Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Saya termasuk jarang menonton film Indonesia sebab kualitasnya tergolong hit and miss. Bahkan ada film-film yang dipuji oleh khayalak umum di mata saya belum tentu saya nilai sebagai film yang bagus. Ambil contoh film Mama Cake-nya Anggy Umbara atau Gundala-nya Joko Anwar. Keduanya banyak dipuji-puji orang sebagai film yang bagus tetapi ketika saya menontonnya? Jatuhnya flat. Sebaliknya ada kalanya film yang memiliki hype tinggi memang bagus: Cek Toko Sebelah dan Mendadak Dangdut adalah dua film yang saya ingat melebihi ekspektasi tinggi yang saya bawa saat menontonnya di bioskop. Lantas bagaimana dengan Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini? Film ini juga mendapatkan hype yang lumayan tinggi dari penonton lokal Indonesia dan bahkan bisa meraup lebih dari dua juta orang penonton. Diangkat dari buku laris karangan Marchella FP dan disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko, bagaimana sih ceritanya?

NKCTHI adalah sebuah drama keluarga Narendra: tentang sepasang suami-istri yang memiliki tiga orang anak: Angkasa, Awan, dan Aurora. Sekilas sepertinya tidak ada yang salah dengan keluarga ini. Narendra sebagai ayah adalah pekerja keras yang membiayai sekolah dan kehidupan anak-anaknya sehingga mereka tidak berkekurangan apapun. Sementara ketiga anaknya pun cukup sukses dengan karir di bidang mereka masing-masing. Sang Ibu hidup tenang mengurus rumah tangga. Tetapi pelan-pelan bisa dilihat bahwa ada rahasia yang disimpan keluarga ini yang menyakiti mereka semua.

Hal pertama yang jelas terlihat adalah sosok Awan yang selalu dilindungi secara overprotektif oleh sang ayah. Maklum sih, dia anak bungsu. Tetapi perhatian berlebih yang diberikan sang ayah kepada Awan membuat sang bungsu merasa tertekan dan tidak bebas. Lebih parahnya lagi kehidupan pribadi dari Angkasa si kakak sulung menjadi terkekang dikarenakan sang Ayah terus menuntut dia mengorbankan kehidupan dan waktu untuk menjaga Awan. Angkasa adalah kakak yang baik dan sayang kepada Awan tetapi pengorbanan yang terus menerus ia lakukan membuat hubungannya dengan sang pacar menjadi renggang. Dan Aurora? Sebagai putri tengah (anak kedua) Aurora diam-diam menyimpan benci kepada orang tuanya yang menilai bahwa ia seperti dianaktirikan oleh keluarganya sendiri.

Ketika semua masalah itu kemudian meledak, siapa yang kemudian benar dan siapa yang salah?

Hal yang paling saya sukai dari NKCTHI ini terletak pada jalan ceritanya yang cukup relatable, terutama untuk masyarakat di kota-kota besar Jawa. Anak-anak di Jakarta, Bandung, Surabaya, sampai Semarang dan Jogjakarta sekalipun saya rasa pasti bisa mengerti apa yang ada di benak Angkasa, Awan, dan Aurora. Bahkan kekasih saya yang adalah anak tengah mengatakan bisa memahami perasaan dari Aurora di film itu – derita anak tengah! Tak hanya itu saya juga punya seorang sahabat baik yang hidupnya seperti Awan: apa-apa selalu dilarang oleh ayahnya yang super protektif, sampai ia tak punya kebebasan apapun lagi. Dialog-dialog di film ini pun mengalir dengan lancar tanpa terkesan terlalu filmis atau dibuat-buat.

Sebagai sutradara Angga Dwimas Sasongko menunjukkan kematangannya sebagai salah satu sutradara gaek perfilman Indonesia saat ini. Sudut-sudut pengambilan gambar serta sinematografi film ini dengan cantik mampu mengambil sudut-sudut kota Jakarta mulai dari yang kaya gemerlap lampu malam sampai senja yang romantis. This movie is beautiful. Jangan lupa juga dengan penempatan lagu-lagu Indonesia yang mengalun pas menghidupkan scene-scene di film ini. Sekali lagi saya pribadi bukan pecinta lagu lokal Indonesia – but for those who love it – dijamin bakalan memburu album OST (atau menyimpan playlist-nya di Spotify) film ini kelar menonton.

Toh MVP utama dari film ini terletak pada akting dari kelima pemeran utamanya: Rachel Amanda, Rio Dewanto, Sheila Dara Aisha, Donny Damara, sampai Susan Bachtiar semua membawa akting kelas A mereka di film ini. Dari antara kelimanya harus diakui penampilan Rio Dewanto yang paling membuat saya terperangah – mungkin juga karena intensitas performa Rio dan sosoknya yang paling relatable bagi saya sebagai anak tertua. Di lain sisi Susan Bachtiar bisa dibilang penampilannya paling lemah di antara kelimanya – bukan karena ia buruk tetapi karena ia tak diberi kesempatan terlalu banyak untuk menunjukkan skill akting-nya. Tanpa spoiler apapun: adu akting mereka di ruang tamu adalah salah satu scene film Indonesia terbaik yang saya tonton selama beberapa tahun terakhir.

Pada akhirnya NKCTHI lives up to its hype. Bukan, ia bukan film Indonesia terbaik yang pernah saya tonton selama ini. Ia juga memiliki beberapa kelemahan dan penyelesaian yang lemah (terlalu dimudahkan). Tetapi terlepas dari beberapa kekurangan yang ada, ia pantas menerima segenap pujian-pujian yang didapat. Kalian tahu seri drama Korea Reply 1988? Well, this is Indonesia’s Reply 1988 – minus elemen drama percintaannya.

Score: 8

One comment

Leave a Reply