Itaewon Class

Di tahun 2020 ini ada dua K-Drama yang mendadak naik pamor. Yang satu adalah Crash Landing on You dan yang satunya lagi adalah Itaewon Class. Ditayangkan di saluran JTBC ia menjadi salah satu serial yang paling banyak ditonton (ranking keenam, hanya di belakang serial-serial populer seperti Goblin, Reply 1988, Crash Landing on You, dan sebangsanya). Diangkat dari webtoon dari Gwang Jin, sebenarnya apakah Itaewon Class layak mendapatkan semua perhatian dan hype itu?

Serial ini sendiri berpusat pada sosok Park Saeroyi, seorang pria antisosial yang terlibat masalah saat membela teman sekelasnya yang dibully oleh Jang Geun-soo. Jang Geun-soo adalah putra mahkota dari perusahaan restoran raksasa bernama Jangga Co, juga merupakan tempat dari ayah Park Saeroyi bekerja. Gara-gara Saeroyi menghajar Geun-soo dan tak mau minta maaf, terpaksa sang ayah turut dipecat oleh Jang Dae-hee, ayah dari Geun-soo. Baru saja konflik ini mereda nasib kembali membuat Saeroyi dan grup Jangga bertemu. Geun-soo yang menyetir dalam keadaan mabuk menabrak ayah Saeroyi dan membunuhnya. Tak terima bahwa kejahatan ini ditutup-tutupi, Saeroyi kemudian nekat menghajar Geun-soo. Pada dasarnya uang dan pengaruh yang berbicara, Saeroyi justru dimasukkan ke dalam penjara. Di dalam penjara Saeroyi pun mulai merancang rencana dia untuk balas dendam kepada grup Jangga yang jahat… itu adalah dengan cara membuat restoran kecil sekeluarnya dia dari penjara. Mimpi Saeroyi adalah menjadikan restoran kecilnya menjadi raksasa mengalahkan korporasi Jangga!

Saya mengakui bahwa saya termasuk seorang newbie menonton serial Korea. Terlepas dari Itaewon Class hanya ada tiga serial Korea lain yang pernah saya tonton: Reply 1988 (sangat suka!), Descendants of the Sun (suka!), dan Kingdom (sangat suka – tapi ini tidak bisa dibilang serial drama). Persamaan dari ketiga serial tersebut adalah semuanya termasuk serial yang lumayan hype. Oleh karena itu saya jadi kecewa saat harus menonton Itaewon Class yang melempem hampir di segala aspek. Kok bisa pendapat saya begitu berbeda dengan pendapat mayoritas kebanyakan orang? Silahkan baca lebih lanjut.

Satu hal yang tidak saya sukai dari Itaewon Class adalah bagaimana setiap karakternya dibuat begitu unlikable. Sungguh di luar karakter Saeroyi (yang bagi saya juga biasa-biasa saja) saya tidak suka dengan setiap karakter di dalam Itaewon Class. Jo Yi-seo dan Oh Soo-ah, dua gadis yang memperebutkan cinta Saeroyi sama-sama culas, licik, dan tidak simpatik. Karakter-karakter dari korporasi Jangga semuanya digambarkan sebagai perusahaan arogan yang menggunakan kekuatan mereka untuk mengontrol segalanya – tapi tidak dengan cara yang realistis. Bagaimana dengan anak buah restoran Saeroyi seperti para waiter dan koki-nya? Mereka tidak mendapatkan fokus banyak sehingga kerap kali perkembangan karakter mereka terjadi begitu saja, makin membuat cerita menjadi tidak believable.

Saya juga paham bahwa Itaewon Class adalah sebuah kisah drama sehingga tak mungkin mengharapkan sesuatu yang riil di dalamnya – tetapi tingkat fiktif dari serial ini mendekati kadar sinetron dengan segala ketidak-masukakalannya! Ambil contoh valuasi dari perusahaan Jangga. Untuk perusahaan se’kecil’ Jangga yang hanya memiliki beberapa chain restoran saja disebutkan bahwa valuasi pasar mereka adalah 2 Trilyun Rupiah. Saya sampai geleng-geleng tidak percaya, apakah para penulis skenario drama ini tidak melakukan riset sama sekali dalam menentukan valuasi harga saham? Ada lagi contoh di mana koki Saeroyi yang awalnya tidak bisa memasak dengan becus mendadak saja dalam waktu yang relatif singkat (hanya beberapa minggu) bisa menjadi juara masak seantero Korea Selatan. Apakah ia latihan? Saya tidak tahu, karena tidak ditunjukkan sama sekali selain dalam satu momen singkat di episode-episode sebelumnya.

Kelakuan dari perusahaan Jangga pun bisa dibilang tidak masuk akal sebagai sebuah korporasi besar. Saya tidak pernah tahu ada korporasi besar yang sengaja cari musuh dengan restoran kecil hanya karena tidak terima restoran kecil tersebut pernah bermasalah dengannya. Segala kewibawaan CEO Jang Dae-hee langsung lenyap ketika ia melakukan hal tolol tersebut. Begitu banyaknya blunder demi blunder yang dilakukan oleh sang CEO dan grup Jangga secara keseluruhan yang membuat saya makin geleng-geleng kepala saat menonton serial ini. Kalau memang CEO Chairman Jang orang sebodoh ini, jangankan melawan Saeroyi, dia tidak akan bisa membuat Jangga jadi besar! Sungguh jauh apabila dibandingkan dengan serial-serial bisnis berkelas dari Amerika macam b. Heck, bahkan serial bisnis ala Suits saja masih lebih apik daripada Itaewon Class dalam eksekusinya!

Jadi apakah Itaewon Class tidak punya sisi positif sama sekali? Well, ada satu poin yang saya nilai merupakan hal positif dari serial ini. Keberanian mereka untuk menyebutkan isu-isu sensitif di Korsel seperti rasisme dan homophobia, bagaimana cara mereka melakukannya terbilang sangat ‘kasar’ dan ‘to-the-point’ (baca: tidak elegan dan terkesan menceramahi) tetapi paling tidak saya mengacungi jempol bahwa Itaewon Class berani mengangkat topik yang sepertinya masih tabu dilakukan di serial-serial Korea lainnya. Untuk deretan lagu soundtracknya pun ada beberapa lagu yang lumayan asik didengarkan di telinga setelah diputar berulang kali.

Yah, sayangnya terlepas dari beberapa poin positif tersebut sulit mencari nilai positif lain dari Itaewon Class. Kualitas akting yang campur aduk dari di atas rata-rata (Kim Da-mi dan Yoo Jae-myung), passable (Park Seo-jun), sampai seperti baru belajar akting (Chris Lyon)… sinematografi yang payah… sampai jalan cerita yang laughable membuat serial ini tak bisa saya rekomendasikan kecuali bagi kalian-kalian yang die-hard penonton K-Drama.

Score: 5

Leave a Reply