar. Tak hanya dalam dunia perfilman saja, Eisner adalah CEO pertama yang menyadari bahwa Disney memiliki back katalog yang luar biasa dan mulai merilis film-film awal Disney seperti Snow White dan Cinderella dalam format Video untuk Home Entertainment, sesuatu yang baru di era itu. Eisner juga memimpin Disney dalam mengakuisi stasiun TV ABC ke dalam korporasinya, mengadakan kerjasama dengan studio Pixar, dan tentu saja membangun beberapa Theme Park Disney seperti Disneyland Paris dan Disneyland Hong Kong.

Akan tetapi menjelang penghujung karirnya Eisner melakukan banyak blunder besar. Fokus Eisner mengakuisi stasiun TV ABC membuatnya gagal berfokus pada divisi animasi yang adalah mesin pencetak uang bagi Disney. Lebih gawatnya lagi Eisner dan Steve Jobs (CEO dari Pixar waktu itu) terus menerus berseteru sehingga membuat partnership antara Disney dan Pixar terancam pecah. Ingat rumor di awal era 2000an ketika Disney mengancam ingin membuat Toy Story 3 mereka sendiri lepas dari Pixar? Ya, itu karena Pixar juga sedang mengancam Disney mau ‘berpisah’ partnership dengan mereka. Blunder demi blunder Eisner membuatnya didepak oleh kudeta dari pemegang-pemegang saham Disney.

Bob Iger adalah kepala dari stasiun ABC saat ia diakuisi oleh Disney. Dengan kegigihannya ia bangkit dari karyawan rendahan sampai menjadi kepala stasiun ABC. Iger memainkan permainan politik korporatnya dengan baik dan sukses menjadi tangan kanan dari Michael Eisner. Saat Eisner digeser Iger harus memainkan kartunya dengan baik supaya bisa terpilih menjadi pengganti Eisner dan bukan sekedar dianggap sebagai penerus rezim yang ada. Bob Iger sukses. Tetapi sekarang tantangan terbesar Iger dimulai. Bagaimana menjaga Disney untuk tetap relevan di dekade 2000an? Apakah Disney akan selamanya dikenal ‘hanya’ sebagai studio penghasil film animasi saja? Apa strategi yang akan dipakai oleh Bob Iger untuk merevitalisasi brand Disney?

Bagi kalian yang mengikuti sepak terjang Disney selama 15 tahun terakhir (seperti saya) mungkin sudah tahu kalau Disney melakukan empat pembelian besar selama masa kepemimpinan Iger. Semua bermula dari pembelian Pixar, dilanjutkan Marvel, dan kemudian berlanjut lagi ke Lucasfilm dan ditutup dengan pembelian yang paling besar: 20th / 21st Century Fox. Tentu saja ada beberapa milestone lain yang dilakukan Disney di masa kepemimpinan Iger seperti perilisan Disney+ yang membawa perusahaan ke dunia streaming bersaing dengan Netflix, serta pembukaan theme park Disney yang paling ambisius: Disneyland Shanghai. Biografi dari Iger ini mengcover dua masa. Masa pertama adalah masa di mana Bob Iger belum menjadi CEO Disney diawali dengan karirnya sebagai seorang bawahan dan ditutup saat dia dilantik menjadi pemimpin Disney menggantikan Eisner. Masa kedua dalam buku ini adalah saat Iger sudah menjadi CEO Disney dan memandu Disney melalui masa up-and-down nya.

Saya pribadi sangat suka dengan buku-buku bisnis / biografi seperti ini. Bagi saya Bob Iger adalah CEO terbaik Disney dan Michael Eisner adalah si nomer dua. Iger jenius karena ia mampu melihat studio-studio mana saja yang bisa dia ambil untuk menjadi lahan emas bagi Disney. Ada banyak pertaruhan yang dilakukan Iger. Membeli Pixar dengan harga cukup premium, membeli Marvel di saat superhero-superhero terkenal Marvel masih di tangan studio-studio lain, sampai keberanian Iger melakukan negosiasi dengan George Lucas. Mengingat buku ini berakhir dengan kronologi yang sangat belakangan (di saat Avengers: Endgame dirilis dan 21st Century Fox sukses dibeli Disney) maka Iger sepertinya tidak mau bagi-bagi semua trik-triknya dalam melakukan negosiasi. Pun begitu ia cukup terbuka mengakui hal-hal yang jelas menjadi kontroversi di masa kepemimpinannya. Mundurnya John Lasseter dari Pixar, pertikaian antara Ike Perlmutter dan Kevin Feige, terbunuhnya seorang anak oleh buaya di Disney Orlando, sampai ketidakpuasan George Lucas dengan trilogi baru Star Wars di tangan Disney.

Singkat kata: kalau kalian mencintai dunia film dan terutama Disney, ini adalah sebuah buku yang wajib kalian baca. Banyak pelajaran yang bisa kalian petik dari salah satu sosok CEO paling sukses dalam sejarah Amerika. Asal tahu saja, harga saham Disney yang di awal kepemimpinan Iger berharga sekitar 30 USD selembarnya melonjak mencapai 120 USD selembarnya ketika Bob Iger mundur dari jabatan CEO Disney. Sebuah peningkatan 400% dalam waktu 15 tahun (sekitar 27% per tahun apabila dirata-rata). Bukan prestasi yang mudah diulang oleh penerusnya.

Score: 9

2 comments

Leave a Reply