Birds of Prey (and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn)

Sebelum saya membicarakan lebih lanjut mengenai film ini saya ingin bilang bahwa siapapun yang memberi lampu hijau untuk judul film ini perlu dipecat. Dan dilarang masuk ke dunia film lagi. Untuk selama-lamanya. Karena ini adalah salah satu judul paling tolol dan tidak masuk akal yang pernah saya tonton dalam sebuah film. Seriously, ketika saya harus membuka Wikipedia hanya untuk memastikan saya menulis judul lengkap film ini dengan benar I consider it a total failure.

Ketika Suicide Squad dirilis di tahun 2016 dulu penonton mainstream jadi dibuat kenal dengan karakter Harley Quinn yang tampil sebagai breakout star dari film itu. Mengejutkan mengingat nama Margot Robbie pada saat itu belum setenar sekarang. Di luar dugaan banyak orang justru bukan Will Smith atau Jared Leto-lah bagian yang paling diingat orang di dalam film tersebut. Tak butuh waktu lama bagi orang banyak untuk mulai menshipping karakter Joker dan Harley Quinn – walaupun hubungan mereka sebenarnya sangat aneh dan abusif. Saya bukan pecinta gerakan feminisme tapi bahkan saya pun memahami kalau hubungan dari Joker dan Harley itu tidak sehat. Walaupun film Suicide Squad menuai banyak dollar di box office, film tersebut dianggap gagal total secara kualitas sehingga sekuelnya dipending sementara (sampai tahun lalu James Gunn menjadi sutradara barunya). Warner Bros tak kehilangan akal, menyadari bahwa Harley Quinn adalah karakter terbaik dari film tersebut mereka membuat spin-off yang berpusat pada karakter Harley Quinn. Namanya? Birds of Prey dan seterusnya, saya malas mengetik judul lengkapnya.

Cerita soal Birds of Prey ini melanjutkan petualangan Harley setelah Suicide Squad. Di dalam film ini Harley entah bagaimana sudah putus dengan sang Joker dan memulai karirnya sendiri di kota Gotham. Masalahnya, begitu semua orang kriminal tahu bahwa Harley tidak lagi dilindungi oleh Joker maka mereka pun mengincarnya. Dari antara belasan / puluhan orang yang mengincarnya sosok paling mematikan yang mengincar Harley adalah Roman Sionis yang dikenal para pembaca komik sebagai Black Mask, sosok yang bisa dianggap Godfather kriminal kota Gotham hanya di belakang Joker saja. Nah, Harley terpaksa terbirit-birit melarikan diri dan dalam pelariannya membuat dirinya harus bertemu dengan seorang pencuri kecil Cassandra Cain – yang juga dikejar oleh Roman karena alasan-alasan tertentu. Bagaimana nasib keduanya? Bisakah mereka melarikan diri dari Roman? Dan apa hubungannya dengan Birds of Prey?

Fakta bahwa saya bisa meringkas cerita film ini tanpa memasukkan sosok Huntress, Black Canary, maupun Renee Montoya membuktikan bagaimana tidak pentingnya mereka dalam cerita ini. Sebenarnya judul film ini lebih tepat disebut: Harley Quinn and Birds of Prey sebab ketiga sosok itu tampil lebih sebagai tempelan cerita Harley. Hal itu bisa positif dan bisa negatif tergantung dari ekspektasimu akan film ini. Kalau kalian masuk sebagai fans berat Harley then good for you. Sebaliknya kalau kalian berharap banyak akan penampilan perdana Birds of Prey di layar lebar… umm… kalian bakalan kecewa berat. Saya juga tidak usah banyak bicara soal perubahan dalam film ini: film ini praktis melakukan blackwashing pada dua karakter di dalamnya: Black Canary dan Renee Montoya dan di era woke / political equality ini saya tidak bisa komentar apapun lagi.

Lantas bagaimana dengan filmnya sendiri? Saya hanya bisa bilang bahwa ini adalah film yang… sederhana tetapi entah kenapa berusaha dibuat sangat ribet. Jalan cerita dalam film ini ditarik maju mundur tidak karu-karuan karena dituturkan oleh Harley. Saya paham kalau Harley adalah seorang gadis yang sedikit sinting tetapi perlukah menuturkan film ini dengan cara sedemikian rupa. Walaupun ia tidak membingungkan saya kok merasa cara penuturan film dilakukan seperti ini untuk menyembunyikan fakta bahwa ini adalah sebuah film yang super dangkal dan tidak penting. Setali tiga uang dengan akting-aktingnya: Margot is a great actress sebagai Harley dan ia bisa bersinar dalam ensembel; tapi menempatkannya sebagai bintang utama? Hm… mendadak daya tariknya menurun banyak dan ia malah terkesan menyebalkan. Saya tidak bisa banyak ngomong untuk akting karakter-karakter lainnya sebab mereka tampil sangat minim di film ini (this movie is a waste of Mary Elizabeth-Winstead talent!). Satu-satunya yang tampil trengginas mengimbangi semangat Robbie di sini adalah Ewan McGregor yang membawa kesan sintingnya tersendiri sebagai Black Mask.

Bicara soal adegan-adegan aksi di dalam film ini, konon koreografi dari trilogi John Wick dibawa untuk merevisi beberapa adegan aksi di sini. Harus diakui ada beberapa segmen di film ini yang terlihat stylish. Toh pada akhirnya saya tidak merasa ada sekuens apapun yang memorable di sini. Bahkan pertarungan di pertengahan film dan klimaks pun terasa masih dua level di bawah adegan aksi di film John Wick 2 dan 3, sungguh disayangkan karena penyutradaraan Cathy Yan dengan efek slow-mo di beberapa bagian serta long cut di penghujung film sudah bagus… secara teknis.

Jadi bagaimana saya harus menilai film ini? Yah… solidly boring. Dia tidak jelek, dia juga tidak bagus. Ini film yang terlupakan. Sudah ya Warner Bros, daripada membuat berbagai macam sekuel dan spin-off yang tidak jelas macam ini lebih baik berfokus dengan film yang memiliki tujuan yang jelas. Joker 2 dan Aquaman 2, mungkin?

Score: 5

Leave a Reply