More than This

Patrick Ness dikenal sebagai pengarang dari buku Young Adult yang tak mainstream. Ambil saja contoh karya-karyanya yang paling terkenal seperti A Monster Calls (sudah difilmkan di tahun 2016 lalu) dan trilogi Chaos Walking yang buku pertamanya sudah selesai difilmkan tetapi belum tahu kapan akan dirilis disebabkan karena wabah Corona yang menyapu bumi di tahun 2020. Nah di antara karya-karyanya itu mungkin More than This adalah karya dari Patrick Ness yang lebih tidak terkenal. Apakah itu berarti dia lebih buruk? Atau sebenarnya buku ini menyimpan kejutan bagi para pembaca yang berani mencoba membacanya.

Seth Wearing tenggelam. Novel More than This dibuka dengan perjuangan Seth berusaha kembali ke tepi pantai tanpa hasil. Badannya terus dihempaskan oleh ombak, setiap saat ia berusaha melangkah ke pantai badannya dilempar oleh ombak ke tengah lautan. Begitu terus dan terus dan terus sampai suatu saat badannya terhantam oleh karang. Seth pun tewas.

Tetapi bukannya ia pergi ke surga, neraka, atau afterlife apapun yang ia bayangkan, Seth justru tersadar di rumah lamanya di Inggris. Yang lebih membingungkan bagi Seth adalah kota masa kecilnya ini sekarang tak berpenghuni sama sekali. Seth sendiri berkeliaran ke sana-sini untuk bertahan hidup. Setiap kali malam tiba atau ia sudah lelah, Seth tidur dan pembaca diijinkan untuk mencari tahu lebih banyak mengenai kehidupan Seth sebelum ia tewas tenggelam di awal buku.

Rupanya Seth bukan tewas tenggelam karena kecelakaan. Apa yang ia lakukan itu adalah sengaja. Ia sengaja bunuh diri, berjalan ke tengah lautan dan membiarkan dirinya dihempaskan ke karang. Perjuangannya untuk bertahan hidup? Itu hanya sekedar naluri instingnya sebagai manusia saja yang melawan – tetapi sesungguhnya jiwa dari Seth sudah siap untuk mati. Pertanyaannya adalah kenapa? Kenapa Seth sampai memutuskan melakukan tindakan senekat itu? Dan di mana sebenarnya Seth berada? Kenapa setelah kematiannya ia mendadak bisa berteleportasi ke Inggris dari Amerika?

Jawaban yang diberikan dalam More than This disajikan secara pelan tapi pasti oleh Patrick Ness. Suka tidaknya kamu dengan novel ini tergantung dari apakah kamu suka atau tidak dengan misteri yang dikupas perlahan-lahan. Saya pribadi merasa bahwa novel ini bisa dibagi menjadi dua bagian yang berbeda. Entah kenapa saya merasa deja vu mengingat film Wall-E ketika membaca novel ini. Bagian yang pertama adalah bagian di mana Seth berkelana sendirian di kota masa lalunya dan berusaha bertahan hidup – sementara flashback yang ada membuka alasan kenapa Seth sampai terdorong melakukan apa yang ia lakukan di awal buku.

Lantas begitu saya sudah familiar dengan ritmenya, mendadak paruh kedua buku ini dibuka dengan sebuah plot twist yang tidak saya sangka. Dan mendadak buku yang saya anggap sebagai intropeksi masalah kejiwaan seorang anak muda yang terganggu berubah genre menjadi sesuatu ala sci-fi. Dan di sini Patrick Ness juga menunjukkan kepiawaiannya dalam menulis cerita, membangun plot dari world building yang pelan tapi pasti ia sisipkan di bagian pertamanya. Dari sana pembaca akan dibuat bertanya-tanya, apakah cerita dalam novel ini memang ‘more than this‘ alias ‘lebih dari apa yang tertulis di halaman-halamannya‘?

Saya mengapresiasi keberanian dari Patrick Ness menulis novel ini dalam dua bagian yang sangat berbeda tone-nya. Dan itu membuat More than This menjadi novel yang menarik untuk terus dibaca dari awal sampai akhir. Ia tidak sempurna karena dalam beberapa momen Ness seperti kesulitan menyeimbangkan kedua tone yang berbeda itu, terutama terlihat pada klimaks akhir buku yang terasa dipanjang-panjangkan, sekedar untuk menjembatani kedua tone cerita yang sangat berbeda. Saya pribadi juga merasa kalau ending dari novel ini terasa lemah dan tanggung bila dibandingkan dengan semua world building dan plot yang sudah dibangun. Ada kritikus buku yang mengatakan bahwa itu merupakan hal yang sepantasnya mengingat judul buku ini saja adalah ‘More than This’. Tapi ah, tak perlu seperti itu juga dong.

Secara keseluruhan kalau kalian rindu dengan sebuah novel Young Adult yang berbobot dan tidak mainstream, kenapa tidak beri More than This kesempatan? I think you will be pleasantly surprised.

Score: 7

Leave a Reply